Rekayasa Nilai-JOB PLANT

Tugas Rekayasa Nilai

Trinela FES (05 11 0008)

Eko Bagus Sampurno (05 11 0004)

“JOB PLANT”

DALAM REKAYASA NILAI Rekayasa nilai adalah suatu metode untuk mengatasi penggunaan biaya yang tidak diperlukan. Suatu teknik yang telah diuji dapat dicari dengan pendekatan sistematik yaitu keseimbangan terbaik antara performansi dan biaya. Pendekatan sistematik pada rekayasa nilai disebut dengan Rencana Kerja (Job Plan). Rencana kerja dari rekayasa nilai merupakan kerangka dimana teknik-teknik saling terkait satus ama lain. Keterkaitan ini dapat dikelompokan dalam beberapa tahap, dimana apada masing-masing tahap dapat diterapkan teknik-teknik yang sesuai dengan permasalahan yang dihadapi. Agar proses perencanaan rekayasa nilai lebih efisien maka suatu tahap dapat diulangi beberapa kali samapai didapatkan hasil yang diinginkan. Pada dasarnya dari beberapa rencana kerja yang ada dalam pendektan dapat dikatakan hampir sama. Prosedur yang umum diapakai adalah standar rencana kerja 5 tahap yang terdiri dari : Tahap informaasi (information phase) Tahap kreatif (creative ohase) Tahap penilaian / analisis (judgement phase) Tahap pengembangan (development phase) Tahap presentas ( recommendation phase) Rencana kerja rekayasa nilai dimulai secara berurutan dari tahap informasi (1), kemudian tahap kreatif (2), tahap penenlitian (3), tahap pengembangan (4) dan tahap presentasi (5). Namun, dalam pelaksanaan, mungkin ada pada tahap penilaian (3), dibutuhkan data/ informasi baru, sehingga harus kembali ke tahap sebelumnya (1) atau (2) Tahap Informasi (information phase) Tujuan pada tahap ini adalah untuk menghimpun informasi dan pengetahuan sebanyak mungkin yang berhubungan dengan proyek yang akan direncanakan. Pekerjaan dalam tahap ini cukup rumit karena harus mengelompokkan informasi sesuai dengan jenis dan kebutuhan. Kualitas dan kesempurnaan informasi yang disediakan oleh pemilik dan perencana terhadap latar belakang proyek secara langsung mempengaruhi kualitas studi tim rekayasa nilai. Informasi yang diperlukan secara umum sebagai berikut: Kriteria desain Kondisi lapangan (topografi, kondisi tanah, lingkungan proyek, dan lain-lain) Peraturan-peraturan Elemen-elemen desain Latar belakang proyek Kendala-kendala yang ditetapkan terhadap proyek Fasilitas yang tersedia Persyaratan yang timbul dari partisipasi masyarakat (faktor keamanan pekerja) Perhitungan-perhitungan desain. Informasi yang didapat dari pemilik dapat mengurangi sasaran dari studi rekayasa nilai. Informasi tersebut dapat berupa pembatasan. Kriteria yang ditetapkan oleh pemilik yang tidak dapat diubah, akan mengurangi kebebasan tim rekayasa nilai untuk mengembangkan alternatif-alternatifnya. Model biaya digunakan sebagai metode pada pengorgansiasian biaya kedalam ruang lingkup yang dapat diidentifikasikan untuk menentukan bagian yang mempunyai biaya yang tinggi pada desain. Studi rekayasa nilai dikerjakan ata sdasar biaya siklus hidup. Biaya yang diperlukan dari perancang proyek tidak hanya perkiraan biaya awal saja, tetapi juga estimasi terhadap biaya operasi dan biaya pemeliharaan. Salah satu dari tugas tim rekayasa nilai yang pertama adalah mempelajari informasi biaya dari proek, jika muncul ketidaksesuaian dalam hal informasi dari perkiraan biaya seperti biaya satuan, satuan volume, sebaiknya dibicarakan ke perancang. Perkiraan biaya sebagai dasar untuk membandingkan rekeomendasi rekayasa nilai pada masa yang akan datang. Dengan penetapan dan pemeriksaan informasi biaya, langkah selanjutnya membuat model biaya. Model biaya yang biasa digunakan untuk rekayasa nilai adalah konsep matriks dengan membagi proyek dengan sistem dan perdagangan konstruksi. Model matriks biaya yaitu format pengorganisasian dengan membagi sistem dan perdagangan konstruksi. Sistem yang dimaksud adalah dengan memilah-milah sistem menjadi sub sistem atau pekerjaan. Sedangkan perdagangan konstruksi atau sumberdaya konstruksi adalah bahan atau alat yang digunakan untuk melaksanakan sistem tersebut. Sistem dan perdagangan konstruksi dengan model matriks biaya yaitu dengan memilah-milah dalam bentuk haorizontal (baris) dan jalur vertikal (kolom). Jalur horizontol untuk perdagangan konstruksi dan jalur vertikal untuk sistem (Tabel 3.2) Jumlah biaya maupun prosentase dari sistem dan perdagangan konstruksi dapar dilihat pada jalur vertikal dan horizontal. Jalur horizontal memebrikan informasi jumlah biaya atau % yang digunakan untuk perdagangan konstruksi dalam melakukan kegiatan tersebut, dan jalur vertikal memberikan informasi biaya atau % dari biaya yang digunakan untuk melaksanakan sistem atau sub sistem. Tabel 3.2 Tabel Matrik Biaya No Despresi Pekerjaan Site TAHAP INFORMASI % Biaya SYSTEM

No

Despresi

Pekerjaan

Site

TAHAP INFORMASI

%

Biaya

SYSTEM BREAKDOWN

1

2

3

4

5

6

7

8

9

1

Rp.X11

Rp X12

Rp.X13

Rp –

Rp –

Rp.X16

Rp.X17

Rp.X18

Rp.X19

Y ij

Rp Xij

2

Rp –

Rp X22

Rp.X23

Rp.X24

Rp –

Rp.X26

Rp.X27

Rp.X28

Rp.X29

Y ij

Rp Xij

3

Rp –

Rp X32

Rp.X33

Rp.X34

Rp –

Rp.X36

Rp.X37

Rp.X38

Rp.X39

Y ij

Rp Xij

4

Rp –

Rp –

Rp –

Rp –

Rp.X45

Rp –

Rp –

Rp –

Rp –

Y ij

Rp Xij

5

Rp –

Rp –

Rp.X53

Rp –

Rp –

Rp –

Rp –

Rp –

Rp –

Y ij

Rp Xij

6

Rp –

Rp X62

Rp –

Rp.X64

Rp.X65

Rp-

Rp –

Rp –

Rp –

Y ij

Rp Xij

7

Rp –

Rp -

Rp.X73

Rp –

Rp –

Rp –

Rp.X77

Rp –

Rp –

Y ij

Rp Xij

8

Biaya ∑ Xij

I=1

Rp Xij

Rp Xij

Rp Xij

Rp Xij

Rp Xij

Rp Xij

Rp Xij

Rp Xij

Rp Xij

100

% subsistem

8

X

Y ij

Y ij

Y ij

Y ij

Y ij

Y ij

Y ij

Y ij

Y ij

% dari sistem

8

∑Yij

ij

8 5

∑ ∑ Y ij

i=1 j=2

8 9

∑ ∑ Y ij

i=1 j=6

konstruksi j = kegiatan dari sistem/ subsistem Model matriks biaya secara lengkap memberikan informasi yang jelas tentang biaya yang diperlukan untuk mengerjakan suatu sitem/pekerjaan atau besarnya presentase (%) dari pekrajaan tersebut. Disamping itu juga akan mudah mengentahui bahan yang dibutuhkan oleh suatu pekerjaan. Analisis fungsi untuk proyek digunakan untuk mengidentifikasi fungsi-fungsi yang akan dikerjakan dan biaya : Analisis fungsi digunakan untuk mengidentifikasikan secara jelas pekerjaan yang dilakukan untuk kebutuhan proyek serta membantu memisahkan ruang lingkup untuk biaya utama dengan biaya yang tidak dibutuhkan untuk mendukung performansi. Tahap pertama dalam analsis fungsi adalah mengidentifikasi fungsi dasar dari suatu sistem proyek, fungsi dasar merupakan tujuan dari uraian studi rekayasa nilai. Dalam suatu proyek atau komponen didapat fungsi utama sedangkan bagian lain adalah fungsi tujuan penunjang atau fungsi sekunder. Tahap selanjutnya dari analisis fungsi adalah mengidentifikasi biaya dan harga yang berkaitan dengan setiap fungsi. Harga dapat diidentifkasi sebagai biaya terendah dari yang dibutuhkan untuk membentuk fungsi. Untuk membantu menetapkan informasi yang perlu dikumpulkan perlu dikaji lebih dulu fungsi dari bangunan. Salah satu metode yang digunakan untuk mengkaji fungsi dari suatu sistem adalah metode FAST. FAST (Function Analysis System Technique) adalah suatu metode terstruktur untuk menganalisis mengorganisir dan mencatat fungsi-fungsi dari suatu sistem. Dengan mengaplikasikan metode FAST ini, dapat dibuat suatu diagram yang menggambarkan fungsi-fungsi proyek secara terorganisir dan menetukan hubungan antar fungsi, serta membatasi lingkup permasalahan. Dalam menyebutkan fungsi,diidentifikasikan dengan kata kerja dan kata benda. Sebagai contoh tentang rancangan suatu fungsi pondasi (lihat Gmbar 3.3) Bagaimana Mengapa ? Fungsi yang terjadi setiap saat Garis Cakupan Garis Cakupan Cakupan masalah Gambar 3.3. Diagram FAST Diagram FAST disusun berdasarkan urutan tingkat, dari fungsi tingkat tinggi diletakkan sebelah kiri sedangkan fungsi yang rendah diletakkan disebelah kanan. Pembuatan ini biasanya dimulai dari fungsi dasar yang sudah ditentukan sebelumnya. Fungsi dasar ini diletakkan dalam ruang lingkup yang akan dibahas. Penyusunan fungsi-fungsi dilaksanakan dengan mengajukan dua pertanyaan, yaitu: Bagaimana (How) dan Mengapa (Why). Identifikasi fungsi dimulai dari fungsi dasar dengan melakukan pertanyaan “bagaimana” fungsi dasar dilaksanakan. Seterusnya dilakukan pertanyaan yang sama diletakkan disebelah kanan fungsi dasar. Seterusnya dilakukan pertanyaan yang sama terhadap fungsi baru tersebut sehingga didapat fungsi baru lainnya yang menjawab fungsi tadi. Pertanyaan ini dilakukan terus sampai didapat sejumlah fungsi yang bisa mencerminkan masalah. Kemudian dilakukan pertanyaan “mengapa” fungsi tersebut harus diadakan, akan dijawab oleh fungsi yang berada disebelah kiri fungsi yang bersangkutan. Fungsi ini harus sama dengan fungsi yang didapat pada proses pertama yang menggunakan “bagaimana”. Proses ini dilakukan sampai didapat fungsi dasar sebagai jawabannya. Hal ini untuk memeriksa ketepatan fungsi-fungsi pada jalur kritis. Sebagai contoh : pertanyaan diajukan terhadap fungsi utama, “bagaimana caranya menerima beban?”, maka pertanyaan ini akan dijawab oleh fungsi yang ada disebelah kanannya dengan satu kata kerja dan satu kata benda, yaitu menahan beban. Pertanyaan ini ditanyakan seterusnya oleh fungsi yang baru terbentuk dan berhenti jika merasa permasalahan telah cukup. Sekarang pertanyaan dimulai dari fungsi yang berada paling kanan dalam batas lingkup masalah dengan pertanyaan “mengapa”. “ Mengapa perlu untuk meneruskan beban?”. Pertanyaan ini akan dijawab dan menghasilkan jawaban yang sama dengan jawaban yang pertanyaannya “bagaimana”. Pertanyaan ini berarti jika sejumlah fungsi-fungsi sudah mencerminkan masalah. Hasil dari tahap informasi akan digunakan untuk tahap-tahap berikutnya. Tahap Kreatif (Creative Phase) Tahap ini mempunyai tujuan untuk memotivasi orang untuk berpikir dan membangkitkan segala alternatif untuk mem enuhi fungsi utama. Kreativitas seseorang atau tim sangat berperan dalam mendapatkan alternatif-alternatif yang dibutuhkan. Acuan kreativitas tidaklah kepada timbulnya karya besar, tetapi lebih mengarah kepada kemampuan memandang suatu masalah seperti biasanya, dan memandang secara lateral tidak langsung vertikal. Bilamana kedua pandangan tersebut dapat dipadukan kreativitas dapatlah diartikan sebagai kemampuan memandang suatu hal dari berbagai sudut sebagai hasil dari suatu pengembangan. Ide-ide yang muncul harus dicatat dahulu dan tidak boleh dipertimbangkan atau dievaluasi. Ide yang diajukan berupa : Evaluasi Perbaikan terhadap suatu ide yang sudah ada Kombinaasi dari beberapa ide Teknik-teknik yang dipakai pada tahap ini antara lain:Brainstorming matriks. Hasil dari tahap kreatif ini akan dibahas dan dievaluasi pada tahap penilaian. Tahap Penilaian (Judgement Phase) Tujuan dari tahap ini adalah untuk mengevaluasi altenatif hasil dari tahap sebelumnya. Evaluasi ini dilaksanakan untuk menentukan dari sejumlah pilihan yang terbaik untuk dipelajari lebih lanjut dan yang mempunyai potensi besar untuk penghematan. Penilaian ini bertujuan untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan dari masing-masing ide. Kekurangan dari ide yang satu dapat ditutupi oleh ide yang lain. Ide baru yang merupakan gabungan dari bebrapa ide, memerlukan informasi yang baru. Seringkali harus kembali ketahap sebelumnya untuk mencari informasi baru. Pada tahap ini jumlah ide akan berkurang seelah diadakan seleksi. Desain dengan biaya rendah akan mendapat prioritas utama, namun tidak semata-mata berdasarkan atas biaya saja. Faktor lainnya yang turut menentukan adalah teknologi, biaya, perawatan, waktu pelaksanaan. Pada tahap penilaian ada dua tahap untuk mengevaluasi hasil analisis ide kreatif, yaitu tahap pertama dengan teknik keuntungan-kerugian dan tingkat kelayakan serta tahap pertama dengan kedua adalah analisis matrik. Hasil analisis keuntungan-kerugian dan analisis tingkat kelayakan akan dibahas bersama-sama pada tahap kedua, yaitu dengan analisis matrisk. Hasil dari analisis matrik akan dipilih dua alternatif yang terbaik untuk dibahas dalam tahap pengembangan sebagai desain ususlan. Masing-masing tahap diuraikan secara rinci sebagai berikut: Analisis keuntungan-kerugian Analisis keuntungan-kerugian merupakan tahap penyaringan yang paling kasar diantara metode yang dipakai dalam tahap penilaian. Sistem penilian diberikan secara bersama-sama oleh tim rekayasa nilai. Penilaian tim harus didasarkan atas tingkat pengaruhnya pada biaya secara keseluruhan. Dalam kajian untung-rugi jumlah kriteria yang dipandang tepat untuk dinilai dan dapat dipakai untuk menganalisis setiap pekerjaan, yaitu biaya awal, daya dukung, biaya pemeliharaan, fabrikasi, waktu pelaksanaan, mudah/sulit pelaksanaan konstruksi. Dalam memberikan peniliain atas kriteria-kriteria yang ditinjau harus ditentukan dulu salah satu kriteria, kemudian harus menentukan kriteria lain secara relatif terhadap kriteria tadi. Kriteria utama yang dipandang sangat penting duberi nilai 3 (tiga) untuk kriteria biaya awal, sedangkan kriteria lainnya ditetapkan secara relatif. Nilai kriteria diberikan secara rinci sebagai berikut: Biaya awal = 3 Kekuatan penampang terhdap aliran = 2 Biaya pemeliharaan = 2 Waktu pelaksanaan = 1 Ketersediaan material = 1 Pabrikasi = 1 Total = 10 Kemudian dibandingkan semua kriteria terhadap komponen yang ditinjau dari segi keuntungan dan kerugian. Apabila kriteria berada dikolom keuntungan diberi positif (+) dari nilai kriteria tersebut dan sebaliknya jika dalam kerugian mendapat nilai negatif (-). Setelah ide kreatif diberi nilai, lalu dijumlahkan. Jumlah nilai komponen /ide kreatif tersebut (-10) dan (+10). Ide-ide kreatif yang mempunyai nilai total tertinggi dipilih minimal 6 (enam) alternatif untuk diseleksi pada tahap kedua atau pada analisis matriks. Dengan kriterianya seperti tersebut diatas, metode ini dapat juga digunakan untuk mengevaluasi pada pekerjaan atau struktur lainnya. Analisis matriks adalah seleksi tahap kedua terhadap hasil yang dicapai dari analisis keuntungan-kerugian dan analisis tingkat kelayakan. Kriteria-kriteria yang digunakan untuk analisis matriks akan diadakan konsultasi dengan para ahli tentang sebuah konstruksi serta standar yang umum dipakai untuk desain. Kriteria hasil konsultasi harus dikaji dan diberi nilai. Untuk uji dan oembobotan dipakai metode hirarki analitik. Masing-masing kriteria mempunyai bobot hasil dari proses hierarki nalitik, yang kemudian diberi nilai dengan skala penilaian sebagai berilkut : Baik sekali = 4 Baik = 3 Wajar = 2 Rendah = 1 Proses hierarki analitik adalah suatu model luwes yang memberikan kesempatan bagi perorangan atau kelompok untuk membangun gagasan-gagasan dan mendefinisikan persoalan-persoalan dengan cara membuat asumsi-asumsi dan memperoleh pemecahan yang diinginkan. Proses hierarki analitik ini untuk menganalisis memcahkan persoalan dengan hierarki analitik, ada tiga prinsip yaitu: Penyusunan struktur hierarki Ada dua macam hierarki, yaitu struktural dan fungsional. Pada hierarki-struktural, sistem yang kompleks disusun kedalam komponen-komponen dalam urutan menurun menurut sifat strukturnya, sedangkan hierarki fungsional mengiuraikan sitem yang kompleks menjadi elemen-elemen pokoknya menurut hubungan esensial. Menetapkan prioritas Langkah pertama dalam menetapkan prioritas elemen-elemen dalam penilaian yang berpasangan yaitu elemn-elemen dibandingkan berpasangan terhadap suatu kriteria yang ditentukan. Penilaian dilakukan dengan membrikan bobot numerik. Perbandingan berpasangan dibentuk menjadi matriks bujur sangakar sesuai dengan elemen-elemen dari tingkat hierarkinya. Untuk memulai proses perbandingan berpasangan, yaitu mulai pada puncak hoerarki untuk memilih kriteria atau sifat yang digunakan untuk melakukan perbandingan yang pertama, tingakt dibawahnya diambil dari elemen-elemen yang akan dibandingkan. Misalnya menentukan kriteria atau sifat dari matriks berpasangan (X) serta elemen-elemen A1,A2,A3. Lebih jelas tentang matriks perbandingan berpasangan dapat dilihat dalam tabel 3.3 Tabel 3.3. Matrik Perbandingan Berpasangan X A1 A2 A3 A1 1 4 1/9 A2 ¼ 1 1/7 A3 9 7 1 Bandingkan elemen A1 dalam kolom disebelah kiri dengan elemen-elemen A1,A2,A3 yang terdapat pada baris atas dengan sifat X disudut kiri atas. Kemudian elemen kolom A2 dibandingkan dengan elemen baris atas, begitu seterusnya sampai elemen terakhir. Untuk mengisi matriks banding berpasangan harus menggunakan bilangan yang menggambarkan alternatif pentingnya suatu elemen terhadap elemen lainnya yang berhubungan dengan sifat trsebut. Bilangan tersebut berkisar antara 1 sampai 9. Semua pertimbangan diterjemahkan secara numerik adalah merupakan perkiraan belaka, validitasnya dapat dievaluasi dengan suatu uji konsistensi. Tabel 3.4 Skala Banding Secara Berpasangan Tingkat Pentingnya Definisi Penjelasan 1 Kedua elemen sama penting Kedua elemen memberikan kontribusi yang sama terhadap tujuan 3 Elemen yang satu sedikit lebih penting dari elemen yang lain Pengalaman dan pertimbangan sedikit menyokong satu elemen atas elemen yang lainnya 5 Elemen yang satu esesnsial/sangat penting dari lemen yang lainnya Pengalaman dan perhitungan dengan kuat menyokong satu elemen atas elemen yang lainnya 7 Satu elemen jelas lebih penting dari elemen yang lainnya Satu elemen dengan kuat disokong dan dominasinya telah terlihat dalam praktik 9 Satu elemen jelas lebih penting dari elemen yang lainnya Bukti yang menyokong elemen yang satu atas yang lain memilki tingkat penegasan tertinggi yang mungkin menguatkan 2,4,6,8 Nilai tengah diantara dua pertimbangan yang berdekatan Kompromi diperlukan antara dua pertimbangan Catatan : Jika untuk aktivasi 1 mendapat satu angka bila dibandingkan dengan aktivitas j, maka j mempunyai nilai kebalikannya bila dibandingkan i. Menguji konsistensi data Validitas data dapat diketahui dengan uji konsistensi data, yaitu dengan nilai konsistensi (CR). Data dapat dikatakan konsistensi bila nilai CR lebih kecil atau sama dengan 0,10 dan apabila CR > 0,10 maka proses penilaian terhadap matriks perbandingan berpasangan harus diulangi. Bilangan / nilai dari masing-masing baris pad masing-masing baris pada matriks perbandingan berpasangan dikalikan secara komulatif, dan hasil perkalian dimasukkan akar dengan derajat sesuai dengan jumlah elemen pada garis matriks, hasilnya disebut matriks 1. Untuk mendapatkan matrik vektor prioritas (eigen vector) adalah elemen matriks 1 dibagi dengan jumlah total matriks 1. contoh hitungan matrik perbandingan berpasangan,matrik I dan vektor dapat dolihat pada gambar 2.4 Matrik Perbandingan Berpasangan X A1 A2 A3 A1 1 4 1/9 A2 ¼ 1 1/7 A3 9 7 1 Matrik I Vektor Prioritas jumlah : 5,071 Gambar 3.4 Matriks Perbandingan Berpasangan, Mtriks I, Vektor Prioritas Untuk mendapatkan nilai prioritas (eigen value), yaitu matriks perbandingan berpasangan dikalikan vektor prioritas sehingga didapatkan matriks II. Elemen pada matriks II dibagi dengan elemen matriks vektor prioritas didapat nilai prioritas. Nilai vektor maksimum adalah harga rata-rata dari matriks nilai prioritas (λ) X A1 A2 A3 A1 1 4 1/9 A2 ¼ 1 1/7 A3 9 7 1 Vektor Prioritas Matriks II Gambar 3.5 Perkalian Matriks Perbandingan dengan Matriks Vektor Prioritas Matriks II Vektor Prioritas Nilai Prioritas Jumlah = 9,93 Jadi penilaian matriks perbandingan berpasangan diulangi lagi. Random Index (RI) adalah index random yang menyatakan besarnya kondisi terhadap indeks konsistensi sehubungan dengan nilai matriks perbandingan (lihat tabel 3.5) CR = Consistency Ratio CI = Consistency Indeks λ = Nilai prioritas maksimum n = Jumlah faktor / elemen dalam matriks Tabel 3.5 Tabel Indeks Random (RI) n 1 2 3 4 5 6 7 RI 0,00 0,00 0,58 0,90 1,12 1,24 1,32 8 9 10 11 12 13 14 15 1,41 1,45 1,49 1,51 1,48 1,58 1,12 1,59 3.1.5.4 Tahap Pengembangan (Development Phase) Tujuan tahap ini adalah menyiapkan saran-saran dan rekomendasi tertulis untuk alternatif yang terpilih. Beberapa alternatif terbaik yang terpilih tadi dievaluasi kemungkinan pelaksanaan berdasarkan faktor ekonomis dan teknis. Hasil evaluasi disusun secara rinci sehingga menjadi laporan tertulis yang berisi rekomendasi-rekomendasi. Langkah-langkah yang perlu diambil adalah: Membandingkan desain yang terpilih Membandingkan biaya desain Mendiskusikan rekomendasi Mendiskusikan implikasi/keadaan dan kebutuhan dalam pelaksanaan desain yang direkomendasikan Menghitung biaya siklus hidup Tim studi rekayasa nilai harus memilih hanya satu alternatif yang dianggap terbaik untuk dilaksanakan, sedangkan yang lainnya bisa dipersiapkan untuk keperluan presentasi bila pilihan pertama tidak disetujui oleh pemilik. Tahap presentasi Tahap ini merupakan tahap untuk melaporkan / mempresetasikan secara lengkap hasil studi rekayasa nilai, merekomendasikan alternatif yang terpilih dengan segala keuntungannya. Tahap ini bertujuan untuk meyakinkan owner atau pengambil keputusan bahwa alternatif yang direkomendasikan merupakan pilihan yang terbaik dan menunguntungkan. Tahap ini merupakan tahap akhir dan sangat menentukan apakah studi rekayasa nilai ini berhasil atau tidak. 3.2 DRAINASI PERUMAHAN Pemukiman dan Perumahan Pemukiman adalah bagian dari leingkungan hidup diluar kawasan lindung, baik berupa kawasan perkotaan maupun pedesaan yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian dan tempat kegiatan yang mendukung perikehidupan dan penghidupan. Pemukiman mengandung arti tidak sekedar fisik saja tetapi juga menyangkut hal-hal kehidupan non fisik. Pemukiman mengandung pengertian sebagai suatu wilayah dimana penduduk (pemukiman) tinggal, berkiprah dalam berbagai kegiatan kerja dan usaha, berhubungan dengan sesama pemukiman sebagai suatu masyarakat serta memperoleh berbagai kebutuhan kehidupannya. Pola Pemukiman Pola pemukiman yang ada di Indonesia pada masa penjajahan ditunjukkan dengan adanya rumah-rumah untuk golongan penjajah dan ningrat yang dibuat teratur mengikuti pola perumahan di Eropa. Golongan angsawan menempati keraton atau istana yang berpusat di kabupaten dengan segala fasilitasnya. Sedang pada sekelilingnya terdapat rumah-rumah sederhana untuk golongan pribumi dan para abdi istana. Kemudian di daerah perkotaan sebagai pusat ekonomi umumnya didominasi oleh golongan timur asing (Cina dan Arab) dimana mereka berdagang sekaligus bertempat tinggal disana. Pola pemukiman seperti itu masih terlihat hampir disetiap kota besar di Indonesia pada saat ini. Pola pemukiman untuk golongan rakyat umumnya tidak teratur. Perumahan Perumahan adalah kelompok rumah yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian yang dilengkapi dengan sarana dan prasarana lingkungan. Perumahan hanya menyangkut keadaan fisik tempat tinggal , tidak mencakup keadaan non fisiknya. Sarana lingkungan adalah kelengkapan lingkungan yang berupa fasilitas pendidikan, kesehatan, pelayanan umum, peribadatan dan rekreasi. Prasarana lingkungan adalah jalan, saluran air minum, saluran air limbah, saluran air hujan, pembuangan sampah dan jaringan listrik. Proyek Perumahan Proyek perumahan atau real estate merupakan kegiatan untuk membangun perumahan dalam berbagai tipe yang cukup banyak. Perumahan yang dibangun harus menunjang perumahan, diluar rumah itu sendri sebagai sarana utama dan fasilitas lingkungan sebagai sarana pelengkap pada perumahan. Prasarana perumahan mencakup :jaringan jalan dan parkir, jaringan air minum, jaringan pembuangan air limbah rumah tangga dan air hujan, jaringan listrik, jaringan telepon dan pembuangan sampah. Pada bab ini telah dijelaskan baha prasarana perumahan yang akan dibahasa adalah prasarana drainase pada perumahan saja. 3.2.2. Drainase Drainase adalah prasarana yang berfungsi mengalirkan air permukaan ke badan air dan atau ke bangunan reapan batuan, dari sini diperoleh pengertian drainase perkotaan yaitu drainase diwilayah kota yang berfungsi mengendalikan kelebihan air permukaan sehingga tidak menganggu masyarakat dan dapat memberikan manfaat bagi kegiatan kehidupan manusia. Sarana drainase pada bangunan-bangunan, didaerah-daerah dan obyek-obyek lain yang sangat memerlukan sistem drainase yang baik, antara lain : Kota atau daeran pemukiman Jalan raya Jalan kereta api Gedung Lapangan terbang Laoangan olah raga, stadion dan kolam renang Daerah pertanian, perswahan, hutan dan lain-lain. Pada suatu daerah perumahan, sistem drainase yang ada merupakan bagian dari sistem drainase perkotaan. Semua kota-kota besar memiliki sistem drainase, aliran permukaan yang terkumpul dijalan dialirkan melalui lubang-lubang pemasukan (inlet) kedalam saluran riool ) kedalam saluran riool ) kedalam saluran riool ) kedalam saluran riool air hujan dibawah perkerasan jalan, untuk kemudian dibnuang kedalam sungai, danau dat aut air laut. Pembuangan sedapat mungkin dilakukan secara pemompaan. Pada suatu perumahan, jaringan drainase yang baik sangat dibutuhkan. Drainase perumahan berfungsi untuk mengalirkan air. Air yang dialirkan akibat dari air hujan dan air permukaan. Air hujan terbagi menjadi dua, yaitu: hujan yang turun didaerah perumahan dan hujan yang melalui dareah perumahan, sedangkan air permukaan terbagi menjadi dua,yaitu: air permukaan yang muncul didaerah perumahan dan air yang melalui daerah perumahan. Jenis-jenis drainase 3.2.3.1 Drainase berdasarkan bentuk saluran Berdasarkan bntuk saluran (geometris), umumnya drainase mempunyai berbagai macam bentuk penampang : persegi panjang, trapesium, segitiga, lingkaran, parabola, persegi panjang, segitiga dasar dibulatkan dan lain-lain. Drainase berdasarkan tipe material Berdasarkan tipe material drainase, maka dapat dikelompokkan menjadi dua bagian: Tanpa pelindung (saluran tanah) Menggunakan pelindung (saluran batu kali dan saluran beton) Suatu saluran drainase yang terbuat dari bahan tanah, akan memiliki daya angkut yang kecil, mengingat tidak didinginkan terjadinya erosi pada saluran drainase. Untuk memperbesar daya angkut, saluran perlu diberi lapisan pelindung berupa vegetasi dapat mencegah bahya gerusan. Lapisan pelindung vegetasi yang dapat digunakan untuk saluran tanah pada umunya adalah lapisan rumput. Dalam banyak hal, lapisan (gebalan) rumput merupakan lapisan yang paling praktis, karena biaya pemsangan dan pemeliharaannya lebih ekonomis daripada jenis lapisan pelindung lainnya. Syarat terpenting untuk lapisan rumput adalah: Rumput yang ditanam harus dari jens tambuhan yang rapat : gebalan atau lempengan rumput yang dipasang harus menempel rapat pda tanah, agar tidak ada air yang terperangkap antara tanah dan lempengan rumput, yang dapat menyebabkan tanah atau rumput terhanyut oleh air. Penampang melintang saluran tidak boleh mempunyai sudut-sudut yang tajam atau tumpul, sudut-sudut tersebut haurs dibulatkan. Ada dua kondisi, dimana lapisan rumput tidak dianjurkan, yaitu apabila kemiringan dasar saluransamping terlalu landai atau curam. Apabila kemiringan dasar saluran S < 0,005, maka aliran akan sangat lambat. Akibatnya adalah : akan cepat terjadi sedimentasi dan menimbulkan masalah pembersihan dan pembuangan bahan endapan dari saluran, air akan lebih lama tinggal dalam saluran sehingga rumput akan cepat mati. Kemiringan dasar saluran yang curam akan menimbulkan kecepatan aliran yang sangat erosif, yang akan menggerus lempengan rumput, dan akhirnya seluruh lapisan rumput akan terkelupas. Sedangkan untuk drainase yang emnggunakan lapisan pelindung, secara ekonomis memerlukan biaya yang lebih besar. Drainase dengan lapisan pelindung dapat mengatasi erosi atau pengendapan pad jangkauan kecepatan aliran tertentu. Kecepatan aliran harus cukup besar untuk mencegah pengendapan atau sedimentasi, tetapi tidak boleh terlalu besar untuk mencegah erosi atau penggerusan. Drainase dapat dibuat dari beberapa tipe material seperti tabel 3.6 berikut: Tabel 3.6 Tipe material drainase Tipe material Bentuk saluran Kemiringan lereng sisi keterangan Saluran tanah Trapesium Maksimum 50% Saluran harus ditutupi vegetasi untuk mencegah erosi Saluran batu kali Trapesiu empat persegi Maksimum 67% Untuk kemiringan lebih dari 67% sisi saluran harus dirancang sebagai struktur dinding Saluran bambu Lingkaran Tidak ada batasan Saluran beton Semua bentuk Tidak ada batasan Saluran baja Semua bentuk Tidak ada batasan Drainase berdasarkan fungsi Pada umumnya drainase berdasarkan fungsi dapat dibagi menjadi : Saluran Primer Saluran drainase primer adalah saluran utama yang menampung limpahan air dari saluran-saluran sekunder kemudian meneruskan ke tempat pembuangan air, seperti danau, laut dll. Saluran Sekunder Saluran drainase sekunder adalah saluran yang menghubungkan antara saluran primer dan saluran tersier. Saluran Tersier Saluran tersier adalah saluran yang menampung air kelebihan untuk diteruskan kesaluran sekunder. Standar Perencanaan Drainase Drainase dirancang agar mampu menampung limpasan air hujan dihitung berdasarkan kondisi kekuatan batas pembangunan tapak yang menyebabkan limpasan tersenut dimas datang maupun daerah drainase diluar tapak. Drainase tapak harus diarahkan ke panampungan permukaan atau bawah permukaan permanen yang memadai untuk menampung limpasan dari tapak untuk saat ini maupun perkiraan masa datang, demikian pula agar menghindari limpasan kedaerah aliran sungai diluar tapak kecuali apabila air tersebut dibutuhkan untuk irigasi. Daerah terbangun pada tapak yang dapat dirugikan oleh muka air tanah yang secara potensial sangat tinggi harus dikeringkan dengan baik oelh fasilitas drainase bawah tanah yang memadai untuk membuang sisa air tanah apabila memmungkinkan. Drainase air hujan hanya boleh disalurkan ke saluran pembuangan yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Tabel 3.7 Jenis Dimensi Rncangan Limpasan Drainease Air Hujan Jenis Rancangan Limpasan Ukuran Kelandaian Minimum Pipa untuk sistem pembuangan air hujan utama Diameter > 15 inci Ditetapkan sedemikian rupa untuk memungkinkan pembersihan diri saluran pada keadaan lambat dan memudahkan pemindahan endapan daerah drainasi dimasa mendatang Pipa saluran kedua Cekungan drainase dan selokan Saluran terbuka Sesuai dengan analisis Sesuai dengan analsis Sesuai dengan analisis Lereng sisi saluran dari tanah tidak boleh mempunyai kemiringan lebih dari 2:1 Idem 0,5% 67% (1,5:1) kemiringan lereng sisi saluran yang lebih curam dari 67% harus dirancang sebagai struktur dinding penahan Tabel 3.8 Kecepatan Aliran Berdasarkan Bahan Bahan Jangkauan kecepatan rata-rata (m/s) Beton 0,6-3,0 Aspal 0,6-1,5 Pasangan batu/blok beton 0,6-1,8 Kerikil/ tanah liat sangat padat 0,6-1,0 Pasir berbutiran kasar atau tanah berpasir yang berkerikil 0,3-0,6 Pasir atau tanah berpasir dengan kandungan tanah liat yang sangat banyak 0,2-0,3 Tanah berpasir dengan butiran halus atau lanau 0,1-0,2 Sistem Drainase Sistem drainase biasanya menggunakan salah satu dari empat metode yang ada, yaitu: sistem drainase permukaan sistem drainase bawah tanah tertutup sistem dainase bawah tanah tertutup dengan tmpat penampungan pada tapak sistem drainase bawah tanah tertutup untuk daerah yang diperkeras dan dranase terbuka untuk daerah yang tidah diperkeras. Tabel 3.9 Metode Sistem Drainase Metode Sistem Drainase Sistem Pembuangan keterangan Sistem drainase bawah tanah tertutup Limpasan dari daerah terbuka & daerah diperkeras → saluran pengumpul drainase permukaan →saluran drainase permukaan → sistem drainase kota Dampak erosi cukup besar. Pada kondisi tertentu permukaan saluran harus diperkeras untuk mencegah erosi didalam saluran harus diperkeras untuk mencegah erosi didalam salurannya Sistem drainase bawah tanah tertutup Limpasan dari daerah terbuka & daerah diperkeras → saluran drainase bawah tanah tertutup → pipa saluran → saluran drainase permukaan/sungai → sistem drainase kota Titik-titik keluarnya limpasan dari sistem rentan terhadap erosi dan sedimentasi Sistem drainase bawah tanah tertutup dengan tempat penampungan pada tapak Limpasan dari daerah terbuka & daerah diperkeras → saluran drainase bawah tanah tertutup → pipa saluran → tempat penampungan pada tapak → sistem drainase Dampak erosi dan sedimentasi berkurang Analisis Debit Saluran Perencanaan sistem drainase air hujan pada umunya mengikuti prinsip berikut: Pengaliran secepat mungkin ke saluran terdekat Saluran harus sependek mungkin Saluran harus bebas dari penggerusan dan pengendapan Saluran memanfaatkan atau mengikuti pola drainase alam yang ada. Uaraian langkah perencanaan sistem drainase : Mencari data curah hujan Data curah hujan diperoleh dari Badan Meteorologi dan Geofisika, dengan mencari data curah hujan dan minimal 2 stasiun hujan terdekat dari daerah perencanaan. Menentukan periode ulang rencana Perencanaan beban drainaase dengan periode ulang 1 tahun berarti kapasitas drainase yang ada secara statistik diijinkan untuk meluap sekali dalam 1 tahun. Karena keandalan/ resiko berkaitan dengan periode ulang maka besar nilai t makin kecil tingkat resiko yang akan terjadi. Misalnya keandalan 80% atau resiko 20% mempunyai periode ulang t = 1/r = 1/0,20 = 5 tahun. Menentukan curah hujan maksimum Curah hujan maksimum yang ditentukan dibuat dengan metode analisis frekuensi hujan berdasarkna periode ulang yang telah ditetapkan sebelumnya. Metode analisis frekuensi yang paling mudah dipakai adalah metode Gumbel, yaitu: …………………………..(1) dengan : X1 = curah hujan untuk periode ulanh X = curah hujan rata-rata dari data hujan kumulatif yang ada Sx = standar deviasi Sn = standar deviasi yang merupakan fungsi dari n Yt = variasi yang merupakan fungsi periode ulang Yn = nilai yang merupakan fungsi dari n Menentukan lamanya waktu hujan Lamanya waktu hujan dapat ditentukan bedasarkan hujan efektif sebesar 90% dari jumlah selama 24 jam, yang dapat diambil berdasarkna asumsi perencanaan sendiri, umumnya anrata 3-5 jam. Analisis pada IV akan menggunakan waktu hujan 4 jam Menghitung intensitas curah hujan Intensitas hujan dihitung berdasarkan rumus : ………………….(2) Membuat kurva intensitas hujan maksimum Intensitas hujan yang dapat diplot pada kurva basis yang sudah ada dan cari perpotongan dengan curah hujan 240 manit (4 jam). Tarik kurva baru yang mempunyai kelengkungan sama dengan kurva basis. Waktu konsentrasi Waktu konsentrasi adalah waktu yang diperlukan oleh satu titik hujan dari saat jatuh kedaerah aliran (inlet) sampai waktu pengaliran pada saluran sebelum mencapai saluran akhir. Tc = t1 + t2 ………………………………………………….(3) T1 = (2/3.3.28.Lo.nd√S)0,167 T2 = L / 60 V Dengan : Tc = waktu konsentrasi T1 = waktu inlet (menit) T2 = waktu aliran (menit) Lo = jarak dari titik terjauh ke saluran (meter) L = panjang saluran rencana (meter) nd = koefisien hambatan S = kemiringan daerah pengaliran V = kecepatan air rata-rata di saluran (meter/detik) Menentukan intensitas hujan maksimum Intensitas hujan maksimum diperoleh dengan memplot waktu konsentrasi pada kurva intensitas hujan nmaksimum. Tarik garis vertikal berdasarkan waktu konsentrasi dan dari titik perpotingan dengan kurva intensitas hujan maksimum tarik garis horizontal untuk mendapatkan nilai intensitas hujan maksimum. Menentukan luas daerah pengaliran Luas daerah pengaliran tergantung pada daerah diskitar saluran yang akan memanfaatkan saluran tersebut sebagai tempat pembuangan air. Jadi luas daerah pengaliran total untuk suatu jenis saluran sama dengan panjang saluran dikalikan dengan jarak terjauh saluran yang masih memanfaatkan saluran tersebut sebagai tempat pembuangan air. Menentukan koefisien aliran Koefisien aliran bergantung pada kondisi permukaan daerah dengan pengaliran sebelum mencapai saluran seperti tabel 3.4. Jika daerah pengaliran terdiri dari bermacam-macam tipe permukaan maka dihitung dengan rumus: ………………………………..(4) dengan : C1 = koefisien aliran untuk tipe permukaan 1 A1 = luas daerah pengaliran untuk tipe permukaan 1 Menentukan debit aliran (Rumus Rasional) Q = C . I. A …………………………………………(5) Dengan : Q = debit rencana C = koefisien pengaliran I = intensitas hujan maaksimum A = luas daerah pengaliran (daerah tangkapan) Tabel 3.10 Nilai n (Koefisien Kekerasan Manning) Dekripsi permukaan n Permukaan halus (beton, aspal, kerikil, atau tanag kering Tanah tandus (tanpa residu) Tanah olahan Ditutupi residu < 20% Ditutupi residu > 20% Berumput Padang rumput (prairi) Lapangan padang rumput Berumput jenis bermuda Daerah alami Hutan Sedikit semak belukar Banyak semak belukar 0,011 0,05 0,06 0,17 0,15 0,24 0,41 0,13 0,40 0,80 Tabel 3.11. Nilai C Untuk Berbagai Jenis Permukaan Permukaan Minimum Maksimum Permukaan atap logam Perkeras Beton Makadam bitumen, tipe terbuka dan tertutup Kerikil, butiran lepas sampai padat dan lekat Permukaan tanah Pasir, butiran seragam, well graded, dengan tanah liat/lanau Tanah kosong Sedikit tumbuhan Banyak tumbuhan Tanah liat, berpaasir sampai tanah liat murni Tanah kosong Sedikit tumbuhan Banyak tumbuhan Kerikil, mulai dari kerikil sampai kerikil berpasir, tanpa tanah liat Tanah kosong Sedikit tumbuhan Banyak tumbuhan Tanah liat, dari berpasir/lanau sampai tanah liat murni Tanah kosong Sedikit tumbuhan Banyak tumbuhan Daerah komersial Kota, daerah padat pemukiman Pemukiman pinggir kota Distrik pedesaan Taman,lapangan golf Tanah berlumut (tanah berpasir) Kemiringan 2% Kemiringan 2%-7% Kemiringan >7% Tanah berumput Kemiringan 2% (datar) Kemiringan 2%-7% Kemiringan >7% 0,90 0,90 0,70 0,25 0,15 0,10 0,05 0,20 0,10 0,05 0,25 0,15 0,10 0,30 0,20 0,15 0,50 0,35 0,10 0,10 0,05 0,10 0,15 0,13 0,18 0,25 1,00 1,00 0,90 0,70 0,50 0,40 0,30 0,60 0,45 0,35 0,65 0,50 0,40 0,75 0,60 0,50 0,65 0,55 0,25 0,35 0,20 0,15 0,20 0,17 0,22 0,35 Analisis Penampang Saluran Desain penampang saluran yang diperkeras merupakan proses coba-coba dengan langkah-langakah sebagai beruikut: Semua keterangan dikumpulkan, taksi n dan pilih S Hitung faktor penampang AR2/3 dengan persamaan :AR2/3 = Nq Persamaan-persamaan untuk A dan R yang diperoleh dari tabel 3.12 dimasukkan kedalam persamaan diatas, lalu hitung kedalamannya. Bila ukuran lain tidak diketahui misalnya b dan z dari suatu penampang trapesium maka taksirlah nilai-nilai yang belum diketahui ini lalu dicari kedalamannya berdasarkan persamaan diatas. Dengan nilai taksiran ini diperoleh beberapa kombinasi ukuran penampang, ukuran akhir ditetapkan berdasarkan efisiensi hidrolik dan segi praktisnya. Untuk saluran dengan pelapisan dipakai penamapng trapesium dan U.S Bureau of Reclamation telah mengembangkan kurva-kurva lebar dasar dan kedalaman air terhadap kapasitas saluran. Bila penampang hidrolik terbaik diperlukan langsung, masukkan dalam persamaan AR2/3 nilai-nilaik A dan R yang diperoleh dari tabel unsur-unsur geometris penampang salruan dan hirung kedalamannya. Penampang hidrolik terbaik dapat diubah supaya mudah dipakai dalam praktek. Periksa kecepatan minimum yang dizinkan bila air mengandung lanau. Tmbahkan jagaan seperlunya terhadap kedalamannya dari penampang saluran. Tabel 3.12. Penampung Hidrolik Terbalik Penampang Melintang Luas A Keliling Basah P Jari-jari hidrolik R Lebar Puncak T Kedalaman Hidrolik D Faktor Penampang Z Trapesium,setengah bagian segi enam Persegi oanjang, seyengah bagian bujur sangkar Segitiga, setengah bagian bujur sangkar Setengah lingkaran Parabola T=2√2y Lengkung Hidrolik √3y2 2y2 y2 π/2 y2 4/3 √2y2 1,3958 y2 2√y 4y 2√y πy 8/3√2y 2,9836 y ½ y ½ y ¼ √2y ½ y ½ y 0,4678 y 4/3 √3y 2y 2y 2y 2√2y 1,91753 y ¾ y y ½ y π/4 y 2/3 y 0,7279 y 3/2 y2,5 2y2,5 π2/2 y2,5 π/4 y2,5 8/9√3y2,5 1,19093y2,5 3.2.5 Prosentase Biaya Proyek Perumahan Dalam analisis biaya yang harus diperhatikan adalah bagian-bagian komponen yang mempunyai potensi untuk penghematan, yaitu bagian yang mempunyai harga terbesar dari seluruh biaya. Untuk mengetahui komponen yang mempunyai harga tertinggi sampai yang terendah dipakai Hukum Pareto. Menurut hukum distribudi Pareto, bahwa 20% dari bagian-bagian penting dari suatu komponen akan merupakan 80% dari biayanya. Dengan menyusun urutan-urutan komponen dari suatu sistem yang dimaksud dari biaya yang tertinggi sampai biaya terendah, kurva akan memperlihatkan bagaimana dari perencanaan yang membentuk komponen-komponen dengan biaya yang besar dan memungkinkan untuk analisis lebih lanjut. 80 total cost (%) 0 20 Number of Constituents (%) Gambar 3.6 Kurva Distribusi Hukum Pareto STUDI KASUS PENETAPAN METODE REKAYASA NILAI PADA DRAINASI PERUMAHAN MERAPI VIEW YOGYAKARTA 1. KONSEP PENERAPAN REKAYASA NILAI PADA DRAINASI PERUMAHAN Penerapan metode rakyasa nilai pada drainasi perumahan dilakukan dengan menggunakan tahap-tahap dalam rencana kerja (job plan). Pada studi kasus ini, analisa yang dilakukan hanya terbatas pada jaringan drainasi yang berada di perumahan Merapi View,Yogyakarata, dengan asumsi bahwa catchment area (daerah penangkapan) yang ada hanya meliputi aliran yang timbul di daerah perumahan tersebut. Sedangkan aliran yang berasal dari luar area diasumsikan tidak ada/berpengaruh. Untuk menrapkan metode rekayasa nilai ini, pertama-rama dianalisa semua inforamasi yang berhubungan dengan proyek perumahan tersebut dan sistem jaringan drainasinya. Kemudian dianalisa fungsi dari masing-masing komponen sistem drainasi tersebut, sehingga dapat diidentifikasi fungsinya. Pada tahap selanjutnya dicari ide dan alternatif pada tahap penilaian setelah itu dua ide dan alternatif yang terbaik dikembangkan lagi pada tahap pengembangan. Pad tahap akhir diajukan usaha mengenai dua laternatif dan ide terbaik pada pemilik proyek. Pada tahap-tahap rencana kerja terdapat keterkaitan satu dengan yang lainnya, misalnya bila pada tahap kreatif terjadi kekurangan data atau informasi, maka tim rekayasa nilai harus melengkapi kekurangan tersebut pada tahap onformasi terlebih dahulu. Berikut ini gambar diagram alir konsep penerapan metode rekayasa nilai pada drainasi perumahan : ya tidak ya tidak tidak ya tidak Gambar 4.1 Diagram Alir Konsep Penerapan Metode Rekayasa Nilai Pada Drainase Perumahan 2. TAHAP INFORMASI 2.1 Pengumpulan Data tujuan dari tahap ini adalah untuk mengumpulkan informasi sebanyak mungkin tentang prasarana drainasi di proyek perumahan Merapi View dan hal-hal lain yang berhubungan dengan proyek tersebut. Adapun yang menjadi permasalahan disini adalah apakah desain sistem jaringan drainasi perumahan Merapi View tersebut sudah merupakan alternatif deain yang terbaik. Sehingga diharapkan nantinya ditemukan alternatif desai sistem drainasi yang terbaik dari segi biaya, fungsi dan paramater-parameter desain lainnya. Data yang dibutuhkan proyek adalah data topografi (Tabel 2.1),curah hujan, peraturan-peraturan serta informasi lain yang dibutuhkan untuk desain proyek. Tabel 4.1 Data tentang Proyek (Desain Awal) Tahap Informasi Catatan-catatan 1. Proyek Lokasi proyek Fungsi Curah hujan Topofrafi Luas Area Deskripsi rancangan Jenis saluran Anggaran biaya Perumahan Merapi View Jaban-Ngebel Gede, Ngaglik, Sleman Yogyakarta Mengalirkan air kelebihan 200l/dt/ha elevasi diatas permukaan laur tertinggi = 205,15 m elevasi diatas permukaan laut terendah = 190,15 120.000 m2 (ha) Rancangan saluran drainase pada Perumahan Merapi View merupakan saluran drainase yang baru dan menyesuaikan dengan sekitarnya Primer (510 m), sekunder (1.260 m), tersier (4.524 m) Rp. 207.798.389,00 2.2 Struktur Fungsi Drainasi Perumahan fungsi drainasi perumahan adalah mengalirkan air kelebihan pada perumahan. Fungsi utama dari drainasi perumahan dapat diuraikan menjadi suatu fungsi operasional. Untuk mendapatkan fungsi dari komponen drainasi dengan mengumpulkan dua kata,yaitu satu kerja dan satu kata benda (Tabel 2.2) Tabel 2.2 Identifikasi Fungsi Identifikasi Fungsi 1 kata kerja + 1 kata benda Tahap Informasi (Drainase Perumahan) mengalirkan air kelebihan (Saluran primer) menerima beban menahan beban meneruskan beban membuang beban (Saluran sekunder) menerima beban menahan beban (Saluran tersier) menerima beban menahan beban mengalirkan beban ADAKAH SALAH SATU FUNGSI YANG DAPAT DIHILANGKAN ? Tidak, tidak ada fungsi yang dapat dihilangkan ADAKAH YANG DIKERJAKAN TANPA GUNA ? Tidak ada APA YANG HARUS DILAKUKAN (Drainase Perumahan) mengalirkan air kelebihan (Saluran primer) menerima beban menahan beban meneruskan beban membuang beban (Saluran sekunder) menerima beban menahan beban mengalirkan beban (Saluran Tersier) menerima beban menahan beban APA SEMUA SYARAT REALISTIK ? Ya, Semua syarat memang harus realistik APAKAH KEGUNAAN MENUNJANG NILAINYA? Ya APAKAH BIAYANYA PROFESIONAL TERHADAP KEGUNAANNYA ? Ya, seharusnya Keterangan : beban pada tabel diatas adalah limpasan air dan hujan yang masuk ke dalam saluran. Untuk mendapatkan fungsi elemen sitem drainasi perumahan dilakukan analisa fungsi yang struktur fungsinya disusun dari fungsi sistem drainasi perumahan tersebut. Untuk mendapatkan struktur fungsi dari sistem drainasi perumahan Merapi View digunakan metode FAST sebagai berikut: Bagaimana? Mengapa ? Fungsi yang Fungsi dan tujuan harus terjadi Garis cakupan Batasan permasalahan Gambar 2.2 Struktur Fungsi Sistem Drainase Perumahan Dari identifikasi fungsi didapatkan komponen-komponen yang mempunyai fungsi utama atau fungsi sekunder atau pendukung. Fungsi-fungsi yang tidak memberikan kualita/kegunaan atau tidak menghidupkan penampilan dapat dihilangkan, sehingga biaya-biaya yang tidak perlu bisa dikurangi. 3. TAHAP KREATIF Tahapan ini melakukan pendekatan secara kreatif dengan mengemukakan ide-ide sebanyak mungkin, yang diharapkan dengan makin banyaknya ide-ide semakin banyak pula kemungkinan suksesnya studi rekayasa nilai. Ide-ide kreatif bagi saluran drainasi usulan tersebut dapat dilihat pada Tabel 2.3 Tabel 2.3 Tahap-tahap Spekulasi Saluran Drainase Tahap spekulasi Item : saluran drainase Fungsi : mengalirkan kalebihan air Ini adalah tahap kreatif dari studi rekayasa nilai yang menghasilkan sebanyak mungkin ide-ide dalam penyelesaian fungsi, tetapi tidak mengevaluasi ide-ide selama fase ini No Ide-ide kreatif 1 2 3 4 5 6 7 8 Pipa beton tanpa tulangan Pasangan batu kali tanpa plesteran Beton cetak di tempat Pipa PVC Pipa tanah liat Saluran kayu Pipa besi Pipa beton tulangan Ide-ide kreatif yang tersebut diatas, kemudian dianalisa pada pahap penilaian/ analisis keuntungan-kerugian untuk mendapatkan alternatif-alternatif yang akan digunakan. Berikut ini gambar-gambar alternatif desai drainasi: 4. TAHAP PENILAIAN ANALISIS Pada tahap ini semua alternatif-alternatif yang dihasilkan pada tahap kreatif dianalisis. Lembar kerja dalam tahap ini adalah sebagai berikut: 2.4.1 Lembar Kerja Analisis Keuntungan-Kerugian lembar kerja ini digunakan untuk membandingkan alternatif-alternatif ide kreatif dari segi keuntungan dan kerugiannya terhadap beberapa kriteria. Penilaian tim didasarkan atas tingkat pengaruhnya terhadap biaya sistem secara keseluruhan. Dalam memberikan nilai pada kriteria yang ditinjau, tentukan nilai salah satu kriteria, kemudian tentukan kriteria yang lainnya secara relatif terhadap kriteria tersebut. Untuk kriteria biaya murah tim memberikan nilai maksimum 3, kemudian untuk kriteria lainnya, secara relatif tim memberikan nilai maksimum sebagai berikut: a. Biaya awal = 3 b. Kekuatan penampang = 2 c. Biaya pemeliharaan = 2 d. Waktu pelaksanaan = 1 e. Kemudahan pemeliharaan = 1 f. Estetika = 1 Total = 10 Nilai-nilai diatas merupakan nilai maksimum yang dapat diberikan pada masing-masing kriteria dan nilai yang paling minimal adalah 0 (rangking nilai 0-4). Tabel 2.4 Analisis Ide Kreatif dengan Teknik Keuntungan-Kerugian Untuk Saluran Drainase Perumahan Merapi View ANALISIS IDE-IDE KREATIF Sistem : saluran drainase Item : saluran primer,sekunder, dan tersier Fungsi : mengalirkan kelebihan air No Tahap kreatif Tahap analisis Nilai Ide kreatif keuntungan kerugian 1 Pipa beton tanpa tulangan Biaya awal murah (+3) Waktu pelaksanaan singkat (+1) Kuat menahan aliran (+2) Estetika bagus (+1) Biaya pemeliharaan mahal (-2) Pemeliharaan sulit (-1) +4 2 Pasangan batu kali tanpa plesteran Biaya awal murah (+3) Waktu pelaksanaan (+2) Kuat menahan aliran (+2) Biaya pemeliharaan mahal (-2) Pemeliharaan sulit (-1) Estetika kurang (-1) +3 3 Beton cetak di tempat Kuat menahan aliran (+2) Estetika bagus (+1) Biaya awal mahal (-3) Biaya pemeliharaan mahal (-2) Pemeliharaan sulit (-1) Waktu pelaksanaan lama (-1) -4 4 Pipa PVC Biaya awal murah (+3) Waktu pelaksanaan singkat (+1) Estetika (+1) Biaya pemeliharaan mahal (-2) Pemeliharaan sulit (-1) Lemah menahan aliran (-2) 0 5 Pipa tanah liat Biaya awal murah (+3) Waktu pelaksanaan singkat (+1) Estetika bagus (+1) Biaya pemeliharaan mahal (-2) Pemeliharaan sulit (-1) Lemah menahan aliran (-2) 0 6 Saluran kayu Biaya awal murah (+3) Pemeliharaan sulit (-2) Biaya pemeliharaan mahal (-2) Waktu pelaksanaan lama (-1) Lemah menahan aliran (-2) Estetika kurang (-1) -4 7 Pipa besi Kuat menahan aliran (+2) Estetika bagus (+1) Waktu pelaksanaan singkat (+1) Biaya awal mahal (-3) Biaya pemeliharaan mahal (-2) -2 8 Pipa beton tulangan Kuat menahan aliran (+2) Estetika bagus (+1) Waktu pelaksanaan singkat (+1) Biaya awal mahal (-3) Biaya pemeliharaan mahal (-2) Pemeliharaan sulit (-1) -2 Pada Tabel 2.4 tersebut ide-ide ini dievaluasi dengan memilih alternatif yang mempunyai keuntungan tertinggi. Dengan memilih alternatif yang paling menguntungkan dapat memudahkan untuk mengdakan pilihan alternatif yang dapat diajukan pada tahapan berikutnya. Pada tahapan ini yang terpilih sebagai alternatif adalah (diurutkan berdasarkan nilai tertinggi): Pipa beton tanpa tulangan (+4) Pasangan batu kali tanpa plesteran (+3) Pipa PVC (0) Pipa Tanah Liat (0) Kemudian alternatif-alternatif tersebut diatas,diseleksi lagi pada analiasis tingkat kelayakan. .4.2 Lembar Keja Analisis Tingkat Kelayakan Salah satu bentuk dari analsis ide-ide kreatif ini akan membahas penilaian kriteria dengan sangat subyektif, karena sulit untuk menda[patkan nilai yang sangat ideal, sebaliknya diperlukan suatu tim yang terdiri dariberbagai disiplin yang berpengalaman dibidangnya masing-masing. Analsia tingkat kelayakan untuk drainase dpat dilihat pada tabel berikut ini: Tabel 2.5. Analisi Kelayakan Analisis Kelayakan Item : saluran drainase Fungsi : mengalirkan kelebihan air Nilai masing-masing ide untuk faktor-faktor yang tercantum dalam tabel antara 1-10 A = Panggunanan teknologi E = Keuntungan biaya potensial B = Biaya pengembangan F = Sarana alat kerja C = Kemungkinan diterapkan D = Wkatu pelaksanaan Bahan saluran drainase A B C D E F total Pipa beton tanpa tulangan Pasangan batu kali tanpa plesteran Pipa PVC Pipa tanah liat 9 8 7 6 8 7 6 7 8 8 7 6 9 8 6 6 8 7 6 6 8 8 7 7 50 46 40 39 Dari analisa tingkat kelayakan dapat dibuat kesimpulan bahwa: Pipa beton tanpa tulangan memiliki nilai tertinggi yaitu 50 Pasangan batu kali tanpa plesteran memiliki nilai 46 Pipa PVC memiliki nilai 40 Pipa tanah liat memiliki nilai 39 Kemudian alternatif-alternatif tersebut, dianalisa lagi pada analisis matriks. 2.4.3 Lembar Kerja Analsis Matriks Seperti halnya pada analisa keuntungan-keuntungan,analisi matriks juga harus menentukan kriteria-kriteria, yang didapat dari data yang kemudian diolah untuk mengidentifikasi jaringan saluran drainasi perumahan Merapi View, yaitu tentang parameter-parameter dari kriteria desai saluran drainasi. Dari ringkasan analisis sebelumnya dan seleksi dari parameter-parameter yang ada, kriteria yang diasumsikan dalam tugas akhir ini terdapat pada lampiran, diperoleh dari suatu tim yang terdiri dari berbagai disiplin yang berpengalaman dibidangnya masing-masing. Dari parameter yang bedasarkan urutan pentingnya kriteria, diambil penilaian sebagai berikut: 1. Biaya awal (A) = 53 2. Kekuatan / kemampuan manahan aliran (B) = 47 3. Biaya pemeliharaan ( C ) = 33 4. Kemudahan pemeliharaan (D) = 32 5. Waktu pelaksanaan (E) = 23 6. Estetika (F) = 22 parameter-paramater ini diapaki sebagai kreiteria untuk analaisis matriks pada tahap penilaian, yang pembobotan dari masing-masing kriteria ditentukan dan diuji dengan metode hirarki analitik. Analsis Pembobotan Kriteria Parameter dan Uji Data Data yang telah ditetapkan berdasarkan urutan kepentingannya diuji validitas datanya dengan uji konsistensi serta menentukan bobot dari masing-masing parameter. Variabel parameter tersebut adalah sebagai berikut: A = biaya awal, B= kekuatan / kemampuan menahan aliran, C= biaya pemeliharaan, D= kemudahan pemeliharaan, E= waktu pelaksanaan, F= estetika. Parameter ini diuji dengan konsistensi dengan menyusun matriks perbandingan berpasangan seperti berikut: Menghitung Matriks I Matriks perbandingan berpasangan Matriks I Vektor prioritas A B C D E F A 1 2 2 3 4 5 2,493 0,346 B ½ 1 2 2 3 4 1,698 0,235 C ½ ½ 1 2 2 3 1,201 0,167 D 1/3 ½ ½ 1 2 2 0,831 0,115 E 1/4 1/3 ½ ½ 1 2 0,588 0,082 F 1/5 ¼ 1/3 ½ ½ 1 0,401 0,055 ∑ = 7,212 ∑ = 1,00 Menghitung Matriks II Matriks perbandingan berpasangan Matriks I Vektor prioritas A B C D E F A 1 2 2 3 4 5 0,346 2,098 B ½ 1 2 2 3 4 0,235 1,438 C ½ ½ 1 2 2 3 X 0,167 = 1,017 D 1/3 ½ ½ 1 2 2 0,115 0,704 E 1/4 1/3 ½ ½ 1 2 0,082 0,497 F 1/5 ¼ 1/3 ½ ½ 1 0,055 0,337 Matriks nilai prioritas Matriks II Vektor prioritas 2,098 0,346 6,064 1,433 0,235 6,098 1,017 : 0,167 = 6,090 0,704 0,155 6,122 0,497 0,082 6,061 0,337 0,055 6,127 ∑ = 36,562 λ = 36,562 : 6 = 6,094 CI = (6,094 – 6) / (6-1) = 0,0188 CR = 0,0188 / 1,24 = 0,015 < 0,1 (data konsisten) Berdasarkan hasil matriks vektor prioritas maka bobot masing-masing kriteria saluran drainasi dapat ditetapkan urusan sebagai berikut : Biaya awal = 34,6% Kekuatan / kemampuan menahan aliran = 23,5% Biaya pemeliharaan = 16,7% Kemudahan pemeliharaan = 11,5% Waktu pelaksanaan = 8,2% Estetika = 5,5% Kriteria dalam tahap ini diberi berdasarkan besarnya hasil proses hirarki analitik sedangkan skala penilaian terhadap kriteria tiap alternatif diberikan nilai 1-4, yang mempunyai arti : Nilai 1 = rendah Nilai 2 = wajar Nilai 3 = baik Nilai 4 = baik sekali Analisa matriks akan membahas tiga alternatif desain jaringan drainasi dari analisa untung ruhgi dengan kriteria seperti tersebut diatas. Penilaian dilakukan dengan memberi nilai 1-4 pada alternatif desai jaringan drainasi terhadap kriteria yang ditinjau angka tersebut digandakan dengan nilai dari kriteria yang ada (%) yang kemudian dijumlahkan, ini secara rinci dapat dilihat pada tabel berikut : Dua alternatif desain drainasi yang mempunyai nilai tertinggi adalah pipa beton tanpa tulangan dan pasangan batu kali tanpa plesteran, yaitu 326,1 dan 282,9. Ini akan dibahas lebih lanjut dalam tahap penegmbangan dan diusulkan sebagai desain akhir. 5. TAHAP PENGEMBANGAN Pada proses desain dilakukan uasaha untuk mentransformasikan kebutuhan sistem drainasi menjadi desain yang dapat memenuhi kebutuhan, yaitu untuk mengalirkan limpasan air kelebihan dengan debit yang ada ke tempat pembuanagn luar. Kebutuhan tersebut sebagai fungsi utama yang dapat diuraikan menjadi beberapa komponen fungsi yang lebih rendah. 5.1 Hitungan konstruksi Analisis teknis terhadap alternatif desain sistem drainasi perumahan Merapi View bertujuan untuk mengetahui segi teknis dari desain drainasi. Tahap-tahap dari analisis teknis adalah sebagai berikut : Analisis data curah hujan Analisis data topografi Menghitung intensitas hujan maksimum dan periode ulang Desain debit banjir rencana Desain saluran primer, skunder dan tersier Menghitung biaya konstruksi Secara umum spesifikasi untuk ketiga jenis saluran pada sistem drainase perumahan Merapi View sebagai berikut : Saluran Primer Panjang saluran : 510 m Dimensi saluran : 90×90 cm Material penampang : pasangan batu kali (plesteran 1:4) 2. Saluran Sekunder Panjang saluran : 1.260 m Dimensi saluran : 60 x 60 cm (saluran terbuka) : 40 x 50 cm (saluran tertutup) Material penampang : pasangan batu kali (plesteran 1:4) 3. Saluran Tersier Panjang saluran : 4.524 m Dimensi saluran : 35 x 45 cm (saluran tertutup) Material penampang : pasangan batu kali (plesteran 1:4) Contoh ini adalah gambar detai potongan pasangan batu kali plesteran (desain asli) : Biaya Awal Biaya awal untuk melaksanakan pembangunan dari kedua desain dapat dilihat pada Tabel 5.2 dibawah ini : Tabel 4.7 Biaya Pembangunan Saluran Drainase Perumahan Merapi View Model biaya awal hasil desain Tahap pengembangan Sistem : drainase perumahan Merapi View Fungsi : mengalirkan air kelebihan No. komponen Pipa beton tanpa tulangan Pasangan batu kali tanpa plesteran 1 Saluran primer Rp. . 75.408,50 Rp. 38.187.480,00 2 Saluran sekunder Rp. 28.666.466,71 Rp. 39.610.270,92 3 Saluran tersier Rp. 103.007.438,20 Rp. 123.467.299,60 Rp. 138.749.313,40 Rp. 201.265.050,90 Dari hasil analisis biaya diatas dapat dicarirasio fungsi utama dengan analsis fungsi hasil dari masing-masing alternatif desain drainase. Ratio dari fungsi sistem drainase tersebut dapat dicari dari membandingkan cost dan worth dari kedua alternatif desain drainase diatas. Hasil analsis biaya awal dari kedua alternatif desain drainase adalah sebagai berikut : Alternatif 1 : Rp. 138.749.313,40 Alternatif 2 : Rp. 201.265.050,90 Biaya untuk sistem drainase pada anggaran proyek perumahan Merapi View sebesar Rp. 207.798.389,00 dianggap sebagai coast. Maka ratio fungsi utama sistem drainase adalah sebagai berikut : Untuk alternatif 1 Untuk alternatif 2, Dalam rekayasa nilai, ratio antara 1 – 2, kecil kemungkinan terjadi pengehematan untuk studi analisis nilai. 5.3 Biaya Pemeliharaan dan Penggantian Biaya pemeliharaan adalah biaya yang digunakan untuk baiya opersional dan perawatan selama umur teknis. Untuk saluran drainase biaya pemeliharaan hanya meliputi biaya pembersihan saluran dari sampah dan lumpur akibat sedimentasi yang ada, tidak terdapat biaya operasional. Dengan mengasumsikan bahwa biaya pemeliharaan pad semua tipe penampang dan bentuk saluran adalah sama, serta dibutuhkan sekitar 5 pekerja untukmembersihkan saluran. Berdasarkan standart harga di Yogyakarta, upah pekerja sebesar Rp.2.500,00. Jika diasumsikan juga waktu pemeliharaan untuk saluran drainase per tahunnya adalah sebagai berikut : 5 x 12 x Rp. 2.500,00 = Rp 150.000/ tahun. Jika umur teknis saluran direncanakan 10 tahun, dengan inflasi diasumsikan sebesar 10% dapat dicari nilai pada waktu yang akan datang. 5.4 Biaya Siklus Hidup Biaya siklus hidup adalah biaya selama umur teknis dari proyek tersebut, yang meliputi biaya awal, dan biaya pemeliharaan serta biaya penggantian (padasaluran drainase tidak terdapat biaya penggantian karena nilai sisa 0%). Biaya dihitung dengan asumsi tingkat suku bunga 12% dan tingkat inflasi 10%, dan nilai sisa 0% untuk saluran drainase perumahan Merapi View. 6. TAHAP PRESENTASI Tahap ini merupakan tahap terakhir dari langkah kerja metode rekaya nilai. Tahap yang harus mempresentasikan hasil desain dalam bentuk nyata, yang meliputi : Memilih desain alternatif yang terbaik untuk diusulkan Membuat kesimpulan dan rekomendasi Membuat gambar-gambar atau sketsa dari desain yang dipilih Membuat biaya-biaya awal, pemeliharaan dan siklus hidup Menjelaskan tentang biaya penghematan Berdasarkan analisis yang telah dilakukan, maka : Diusulkan alternatif desain 1 (pipa beton tanpa tulangan) sebagai desain utama drainase perumahan Merapi View, sedangkan alternatif 2 (pasangan batu kali tanpa plesteran) sebagai cadangan. Biaya awal : Alternatif 1 : Rp. 138.759.313,40 Alternatif 2 : Rp. 201.265.050,90 Biaya pemeliharaan : Alternatif 1 : Rp. 896.730,60 Alternatif 2 : Rp. 896.730,60 Biaya penghematan Tabel 4.9 Tabel Biaya Biaya siklus hidup Pipa beton tanpa tulangan Pasangan batu kali tanpa plesteran Biaya awal Biaya O & M + nilai sisa Rp. 138.749.313,40 Rp. 896.730,00 Rp. 201.265.050,90 Rp. 869.730,00 Biaya total Rp. 139.646.044,00 Rp. 202.161.781,50 Penghematan total Rp. 69.049.075,60 Rp. 6.533.338,10 Penghematan tahunan Rp. 11.237.419,01 Rp. 1.063.270,68 Dari siklus hidup diatas dapat dilihat bahwa alternatif desain drainase 1 menghemat Rp.11.237.419,01 yang lebih besar jika dibandingkan dengan alternatif 2, dengan selisih penghematan sebesar Rp.10.174.148,33. Selisih penghematan siklus sebesar Rp. 62.515.737,50. Berikut gambar-gambar alternatif desain utama (pipa beton tanpa tulangan) dan desain cadangan (pasangan bat kali plesteran). PEMBAHASAN Dari tahapan-tahapan yang ditentukan pada proyek perumahan Merai View, membahas mengenai sistem penilaian pada analsis keuntungan dan kerugian, analsis kelayakan, analisis matriks dan biaya siklus hidup. Analisis Keuntungan dan Kerugian Sistem penilaian dnegan analsis keuntungan-kerugian sangat kurang tepat karena perbedaan nilai yang didapat oleh ide kreatif terhadap setiap kriteria sangat besar. Ide kreatif yang mempunyai kriteria biaya murah akan mendapat nilai (+3), sedangkan ide kreatif lain yang mempunyai biaya awal mahal mendapat nilai (-3). Dalam kasus ini jumlah nilai yang didapat ide kreatif antara –10 sampai +10. Hasil dari analsis keuntungan-kerugian dari masing-masing ide kreatif berdasarkan urutan rangking tertinggi didapat total nilai masing-masing adakah nilai 4 untuk pipa beton tanpa tulangan, nilai 3 untuk pasangan batu kali tanpa plesteran, nilai 0 untuk pipa PVC dan pipa tanah liat. Analisis Kelayakan Hasil analisis tingkat kelayakan bahwa 4 urutan tertinggi adalah pipa beton tanpa tulangan (nilai 50), pasangan batu kali tanpa plesteraan (nilai 40), dan pipa tanah liat (nilai 39). Nilai total tersebut adalah meruapkan hasil penilaian saluran drainase tersebut terhadap parameter yang ada. Pada analsis tingkat keyakan setiap kriteria dipengaruhi lebih dari satu faktor sehingga sistem penilaian saling mempengaruhi antara faktor yang satu dengan yang lainnya. Misalkan waktu pelaksanaan terhadap salah satu ide kreatif dipengaruhi oleh waktu perancangan kembali, waktu pemesanan kembali dan waktu pelaksanaan di lapangan. Penilaian ini meliputi parameter : penggunaan teknologi, biaya pengembangan, kemungkinan duterapkan, waktu pelaksanaan, keuntungan biaya potensial dan sarana alat kerja. Dari hasil analisis kelayakan dapat dibuat kesimpulan bahwa saluran drainase alternatif yang mempunyai rangking tertinggi adalah pipa beton tanpa tulangansebgai alternatif pertama pasangan batu kali tanpa plesteran sebagai alternatif kedua. Analisa Matriks Hasil dari analsis matriks menunjukkan bahwa pipa betaon tanpa tulangan mempunyai nilai total lebih tinggi jika dibandingkan pasangan batu kali tanpa plesteran. Nilai total adalah jumlah hasil penggandaan bobot dari parameter dengan skala penilaian terhdap parameter tersebut. Parameter tersebut terdirid ari biaya awal (A), kekuatan / kemampuan menahan alira (B), biaya pemeliharaan (C ), kemudahan pemeliharaan (D), waktu pelaksanaan (E) dan estetika (F). Parameter yang memiliki bobot paling tinggi adalah biaya awal (34,4%), kekuatan / kemampuan menahan aliran (23,5%), biaya pemeliharaan (16,7%), kemudahan pemilharaan (11,5%), waktu pelaksanaan (8,2%) dan estetika (5,5%). Nilai bobot diatas digunakan untuk analsis matriks dimana hasil penilaian matriks didapatkan dua desain alternatif yang mempunyai nilai tertinggi yaitu: pipa beton tanpa tulanagn bernilai 326,1 dan pasangan batu kali tanpa plesteran bernilai 282,9. Kedua alternatif tersebut diajukan dalam tahap pengembangan dan disusulkan sebagai desain akhir. Analisis Biaya Hasil analsis biaya awal dari kedua alternatif adalah sebagai berikut : Pipa beton tanpa tulangan Rp. 138.749.313,40 Pasangan batu kali tanpa plesteran Rp. 201.265.050,90 Didapatkan ratio = Pipa beton tanpa tulangan, ratio 1,48 < 2 Pasangan batu kali tanpa plesteran, ratio 1,03 < . Pada tahap desain jika ratio > 1 maka dapat dilakukan rekayasa nilai sehingga didapatkan penghematan. Jika pada tahap konstruksi ratio < 2, maka tidak perlu dilakukan rekayasa nilai. Biaya Siklus Hidup Pada tahap pengembangan hanya dua alternatif yang dikembangkan lebih lanjut dalam bentuk perhitungan saluran drainase dan perhitungan harga, yaitu saluran pipa beton tanpa tulangan dan pasangan batu kali tanpa plesteran. Biaya ini dihitung dnegan asunsi tingakt bunga 12%, tingkat inflasi 10% dan nilai sisa 0%. Biaya siklus hidup pada saluran drainase adalah terletak pada pemeliharaaan saluran drainase, yang meliputi pembersihan saluran dari sampahdan lumpur akibat sedimentasi yang ada, tidak terdapat biaya operasional. 1. Pipa beton tanpa tulangan sebagai desain utama untuk membutuhkan biaya pemeliharaan sebesar Rp. 150.00,00 dan biaya selama siklus hidup sebesar Rp. 2.629.500,00 (prenent worth). Dari segi biaya operasi dan pemeliharaan serta biaya awal dari saluran drainase terjadi penghematan biaya sebesar Rp. 69.049.075,60 selama sklus hidup (PW) dan penghematan tahunan sebesar Rp. 11.237.419,01. Sedangkan penghematan siklus hidup 10 tahun yang akan datang Fn = P ( 1+ i )n; F10 = Rp. 69.049.075,60 (1 + 0,12 )10 = Rp. 214.445.947,70. 2. Pasangan batu kali tanpa plesteran sebagai desain cadangan membutuhkan biaya pemeliharaan sebesar Rp 150.000,00 dan selama siklus hidup membutuhkan biaya Rp. 2.629.500,00 (Present Worth). Jika ditinjau secara keseluruhan baik itu biaya operasi dan pemeliharaan serta biaya awal dari saluran drainase, dapat menghemat biaya sebesar Rp. 6.533.338,10 selama siklus hidup (PW) dan menghemat Rp 1.063.270,68 setiap tahun. Penghematan siklus hidup 10 tahun yang akand atang Fn= P ( 1 + i )n ; F10 = Rp.6.533.338,10 (1+0,12)10 = Rp. 20.291.556,43. Jadi pipa beton tanpa tulangan lebih hemat daripada pasangan batu kali tanpa plesteran, sehingga pipa beton tanpa tulangan diajukan sebagai desain utama dan pasangan batu kali tanpa plesteran sebagai desain cadangan. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Dari uaraian dan pembahsan diatas, dalam penerapan analsia rekayasa nilai terhadap saluran drainase pada Perumahan Merapi View Yogyakarta didapat beberpa kesimpulan sebagai berikut : Dari analsis keuntungan dan kerugian, analsis kelayakan dan analisis matriks didapat kan rangking alternatif-alternatif desain d=aluran drainase adlah : pipa beton tanpa tulangan, pasangan batu kali tanpa plesteran, pipa PVC dan pipa tanah liat. Dari analisis biaya awal, siklus hidup dan penghematan yang diperolah didapatkan usulan desain utama adalah pipa beton tanpa tulangan dengan biaya awal sebesar Rp. 138.749.313,40, sedangkan buaya siklus hidup sebesar Rp. 139.646.044,00 dan penghematan sebesar Rp.69.049.075,60 Dari analisis biaya awal, siklus hidup dan penghematan sebagai usulan desain cadangan adalah pasangan batu kali tanpa plesteran dengan biaya awal sebesar Rp. 201.265.050,90 sedangkan biaya siklus hidup sebesar Rp. 202.161.781,50 dan penghematan sebesar Rp. 6.533.338,10. Sebagai desain utama adalah pipa beton tanpa tulangan, sedangkan sebagai desain cadangan adalah pasangan batu kali tanpa plesteran. Pada tahap desain jika ratio > 1 maka dapat dilakukan rekayasa nilai, jika tahap konstruksi ratio < 2 tidak perlu dilakukan rekayasa nilai. SARAN Dari studi rekayasa nilai ini dapat diberikan beberapa saran antara lain : Sebaiknya setiap proyek melakukan rekayasa nilai pada tahapan awal proyek (tahap perencanaan / desain), sehingga akan didapat penghematan biaya yang optimal. Hendaknya konsultan perencana mengerti tentang ilmu rekayasa nilai sehingga dari awal perencanaan sudah ditetapkan rekayasa nilai. Diperlukan suatu tim rekayasa nilai yang penuh kreatifitas sehingga akan bermunculan ide-ide yang kreatif dalam alternatif-alternatif yang bisa diterapkan pada suatu masalah. Sebaiknya didalam studi analisis nilai harus didapatkan ratio > 2, karena akan didapatkan penghematan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: