Standart Operasional Procedure Memasang Kontruksi Tangga Bata

MEMASANG KONSTRUKSI

TANGGA BATA

  1. Pengertian dan Penggunaan Tangga

Konstruksi tangga dari bangunan gedung adalah bagian dari

bangunan yang berfungsi sebagai alat penghubung dari tingkatan-

tingkatan lantai bangunan gedung tersebut. Tingkatan lantai yang perlu

dihubungkan antara lain : (1) dari tanah ke lantai dasar (ground floor),

(2) dari lantai dasar ke lantai pertama (first floor) dan dari lantai pertama

ke lantai kedua (second floor), dari lantai kedua ke lantai ketiga (third floor)

dan seterusnya dan (3) dari tanah/lantai dasar ke lantai di bawah tanah

(basement).

Konstruksi tangga dapat dibuat dari bahan-bahan kayu; pasangan

batu (batu kali-batu merah); beton (bertulang atau tidak bertulang); besi

atau baja. Sedangkan letak tangga dalam suatu bangunan gedung

tergantung dari jenis/macam dari bangunan tersebut, yaitu bangunan

perumahan atau bangunan umum. Bangunan umum adalah bangunan

yang banyak dikunjungi oleh umum antara lain gedung kantor; gedung

pertunjukan; gedung pasar termasuk “super market”; gedung pertokoan

termasuk pusat-pusat pertokoan (shoping centre-department store);

gedung hotel; gedung lapangan terbang/bandar udara (air-port) dan

pelabuhan (harbour).

Konstruksi tangga harus memenuhi dua syarat; (1) mudah

dipergunakan dan (2) mudah dilihat. Mudah dipergunakan terutama

berhubungan dengan kemiringan dari tangga. Makin datar dari suatu

tangga makin mudah dipergunakan sedangkan makin curam makin sulit

dipergunakan. Penentuan kemiringan tangga atau sudut kemiringan

tangga pada umumnya tergantung untuk keperluan apa tangga tersebut

dibuat. Sebagai pedoman dapat diambil ketentuan sebagai berikut :

1. Untuk tangga mobil masuk garasi dapat diambil sudut kemiringan

maksimum 12 ½0atau 1 : 8.

2. Untuk tangga luar (di luar bangunan) dapat diambil sudut kemiringan 0

atau 1 : 5.

3. Untuk tangga perumahan dan bangunan umum agar mudah

dipergunakan dapat diambil sudut kemiringan 30º atau 350

4. Tangga dengan sudut kemiringan 410, disebut tangga curam.

5. Tangga untuk “basement” dan loteng dapat diambil dengan sudut

kemiringan 450

.

6. Tangga untuk menera, misalnya menara air, menara listrik dapat

diambil lebih curam, misalnya 750– 900

Mudah dilihat terutama berhubungan dengan dengan letak dalam suatu

bangunan agar dengan mudah dilihat orang. Syarat ini penting sekali

terutama untuk bangunan-bangunan umum, sedang untuk bangunan

perumahan tidak begitu perlu karena yang menggunakan tangga adalah

orang-orang tertentu yaitu dari kalangan keluarga sendiri. Pada bangunan

besar seperti gedung-gedung kantor yang besar yang pada umumnya

mempunyai pegawai banyak, perlu diadakan tangga khusus untuk

melayani para pegawai tersebut dan dinamakan tangga dinas. Tangga

dinas ini seperti halnya tangga untuk perumahan biasa, tidak perlu

memenuhi syarat mudah dilihat. Juga tangga untuk gudang dan ruangan

di bawah tanah (basement).

Pada umumnya tanggatangga ini diletakkan dalam ruangan

tersendiri yang disebut ruang tangga. Ruang tangga ini harus

mendapatkan penerangan yang cukup, untuk itu sebaiknya ditempatkan

pada bagian gedung yang berbatasan dengan luar dan diberi jendela

biasa atau jendela atas dari kaca sehingga sinar dari luar dapat langsung

memberi penerangan dalam ruang tangga. Untuk bangunan yang terdiri

dari beberapa lantai (bangunan bertingkat) agar mudah pelaksanaan dari

segi konstruksi, sebaiknya tanggatangga diletakkan dalam ruangan-

ruangan yang satu di atas yang lain dalam arah satu garis tegak dari

bawah ke atas.


Selain menggunakan tangga, untuk keperluan hubungan antara

ruangan-ruangan pada tingkatan-tingkatan lantai yang berlainan terutama

yang bertingkat banyak, digunakan pula lift. Lift ini bekerja secara masinal

(memakai mesin listrik). Penggunaan lift relatif mahal, baik harga lift dan

biaya pemasangannya maupun biaya pemeliharaannya, maka pada

umumnya hanya digunakan untuk bangunan-bangunan yang minimum

bertingkat tiga atau empat lantai. Walaupun telah menggunakan lift,

pembuatan tangga masih tetap diperlukan dengan maksud : orang dapat

memilih di antara dua macam alat penghubung ini (tangga atau lift) dan

tangga tetap diperlukan dalam keadaan darurat, misalnya lift macet

(rusak). Untuk bangunan-bangunan yang banyak sekali dikunjungi orang

misalnya pertokoan digunakan pula tangga berjalan “escalator”. Tangga

ini juga bekerja secara masinal dengan tenaga listrik. Untuk keperluan

keamanan, terutama untuk bangunan-bangunan yang bertingkat banyak

perlu diadakan tangga untuk mengantisipasi bahaya kebakaran/tangga

darurat. Tangga ini umumnya berbentuk sederhana dibuat dari besi dan

diletakkan di luar menempel pada gedung.

Konstruksi pasangan tangga pada batas antara permulaan tangga

dan lantai perlu diberi ruang antara. Fungsi ruang antara ini untuk

memberi kesempatan kemungkinan tumbukan antara orang yang akan

naik tangga dari ruang lain dengan orang yang turun dari tangga dar

lantai atas.

B. Jenis Tangga

Pasangan konstruksi tangga dibagi menjadi empat jenis pokok yaitu

(1) tangga lurus,

(2) tangga miring,

(3) tangga berporos dan

(4) tangga lengkung.

Keempat jenis tangga ini dapat diadakan gabungan (kombinasi)

yang masing-masing akan membentuk jenis tangga baru.

Tangga lurus ganda terdiri dari tangga lurus yang dihubungkan

dengan bordes/”landing” (tempat pemberhentian). Bordes ini

dipergunakan apabila perbedaan lantai yang satu dengan yang lain agak

besar dan pada umumnya bordes diletakkan di tengah-tengah atau tinggi

bordes antara 2,00-2,50 m dari bawah lantai. Jika perbedaan tinggi lantai

besar sekali maka dapat digunakan dua bordes atau lebih.

Tangga melengkung dapat diletakkan pada (1) tembok lurus dan

(2) tembok melengkung.

Gambar 8. Konstruksi Tangga Melengkung.

Pada umumnya perencanaan suatu tangga selain tergantung pada

jenis bangunan (perumahan atau bangunan umum), juga tergantung pada

ruangan-ruangan yang akan diberi tangga dan luas ruangan yang tersedia

untuk tangga. Untuk bangunan-bangunan umum yang biasanya tersedia

ruangan-ruangan yang cukup luas, sedapat mungkin digunakan tangga

lurus dengan atau tanpa bordes. Keuntungan dari tangga lurus adalah

selain mudah dalam pelaksanaan pembuatannya juga mudah

dipergunakan/dilalui dan ekonomis.

Untuk tangga dinas atau tangga perumahan tidak perlu

menggunakan tangga lurus, tetapi tergantung pada luas ruangan yang

tersedia dan yang ekonomis walaupun agak sukar dalam pelaksanaan

pembangunannya, misalnya dibuat konstruksi 2/4 atau ¾ putaran.

Berdasarkan letak tangga dalam suatu ruangan dapat dibedakan

tangga terbuka (open stairs) dan tangga tertutup (closed stairs). Tangga

terbuka adalah tangga yang terbuka untuk suatu ruangan atau hall pada

suatu sisi (kadang-kadang terbuka pada kedua sisinya). Tangga tertutup

adalah tangga yang tertutup pada kedua sisinya oleh dinding penyekat

atau tembok.

C. Ukuran Tangga dan Bagian-Bagian Tangga

Mengingat bangunan konstruksi tangga pada suatu bangunan

gedung selain tergantung dari jenis bangunan juga tergantung pada

macam ruangan yang dihubungkan oleh tangga tersebut dari tingkatan

yang berlainan, maka perlu ada ketentuan ukuran lebar tangga dan

bagian-bagian tangga.

1. Ukuran Tangga.

Lebar tangga untuk perumahan biasanya diambil 90 cm (80-100 cm).

Sedang lebar tangga untuk bangunan umum pada dasarnya

tergantung pada berapa/jumlah orang yang secara bersama-sama

dapat menggunakan tangga tersebut yaitu : untuk 1 orang = 110 cm,

untuk 2 orang = 130 cm dan untuk 3 orang = 190 cm. Untuk ruangan-

ruangan yang kurang/tidak banyak dilalui orang dapat diambil ukuran

lebar tangga : 60-70 cm, misalnya untuk loteng = 70 cm,

gudang/ruangan di bawah tanah = 60 cm.

2. Bagian-bagian Tangga.

Konstruksi tangga yang sederhana berupa tangga terbuka dan pada

umumnya digunakan di luar bangunan. Tangga terbuka ini terdiri :

bidang-bidang injakan (tread) dan bidang-bidang penutup (string).

Jika tangga mempunyai ketinggian misalnya 2,00 m, perlu diberi

sandaran. Tangga yang biasa digunakan pada bangunan-bangunan

umum adalah tangga tertutup terdiri dari :

1. Bidang injakan dengan ukuran tebal 2,5-3 cm.

2. Bidang sandungan dengan ukuran tebal 1,5-2 cm.

3. Bidang penutup dengan ukuran tebal 3,5-5 cm.

Gambar 11. Hubungan antara Bidang Injakan, Papan Sandungan dan

Papan Penutup.

Bidang injakan dan bidang sandungan disebut anak tangga. Bidang

injakan dikeluarkan/dilebihkan sedikit (3,5-4 cm) dari bidang sandungan

dan disebut “wel” atau “nosing”/hidung. Bidang injakan disebut “tread”,

bidang sandungan “riser” dan bidang penutup “strings”.

D. Perhitungan Tangga

Jarak antara bidang-bidang atas bidang injakan yang satu dengan

yang lain disebut “optrade”, jarak tegak “rise” (O). Sedangkan jarak antara

bidang-bidang muka bidang sandungan yang satu dengan yang lain

disebut “antrade”, jarak datar “run” (A).

Gambar 12. Hubungan antara Optrade dan Antrade.

Hubungan antara “Optrade” dan “Antrade” ditetapkan dalam bentuk rumus

(2 x O) + A = 61 – 65

Keterangan dari rumus di atas adalah bahwa satu langkah orang berkisar

antara 61-65 cm, untuk ukuran Indonesia dapat diambil 61 cm. Untuk

mengangkat kaki diperlukan kekuatan dua kali dari pada memajukan kaki.

Mengenai besar sudut kemiringan tangga dilanbangkan ( ). Jika diambil

sudut kemiringan ( ) = 35

0

= 0,7. Jadi :

Tg ( ) = O/A = 0,7 atau O = 0,7 A.

bila disubtitusikan dalam rumus didapat :

(2 x O) + A

= 61 –65

(2 x 0,7 A) + A

= 61 –65

2,4 A = 61 –65

A = (61 –65) : 2,4

Maka besar A dihitung dengan pembulatan.

E. Konstruksi Tangga Pasangan Batu Bata

Konstruksi tangga biasanya dibedakan menjadi (1) konstruksi

tangga dari kayu, (2) konstruksi tangga dari batu, (3) konstruksi tangga

dari beton bertulang dan (4) konstruksi tangga dari besi. Pada modul ini

secara khusus dibahas mengenai tangga yang terbuat dari batu. Tangga

dari batu lebih berat dari tangga kayu, sehingga diperlukan fondasi yang

lebih kuat. Keuntungannya adalah : (1) memiliki daya tahan lebih besar

terhadap pengaruh cuaca, (2) memiliki daya tahan terhadap penyusutan

dan bahaya kebakaran, (3) memiliki bentuk yang monumental. Sedangkan

kekurangan dari tangga batu ialah : (1) bahan yang berat sehingga perlu

penyokong yang kuat, (2) ikatan pasangan antara batu mempunyai

kekuatan tarik yang kecil, sehingga perlu hati-hati dalam memasangnya,

diusahakan sekecil mungkin menerima gaya tarik. Pada umumnya

konstruksi tangga dari batu digunakan untuk : (1) tangga luar yang

menghubungkan tanah dengan lantai dasar bangunan, terutama untuk

bangunan tempat tinggal, (2) tangga menuju “basement”, (3) tangga untuk

bengkel kerja dan gudang dan (4) tangga untuk bangunan umum yang

lain.

Konstruksi tangga pasangan batu bata sering disebut konstruksi

angga dari batu buatan. Konstruksi tangga semacam ini sedapat mungkin

dibuat dengan memperhatikan ukuran-ukuran dari batu bata, untuk

disesuaikan dengan konstruksinya. Untuk tangga dari batu bata yang tidak

terlalu tinggi, maka tangga tersebut dapat dijadikan satu dengan

fondasinya. Demikian pula untuk tangga yang seluruhnya dari batu bata,

perletakan tangga dapat ditempatkan di atas lengkung dari batu bata.

Cetakan pembuat lengkung dapat diambil dari tanah. Bidang injakan dan

penutup dari tangga batu bata dapat dibuat atau ditutup dengan teraso.

Tangga dari batu bata dapat juga diberi hiasan (“profileering”), perlu

diperhatikan bahwa tangga dari batu bata agar diusahakan jangan sampai

ada sudut-sudut yang runcing, karena mudah patah.

MEMASANG KONSTRUKSI TANGGA BATU BATA DI ATAS

TUMPUAN LANGSUNG (TANAH)

Pasangan konstruksi tangga batu bata ini digunakan biasanya pada

tangga di depan pintu di luar ruangan atau jenis-jenis pekerjaan yang

sejenis. Sebelum pasangan tangga dilaksanakan yang perlu mendapat

perhatian adalah tingkat kepadatan tanah yang menjadi tumpuan di

bawahnya. Jika kepadatan tanah kurang maka dikhawatirkan dalam waktu

tertentu pasangan tangga diatasnya dapat mengalami retak-retak atau

bahkan pecah. Hal ini dikerenakan proses pemadatan tanah sedang

berlangsung, sehingga tanah yang menunpu pasangan tangga diatasnya

tidak ada, sedangkan kelemahan utama pada pasangan batu bata adalah

tidak kuat menahan gaya tarik. Oleh karena itu sebelum pasangan tangga

batu bata dipasang tanah perlu dipadatkan. Proses pemadatan dapat

dilakukan dengan menumbuk tanah lapis demi lapis dengan alat

penumbuk disertai dengan disiram air, sehingga didapatkan tingkat

kepadatan yang cukup.

a. Cetok

b. Meteran/rol meter

c. Benang dan line bobbinss.

d. Penyiku.

e. Palu/martil ½ kg.

f. Blebes pelurus

g. Cangkul/sekop.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: