SOP Memasang Dinding Batu Bata

Trinela Fibrian Engga Setia 05 11 0008

Eko Bagus Sampurno 05 11 0004

SOP MEMASANG DINDING BATU BATA DENGAN PERKUATAN ANGKUR“

I. INFORMASI LATAR BELAKANG

1. Pendahuluan

Pasangan batu bata adalah kumpulan batu bata yang disusun dan disatukan

dengan menggunakan adukan mortar sebagai bahan perekat, sehingga

membentuk konstruksi pada bagian bangunan tertentu. Salah satu komponen

bangunan yang biasa dibuat dari pasangan batu bata adalah dinding. Pada

bangunan sederhana (rumah tinggal dan bangunan sederhana satu lantai

lainnya), dinding berfungsi sebagai komponen struktur untuk menyangga

beban-beban bangunan yang ada di atasnya dan sekaligus berfungsi sebagai

partisi (pembatas/penyekat antar ruangan). Pada bangunan gedung ber-

tingkat, umumnya struktur utama berupa struktur rangka/portal yang dibuat

dari material beton bertulang atau baja, sedangkan tembok hanya berfungsi

sebagai penyekat/partisi.

Pasangan dinding batu bata, menurut ketebalannya, dapat dibedakan

menjadi: pasangan setengah batu, pasangan satu batu, dan pasangan satu

setengah batu. Dalam perkembangannya, pasangan satu batu dan satu

setengah batu tidak lagi digunakan, karena beberapa alasan mendasar, di

antaranya:

a. Pada bangunan modern, dinding lebih difungsikan sebagai

partisi/penyekat dan bukan struktur utama yang menahan beban

b. Pekerjaan rumit, butuh waktu lebih lama, dan biaya konstruksi mahal.

c. Pasangan batu bata bersifat getas, dan pasangan satu batu maupun satu

setengah batu sangat berat, sehingga akan membahayakan jika terjadi

gempa bumi.

d. Bangunan tahan gempa harus bersifat ringan dan daktail, sehingga

perkuatan beton bertulang menjadi kunci utama dan bukan pada ketebalan

dindingnya.

Atas dasar alasan-alasan di atas, pembahasan dalam modul ini hanya

ditekankan pada pasangan setengah batu dengan perkuatan rangka beton

bertulang untuk bangunan tahan gempa.

2. Dinding bangunan sederhana tahan gempa

Unsur-unsur pembentuk pasangan dinding/tembok terdiri dari:

a. bahan pengisi pasangan, yang dapat berupa bata merah, batako ataupun

bataton.

b. bahan perekat pasangan (mortar 1 : 4), yang merupakan campuran antara

air, pasir, semen, dan bahan tambah, jika diperlukan.

Bata yang ideal mempunyai ukuran 6 x 12 x 24 cm, tetapi bata yang sekarang

diproduksi mempunyai ukuran yang lebih kecil. Untuk mengetahui kekuatan

bata dapat dilakukan pengujian secara sederhana, yaitu dengan cara sebagai

berikut: Sebuah bata diletakkan di atas dua bata yang lain (setiap bata

penumpu menahan ± ¼ panjang bata yang diuji), sehingga ± ½ panjang bata

yang diuji menjadi bebas (tidak tertumpu), kemudian dipijak dengan satu

telapak kaki orang dewasa. Apabila bata pecah, maka kualitasnya tidak baik.

Selain itu, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi, yaitu:

a. Mempunyai bentuk yang persegi, lurus, dan seragam.

b. Dibakar pada suhu yang tepat, sehingga secara visual terlihat berwarna

merah tua.

c. Tidak retak dan tidak cacat (tidak sompel).

d. Tahan bila direndam.

Pada daerah rawan gempa, agar diperoleh hasil pasangan dinding yang

memenuhi kualifikasi teknis dan estetis, perlu diperhatikan syarat

ikatan/susunan batu bata berikut:

a. Hubungan batu bata dibuat sesederhana mungkin agar mudah

dilaksanakan.

b. Menghindari penggunaan batu bata yang ukurannya kurang dari setengah

batu bata utuh.

c. Tidak boleh ada siar tegak yang segaris lurus untuk dua lapisan berturut-

turut atau lebih (idealnya terdapat selisih setengah bata untuk antar lapis).

d. Siar tegak dan datar harus benar-benar lurus.

e. Seluruh siar terisi penuh adukan.

f. Tebal siar minimum 8 mm, maksimum 15 mm, dengan ketebalan siar yang

ideal berkisar 10 mm.

g. Adukan siar yang digunakan dibuat dengan komposisi perbandingan

volume 1 semen : 4 pasir, yang diaduk dengan ½ air (jika pasir dalam

kondisi jenuh kering muka)

h. Setiap luasan maksimum 9 m

2

harus diperkuat/dibingkai dalam struktur

rangka (balok dan kolom).

Gambar 1. Konsep perkuatan dinding dengan rangka beton bertulang

i. Dinding bata dan kolom disatukan dengan angkur berdiameter minimum

10 mm dengan panjang penyaluran/tertanam di setiap bagian minimal 40

cm.

j. Hasil akhir permukaan dinding rata dan tegak.

Angkur yang telah dibentuk, siap untuk digunakan dalam tahap pemasangan

dinding batu bata. Pemasangan angkur sebagai perkuatan hubungan dinding

tembok dengan kolom dapat dilakukan dengan cara berikut:

a. Tembok dipasang terlebih dahulu, sehingga angkur dapat diletakkan

secara langsung di atas setiap 6 (enam) lapis pasangan batu bata, dan

menembus rangkaian tulangan kolom yang belum dicor. Apabila pasangan

dinding batu bata telah mencapai ketinggian yang diinginkan, selanjutnya

sisi muka dan belakang kolom ditutup dengan bekisting dan dilakukan

pengecoran.

b. Rangkaian tulangan kolom disiapkan dan dipasang dalam bekisting sesuai

dengan gambar kerja. Selanjutnya sisi-sisi bekisting yang akan dipasang

angkur, diukur dan dilubangi/dibor, kemudian dilakukan pengecoran.

Setelah 14 hari, bekisting dibuka, dan dilanjutkan dengan pemasangan

dinding batu bata.

c. Pada proyek berskala besar ataupun pada kasus perbaikan bangunan

yang telah ada (existing structures), yang dilaksanakan dengan peralatan

yang memadai, pemasangan angkur dapat juga dilakukan pada kolom

yang telah selesai proses pembetonannya. Kolom beton bertulang

dilubangi/dibor (pengeboran harus dilakukan dengan cermat dan dihindari

kerusakan pada tulangan terpasang), kemudian dilanjutkan dengan

pemasangan dinding batu bata. Cara ini sangat jarang dilaksanakan,

karena selain memerlukan peralatan yang memadai, juga harus dilakukan

dengan teliti, agar selama pengeboran tidak mengenai baja tulangan, dan

tidak merusak/mengurangi kekuatan lekatan antara baja tulangan dengan

beton di sekelilingnya.

3. Tata cara pelaksanaan pekerjaan

Untuk memperoleh hasil pekerjaan yang optimal dan memenuhi standar

teknis, pada dinding batu bata yang sedang dikerjakan (konstruksi baru), perlu

dipersiapkan alat dan bahan sebgai berikut:

a. Alat:

1) Waterpass

2) Benang

3) Unting-unting

4) Siku rangka

5) Meteran

6) Profil

7) Sendok spesi

8) Pensil

9) Pemotong bata

10)Palu

11)Bak spesi

12)Ember/sekop

13)Cangkul

b. Bahan:

1) Batu bata (memenuhi syarat seperti dijelaskan sebelumnya).

2) Angkur terbuat dari baja tulangan diameter 10 mm sampai 12 mm

(kondisi baik, tidak berkarat, tidak berminyak, bukan besi bekas).

3) Semen (PC kemasan 50 kg atau PPC kemasan 40 kg, tidak mengeras,

kering, warna seragam).

4) Pasir (berasal dari sungai/darat, tidak mengandung lumpur dan bahan

organik).

5) Air (layak minum, tidak berasa, tidak berwarna, tidak berbau).

c. Langkah kerja:

1) Persiapan pekerjaan

a) Mempelajari gambar kerja.

b) Mengenakan pakaian serta perlengkapan kerja lainnya.

c) Membuat adukan dengan komposisi 1 semen : 4 pasir, yang diaduk

dengan ½ air (jika pasir dalam kondisi jenuh kering muka),

kemudian meletakkannya dalam kotak spesi.

d) Mempersiapkan alat dan batu bata yang diperlukan, sebaiknya bata

direndam terlebih dahulu, agar tidak terlalu kering dan tidak

menyerap air spesi sehingga diperoleh kekuatan lekat yang baik.

e) Menentukan dan mengatur tata letak pekerjaan dengan tujuan:

(i) Menghindari kecelakaan kerja

(ii) Tersedianya ruang gerak yang cukup leluasa saat bekerja

(iii)Meningkatkan produktivitas

(iv)Menghindari tercecernya material yang bisa mengakibatkan

pemborosan

(v) Menambah semangat kerja

2. Pelaksanaan pemasangan batu bata

Agar diperoleh hasil pasangan bata yang baik, dalam memasang satu buah

batu bata diusahakan cukup hanya sekali mengambil dan meletakkan

adukan/spesi. Cara meletakkan batu bata didorong mendatar seperti pesawat

terbang mendarat, sehingga ujung batu bata akan mendorong adukan dan

akhirnya mengisi siar tegak. Cara ini memerlukan sendok yang cukup

panjang, dan sebaiknya digunakan sendok spesi segitiga. Langkah kerja

pemasangan batu bata, sebagai pasangan dinding untuk rumah dan

bangunan tahan gempa, adalah sebagai berikut:

a. Mempersiapkan alat dan bahan secukupnya di tempat yang aman dan

mudah dijangkau.

b. Menentukan ukuran pekerjaan dan memasang profil (terbuat dari kaso 5/7

cm) di luar kedua ujung pasangan sejauh 50 cm, dan tegakkan profil

dengan menggunakan unting-unting

c. Mengukur ketinggian lapis pertama pasangan dinding dengan pedoman

elevasi sloof dan lantai di bawahnya dengan selang plastik berisi air atau

water pass.

d. Menentukan ketebalan setiap lapis

pasangan bata dengan

memperhitungkan tebal bata dan siar.

e. Memberikan tanda untuk setiap ketinggian lapisan pasangan bata, dari

lapis ke-1 sampai ke-20, pada kedua profil yang telah dipasang.

f. Merentangkan benang dan mengikat pada tanda elevasi di kedua profil

g. Memasang lapisan batu bata dengan mengontrol kelurusan ke arah

horisontal dan ketegakan ke arah vertikal pada setiap lapisannya.

h. Memindahkan benang ke tanda elevasi lapis kedua, setelah lapis pertama

selesai, dan melakukan pemasangan selanjutnya.

i. Memasang angkur dengan panjang penyaluran/tertanam minimal 40 cm,

setiap 6 lapis batu bata pada bidang dinding.

j. Mengulangi langkah-langkah pemasangan di atas sampai pekerjaan

selesai.

k. Membersihkan ruang kerja dari adukan yang tercecer, cucilah alat dan

kembalikan ke tempat semula.

3. Perawatan pasangan batu bata

Untuk mecapai hasil yang optimal, selama proses pengerasan bahan adukan

diperlukan kelembaban yang memadai. Oleh sebab itu, perlu dilakukan

perawatan dengan menyiram dinding secara berkala selama minimal 7

sampai 14 hari.

4. Tata cara pemasangan bataton (Hollow Concrete Block)

Selain batu bata, material lain yang dapat digunakan sebagai alternatif untuk

komponen dinding adalah bataton (bata terbuat dari beton). Untuk

memperoleh kualitas bangunan yang baik, harus digunakan bataton yang

memenuhi standar, tidak mudah retak dan pecah. Di samping itu, juga perlu

diperhatikan cara pemasangan bataton yang diperkuat dengan penulangan

arah vertikal dan horisontal sebagai berikut:

a. Memasang lapisan mortar setebal 1 cm di atas permukaan sloof.

b. Melubangi dasar blok beton (bataton) dan menempatkannya dalam posisi

terbalik (lubang bataton menghadap ke bawah) di atas sloof, dengan

melewati besi tulangan kolom dan besi tulangan dinding di sebelahnya.

Rongga-rongga dari blok tersebut diisi dengabeton dan kemudian

dipadatkan.

c. Pada bagian sudut bataton, setiap 2 (dua) lapis bataton dipasang angkur

berdiameter 8 mm.

d. Pemasangan blok-blok bataton dilanjutkan sampai ke kolom dari ujung

dinding yang lain. Proses pemasangan dilanjutkan dengan cara yang

sama dengan proses pada butir c di atas.

e. Untuk lapisan kedua dari blok-blok pembentuk dinding, pertama-tama

diberi lapisan mortar setebal 1 cm di atas Iapisan pertama, kemudian

memasukkan lagi sebuah blok sudut melewati besi tulangan vertikal, tetapi

sekarang posisinya diputar 90o

f. Untuk setiap lapisan ke-4 (empat), dipasang 1 besi tulangan berdiameter 8

mm, dari satu ujung dinding ke ujung dinding yang lain, dan mengkaitkan

tulangan horisontal tersebut ke tulangan vertikal pada kolom-kolom

dengan cara penyambungan sesuai gambar. Agar praktis, sebaiknya

angkur berdiameter 8 mm tersebut disambung di tengah dinding, dan

saling berimpitan sepanjang 350 mm.

g. Setelah lapisan kesembilan, harus dilakukan penyambungan bagian paling

atas dari tulangan vertikal dengan bagian paling bawahnya. Untuk itu,

harus dibuat sebuah perancah yang ketinggiannya diatur mengikuti

kemajuan pekerjaan pemasangan dinding.

h. Pada puncak dinding harus dipasang balok atas (ring balk) dengan 4 besi

tulangan berdiameter 8 mm. Tulangan vertikal dari dinding dan kolom-

kolom harus dibuat saling berhubungan serta bersambungan dengan

tulangan horizontal dari balok atas. Beton yang dituang ke dalam balok

atas harus diratakan dan dihaluskan.

Gambar 7. Pemasangan bagian atas dinding bataton

i. Sebelum adukan beton dituang ke dalam balok atas, angkur-angkur yang

akan dipakai untuk memasang/ mengikat rangka atap kayu terlebih dahulu

ditempatkan, sesuai posisi yang direncanakan dalam gambar kerja.

5. Kesehatan dan keselamatan kerja

Hal-hal yang perlu diperhatikan untuk menjamin kesehatan dan keselamatan

kerja antara lain:

  1. Memakai pakaian kerja dengan lengkap dan benar

b. Membersihkan tempat kerja dari kotoran yang mengganggu.

c. Menempatkan alat-alat dan bahan-bahan di tempat yang mudah dijangkau

dan aman untuk mendapatkan ruang kerja yang ideal.

d. Menggunakan alat sesuai dengan fungsinya.

e. Tinggi pasangan dinding yang dikerjakan maksimum 1 meter agar tidak

roboh.

f. Menggunakan perancah/steger yang cukup kokoh untuk pemasangan

dinding yang lebih tinggi.

g. Tidak memegang spesi dan terlalu sering mencuci tangan saat bekerja

memasang bata, karena dapat mengakibatkan iritasi pada kulit telapak

tangan.

  1. h. Bekerja dengan teliti, hati-hati dan penuh konsentrasi

Standart Operasional Procedure Memasang Kontruksi Tangga Bata

MEMASANG KONSTRUKSI

TANGGA BATA

  1. Pengertian dan Penggunaan Tangga

Konstruksi tangga dari bangunan gedung adalah bagian dari

bangunan yang berfungsi sebagai alat penghubung dari tingkatan-

tingkatan lantai bangunan gedung tersebut. Tingkatan lantai yang perlu

dihubungkan antara lain : (1) dari tanah ke lantai dasar (ground floor),

(2) dari lantai dasar ke lantai pertama (first floor) dan dari lantai pertama

ke lantai kedua (second floor), dari lantai kedua ke lantai ketiga (third floor)

dan seterusnya dan (3) dari tanah/lantai dasar ke lantai di bawah tanah

(basement).

Konstruksi tangga dapat dibuat dari bahan-bahan kayu; pasangan

batu (batu kali-batu merah); beton (bertulang atau tidak bertulang); besi

atau baja. Sedangkan letak tangga dalam suatu bangunan gedung

tergantung dari jenis/macam dari bangunan tersebut, yaitu bangunan

perumahan atau bangunan umum. Bangunan umum adalah bangunan

yang banyak dikunjungi oleh umum antara lain gedung kantor; gedung

pertunjukan; gedung pasar termasuk “super market”; gedung pertokoan

termasuk pusat-pusat pertokoan (shoping centre-department store);

gedung hotel; gedung lapangan terbang/bandar udara (air-port) dan

pelabuhan (harbour).

Konstruksi tangga harus memenuhi dua syarat; (1) mudah

dipergunakan dan (2) mudah dilihat. Mudah dipergunakan terutama

berhubungan dengan kemiringan dari tangga. Makin datar dari suatu

tangga makin mudah dipergunakan sedangkan makin curam makin sulit

dipergunakan. Penentuan kemiringan tangga atau sudut kemiringan

tangga pada umumnya tergantung untuk keperluan apa tangga tersebut

dibuat. Sebagai pedoman dapat diambil ketentuan sebagai berikut :

1. Untuk tangga mobil masuk garasi dapat diambil sudut kemiringan

maksimum 12 ½0atau 1 : 8.

2. Untuk tangga luar (di luar bangunan) dapat diambil sudut kemiringan 0

atau 1 : 5.

3. Untuk tangga perumahan dan bangunan umum agar mudah

dipergunakan dapat diambil sudut kemiringan 30º atau 350

4. Tangga dengan sudut kemiringan 410, disebut tangga curam.

5. Tangga untuk “basement” dan loteng dapat diambil dengan sudut

kemiringan 450

.

6. Tangga untuk menera, misalnya menara air, menara listrik dapat

diambil lebih curam, misalnya 750– 900

Mudah dilihat terutama berhubungan dengan dengan letak dalam suatu

bangunan agar dengan mudah dilihat orang. Syarat ini penting sekali

terutama untuk bangunan-bangunan umum, sedang untuk bangunan

perumahan tidak begitu perlu karena yang menggunakan tangga adalah

orang-orang tertentu yaitu dari kalangan keluarga sendiri. Pada bangunan

besar seperti gedung-gedung kantor yang besar yang pada umumnya

mempunyai pegawai banyak, perlu diadakan tangga khusus untuk

melayani para pegawai tersebut dan dinamakan tangga dinas. Tangga

dinas ini seperti halnya tangga untuk perumahan biasa, tidak perlu

memenuhi syarat mudah dilihat. Juga tangga untuk gudang dan ruangan

di bawah tanah (basement).

Pada umumnya tangga-tangga ini diletakkan dalam ruangan

tersendiri yang disebut ruang tangga. Ruang tangga ini harus

mendapatkan penerangan yang cukup, untuk itu sebaiknya ditempatkan

pada bagian gedung yang berbatasan dengan luar dan diberi jendela

biasa atau jendela atas dari kaca sehingga sinar dari luar dapat langsung

memberi penerangan dalam ruang tangga. Untuk bangunan yang terdiri

dari beberapa lantai (bangunan bertingkat) agar mudah pelaksanaan dari

segi konstruksi, sebaiknya tangga-tangga diletakkan dalam ruangan-

ruangan yang satu di atas yang lain dalam arah satu garis tegak dari

bawah ke atas.


Selain menggunakan tangga, untuk keperluan hubungan antara

ruangan-ruangan pada tingkatan-tingkatan lantai yang berlainan terutama

yang bertingkat banyak, digunakan pula lift. Lift ini bekerja secara masinal

(memakai mesin listrik). Penggunaan lift relatif mahal, baik harga lift dan

biaya pemasangannya maupun biaya pemeliharaannya, maka pada

umumnya hanya digunakan untuk bangunan-bangunan yang minimum

bertingkat tiga atau empat lantai. Walaupun telah menggunakan lift,

pembuatan tangga masih tetap diperlukan dengan maksud : orang dapat

memilih di antara dua macam alat penghubung ini (tangga atau lift) dan

tangga tetap diperlukan dalam keadaan darurat, misalnya lift macet

(rusak). Untuk bangunan-bangunan yang banyak sekali dikunjungi orang

misalnya pertokoan digunakan pula tangga berjalan “escalator”. Tangga

ini juga bekerja secara masinal dengan tenaga listrik. Untuk keperluan

keamanan, terutama untuk bangunan-bangunan yang bertingkat banyak

perlu diadakan tangga untuk mengantisipasi bahaya kebakaran/tangga

darurat. Tangga ini umumnya berbentuk sederhana dibuat dari besi dan

diletakkan di luar menempel pada gedung.

Konstruksi pasangan tangga pada batas antara permulaan tangga

dan lantai perlu diberi ruang antara. Fungsi ruang antara ini untuk

memberi kesempatan kemungkinan tumbukan antara orang yang akan

naik tangga dari ruang lain dengan orang yang turun dari tangga dar

lantai atas.

B. Jenis Tangga

Pasangan konstruksi tangga dibagi menjadi empat jenis pokok yaitu

(1) tangga lurus,

(2) tangga miring,

(3) tangga berporos dan

(4) tangga lengkung.

Keempat jenis tangga ini dapat diadakan gabungan (kombinasi)

yang masing-masing akan membentuk jenis tangga baru.

Tangga lurus ganda terdiri dari tangga lurus yang dihubungkan

dengan bordes/”landing” (tempat pemberhentian). Bordes ini

dipergunakan apabila perbedaan lantai yang satu dengan yang lain agak

besar dan pada umumnya bordes diletakkan di tengah-tengah atau tinggi

bordes antara 2,00-2,50 m dari bawah lantai. Jika perbedaan tinggi lantai

besar sekali maka dapat digunakan dua bordes atau lebih.

Tangga melengkung dapat diletakkan pada (1) tembok lurus dan

(2) tembok melengkung.

Gambar 8. Konstruksi Tangga Melengkung.

Pada umumnya perencanaan suatu tangga selain tergantung pada

jenis bangunan (perumahan atau bangunan umum), juga tergantung pada

ruangan-ruangan yang akan diberi tangga dan luas ruangan yang tersedia

untuk tangga. Untuk bangunan-bangunan umum yang biasanya tersedia

ruangan-ruangan yang cukup luas, sedapat mungkin digunakan tangga

lurus dengan atau tanpa bordes. Keuntungan dari tangga lurus adalah

selain mudah dalam pelaksanaan pembuatannya juga mudah

dipergunakan/dilalui dan ekonomis.

Untuk tangga dinas atau tangga perumahan tidak perlu

menggunakan tangga lurus, tetapi tergantung pada luas ruangan yang

tersedia dan yang ekonomis walaupun agak sukar dalam pelaksanaan

pembangunannya, misalnya dibuat konstruksi 2/4 atau ¾ putaran.

Berdasarkan letak tangga dalam suatu ruangan dapat dibedakan

tangga terbuka (open stairs) dan tangga tertutup (closed stairs). Tangga

terbuka adalah tangga yang terbuka untuk suatu ruangan atau hall pada

suatu sisi (kadang-kadang terbuka pada kedua sisinya). Tangga tertutup

adalah tangga yang tertutup pada kedua sisinya oleh dinding penyekat

atau tembok.

C. Ukuran Tangga dan Bagian-Bagian Tangga

Mengingat bangunan konstruksi tangga pada suatu bangunan

gedung selain tergantung dari jenis bangunan juga tergantung pada

macam ruangan yang dihubungkan oleh tangga tersebut dari tingkatan

yang berlainan, maka perlu ada ketentuan ukuran lebar tangga dan

bagian-bagian tangga.

1. Ukuran Tangga.

Lebar tangga untuk perumahan biasanya diambil 90 cm (80-100 cm).

Sedang lebar tangga untuk bangunan umum pada dasarnya

tergantung pada berapa/jumlah orang yang secara bersama-sama

dapat menggunakan tangga tersebut yaitu : untuk 1 orang = 110 cm,

untuk 2 orang = 130 cm dan untuk 3 orang = 190 cm. Untuk ruangan-

ruangan yang kurang/tidak banyak dilalui orang dapat diambil ukuran

lebar tangga : 60-70 cm, misalnya untuk loteng = 70 cm,

gudang/ruangan di bawah tanah = 60 cm.

2. Bagian-bagian Tangga.

Konstruksi tangga yang sederhana berupa tangga terbuka dan pada

umumnya digunakan di luar bangunan. Tangga terbuka ini terdiri :

bidang-bidang injakan (tread) dan bidang-bidang penutup (string).

Jika tangga mempunyai ketinggian misalnya 2,00 m, perlu diberi

sandaran. Tangga yang biasa digunakan pada bangunan-bangunan

umum adalah tangga tertutup terdiri dari :

1. Bidang injakan dengan ukuran tebal 2,5-3 cm.

2. Bidang sandungan dengan ukuran tebal 1,5-2 cm.

3. Bidang penutup dengan ukuran tebal 3,5-5 cm.

Gambar 11. Hubungan antara Bidang Injakan, Papan Sandungan dan

Papan Penutup.

Bidang injakan dan bidang sandungan disebut anak tangga. Bidang

injakan dikeluarkan/dilebihkan sedikit (3,5-4 cm) dari bidang sandungan

dan disebut “wel” atau “nosing”/hidung. Bidang injakan disebut “tread”,

bidang sandungan “riser” dan bidang penutup “strings”.

D. Perhitungan Tangga

Jarak antara bidang-bidang atas bidang injakan yang satu dengan

yang lain disebut “optrade”, jarak tegak “rise” (O). Sedangkan jarak antara

bidang-bidang muka bidang sandungan yang satu dengan yang lain

disebut “antrade”, jarak datar “run” (A).

Gambar 12. Hubungan antara Optrade dan Antrade.

Hubungan antara “Optrade” dan “Antrade” ditetapkan dalam bentuk rumus

(2 x O) + A = 61 – 65

Keterangan dari rumus di atas adalah bahwa satu langkah orang berkisar

antara 61-65 cm, untuk ukuran Indonesia dapat diambil 61 cm. Untuk

mengangkat kaki diperlukan kekuatan dua kali dari pada memajukan kaki.

Mengenai besar sudut kemiringan tangga dilanbangkan ( ). Jika diambil

sudut kemiringan ( ) = 35

0

= 0,7. Jadi :

Tg ( ) = O/A = 0,7 atau O = 0,7 A.

bila disubtitusikan dalam rumus didapat :

(2 x O) + A

= 61 –65

(2 x 0,7 A) + A

= 61 –65

2,4 A = 61 –65

A = (61 –65) : 2,4

Maka besar A dihitung dengan pembulatan.

E. Konstruksi Tangga Pasangan Batu Bata

Konstruksi tangga biasanya dibedakan menjadi (1) konstruksi

tangga dari kayu, (2) konstruksi tangga dari batu, (3) konstruksi tangga

dari beton bertulang dan (4) konstruksi tangga dari besi. Pada modul ini

secara khusus dibahas mengenai tangga yang terbuat dari batu. Tangga

dari batu lebih berat dari tangga kayu, sehingga diperlukan fondasi yang

lebih kuat. Keuntungannya adalah : (1) memiliki daya tahan lebih besar

terhadap pengaruh cuaca, (2) memiliki daya tahan terhadap penyusutan

dan bahaya kebakaran, (3) memiliki bentuk yang monumental. Sedangkan

kekurangan dari tangga batu ialah : (1) bahan yang berat sehingga perlu

penyokong yang kuat, (2) ikatan pasangan antara batu mempunyai

kekuatan tarik yang kecil, sehingga perlu hati-hati dalam memasangnya,

diusahakan sekecil mungkin menerima gaya tarik. Pada umumnya

konstruksi tangga dari batu digunakan untuk : (1) tangga luar yang

menghubungkan tanah dengan lantai dasar bangunan, terutama untuk

bangunan tempat tinggal, (2) tangga menuju “basement”, (3) tangga untuk

bengkel kerja dan gudang dan (4) tangga untuk bangunan umum yang

lain.

Konstruksi tangga pasangan batu bata sering disebut konstruksi

angga dari batu buatan. Konstruksi tangga semacam ini sedapat mungkin

dibuat dengan memperhatikan ukuran-ukuran dari batu bata, untuk

disesuaikan dengan konstruksinya. Untuk tangga dari batu bata yang tidak

terlalu tinggi, maka tangga tersebut dapat dijadikan satu dengan

fondasinya. Demikian pula untuk tangga yang seluruhnya dari batu bata,

perletakan tangga dapat ditempatkan di atas lengkung dari batu bata.

Cetakan pembuat lengkung dapat diambil dari tanah. Bidang injakan dan

penutup dari tangga batu bata dapat dibuat atau ditutup dengan teraso.

Tangga dari batu bata dapat juga diberi hiasan (“profileering”), perlu

diperhatikan bahwa tangga dari batu bata agar diusahakan jangan sampai

ada sudut-sudut yang runcing, karena mudah patah.

MEMASANG KONSTRUKSI TANGGA BATU BATA DI ATAS

TUMPUAN LANGSUNG (TANAH)

Pasangan konstruksi tangga batu bata ini digunakan biasanya pada

tangga di depan pintu di luar ruangan atau jenis-jenis pekerjaan yang

sejenis. Sebelum pasangan tangga dilaksanakan yang perlu mendapat

perhatian adalah tingkat kepadatan tanah yang menjadi tumpuan di

bawahnya. Jika kepadatan tanah kurang maka dikhawatirkan dalam waktu

tertentu pasangan tangga diatasnya dapat mengalami retak-retak atau

bahkan pecah. Hal ini dikerenakan proses pemadatan tanah sedang

berlangsung, sehingga tanah yang menunpu pasangan tangga diatasnya

tidak ada, sedangkan kelemahan utama pada pasangan batu bata adalah

tidak kuat menahan gaya tarik. Oleh karena itu sebelum pasangan tangga

batu bata dipasang tanah perlu dipadatkan. Proses pemadatan dapat

dilakukan dengan menumbuk tanah lapis demi lapis dengan alat

penumbuk disertai dengan disiram air, sehingga didapatkan tingkat

kepadatan yang cukup.

a. Cetok

b. Meteran/rol meter

c. Benang dan line bobbinss.

d. Penyiku.

e. Palu/martil ½ kg.

f. Blebes pelurus

g. Cangkul/sekop.


Rekayasa Nilai-JOB PLANT

Tugas Rekayasa Nilai

Trinela FES (05 11 0008)

Eko Bagus Sampurno (05 11 0004)

“JOB PLANT”

DALAM REKAYASA NILAI Rekayasa nilai adalah suatu metode untuk mengatasi penggunaan biaya yang tidak diperlukan. Suatu teknik yang telah diuji dapat dicari dengan pendekatan sistematik yaitu keseimbangan terbaik antara performansi dan biaya. Pendekatan sistematik pada rekayasa nilai disebut dengan Rencana Kerja (Job Plan). Rencana kerja dari rekayasa nilai merupakan kerangka dimana teknik-teknik saling terkait satus ama lain. Keterkaitan ini dapat dikelompokan dalam beberapa tahap, dimana apada masing-masing tahap dapat diterapkan teknik-teknik yang sesuai dengan permasalahan yang dihadapi. Agar proses perencanaan rekayasa nilai lebih efisien maka suatu tahap dapat diulangi beberapa kali samapai didapatkan hasil yang diinginkan. Pada dasarnya dari beberapa rencana kerja yang ada dalam pendektan dapat dikatakan hampir sama. Prosedur yang umum diapakai adalah standar rencana kerja 5 tahap yang terdiri dari : Tahap informaasi (information phase) Tahap kreatif (creative ohase) Tahap penilaian / analisis (judgement phase) Tahap pengembangan (development phase) Tahap presentas ( recommendation phase) Rencana kerja rekayasa nilai dimulai secara berurutan dari tahap informasi (1), kemudian tahap kreatif (2), tahap penenlitian (3), tahap pengembangan (4) dan tahap presentasi (5). Namun, dalam pelaksanaan, mungkin ada pada tahap penilaian (3), dibutuhkan data/ informasi baru, sehingga harus kembali ke tahap sebelumnya (1) atau (2) Tahap Informasi (information phase) Tujuan pada tahap ini adalah untuk menghimpun informasi dan pengetahuan sebanyak mungkin yang berhubungan dengan proyek yang akan direncanakan. Pekerjaan dalam tahap ini cukup rumit karena harus mengelompokkan informasi sesuai dengan jenis dan kebutuhan. Kualitas dan kesempurnaan informasi yang disediakan oleh pemilik dan perencana terhadap latar belakang proyek secara langsung mempengaruhi kualitas studi tim rekayasa nilai. Informasi yang diperlukan secara umum sebagai berikut: Kriteria desain Kondisi lapangan (topografi, kondisi tanah, lingkungan proyek, dan lain-lain) Peraturan-peraturan Elemen-elemen desain Latar belakang proyek Kendala-kendala yang ditetapkan terhadap proyek Fasilitas yang tersedia Persyaratan yang timbul dari partisipasi masyarakat (faktor keamanan pekerja) Perhitungan-perhitungan desain. Informasi yang didapat dari pemilik dapat mengurangi sasaran dari studi rekayasa nilai. Informasi tersebut dapat berupa pembatasan. Kriteria yang ditetapkan oleh pemilik yang tidak dapat diubah, akan mengurangi kebebasan tim rekayasa nilai untuk mengembangkan alternatif-alternatifnya. Model biaya digunakan sebagai metode pada pengorgansiasian biaya kedalam ruang lingkup yang dapat diidentifikasikan untuk menentukan bagian yang mempunyai biaya yang tinggi pada desain. Studi rekayasa nilai dikerjakan ata sdasar biaya siklus hidup. Biaya yang diperlukan dari perancang proyek tidak hanya perkiraan biaya awal saja, tetapi juga estimasi terhadap biaya operasi dan biaya pemeliharaan. Salah satu dari tugas tim rekayasa nilai yang pertama adalah mempelajari informasi biaya dari proek, jika muncul ketidaksesuaian dalam hal informasi dari perkiraan biaya seperti biaya satuan, satuan volume, sebaiknya dibicarakan ke perancang. Perkiraan biaya sebagai dasar untuk membandingkan rekeomendasi rekayasa nilai pada masa yang akan datang. Dengan penetapan dan pemeriksaan informasi biaya, langkah selanjutnya membuat model biaya. Model biaya yang biasa digunakan untuk rekayasa nilai adalah konsep matriks dengan membagi proyek dengan sistem dan perdagangan konstruksi. Model matriks biaya yaitu format pengorganisasian dengan membagi sistem dan perdagangan konstruksi. Sistem yang dimaksud adalah dengan memilah-milah sistem menjadi sub sistem atau pekerjaan. Sedangkan perdagangan konstruksi atau sumberdaya konstruksi adalah bahan atau alat yang digunakan untuk melaksanakan sistem tersebut. Sistem dan perdagangan konstruksi dengan model matriks biaya yaitu dengan memilah-milah dalam bentuk haorizontal (baris) dan jalur vertikal (kolom). Jalur horizontol untuk perdagangan konstruksi dan jalur vertikal untuk sistem (Tabel 3.2) Jumlah biaya maupun prosentase dari sistem dan perdagangan konstruksi dapar dilihat pada jalur vertikal dan horizontal. Jalur horizontal memebrikan informasi jumlah biaya atau % yang digunakan untuk perdagangan konstruksi dalam melakukan kegiatan tersebut, dan jalur vertikal memberikan informasi biaya atau % dari biaya yang digunakan untuk melaksanakan sistem atau sub sistem. Tabel 3.2 Tabel Matrik Biaya No Despresi Pekerjaan Site TAHAP INFORMASI % Biaya SYSTEM

No

Despresi

Pekerjaan

Site

TAHAP INFORMASI

%

Biaya

SYSTEM BREAKDOWN

1

2

3

4

5

6

7

8

9

1

Rp.X11

Rp X12

Rp.X13

Rp -

Rp -

Rp.X16

Rp.X17

Rp.X18

Rp.X19

Y ij

Rp Xij

2

Rp -

Rp X22

Rp.X23

Rp.X24

Rp -

Rp.X26

Rp.X27

Rp.X28

Rp.X29

Y ij

Rp Xij

3

Rp -

Rp X32

Rp.X33

Rp.X34

Rp -

Rp.X36

Rp.X37

Rp.X38

Rp.X39

Y ij

Rp Xij

4

Rp -

Rp -

Rp -

Rp -

Rp.X45

Rp -

Rp -

Rp -

Rp -

Y ij

Rp Xij

5

Rp -

Rp -

Rp.X53

Rp -

Rp -

Rp -

Rp -

Rp -

Rp -

Y ij

Rp Xij

6

Rp -

Rp X62

Rp –

Rp.X64

Rp.X65

Rp-

Rp -

Rp -

Rp -

Y ij

Rp Xij

7

Rp -

Rp -

Rp.X73

Rp -

Rp -

Rp -

Rp.X77

Rp -

Rp -

Y ij

Rp Xij

8

Biaya ∑ Xij

I=1

Rp Xij

Rp Xij

Rp Xij

Rp Xij

Rp Xij

Rp Xij

Rp Xij

Rp Xij

Rp Xij

100

% subsistem

8

X

Y ij

Y ij

Y ij

Y ij

Y ij

Y ij

Y ij

Y ij

Y ij

% dari sistem

8

∑Yij

ij

8 5

∑ ∑ Y ij

i=1 j=2

8 9

∑ ∑ Y ij

i=1 j=6

konstruksi j = kegiatan dari sistem/ subsistem Model matriks biaya secara lengkap memberikan informasi yang jelas tentang biaya yang diperlukan untuk mengerjakan suatu sitem/pekerjaan atau besarnya presentase (%) dari pekrajaan tersebut. Disamping itu juga akan mudah mengentahui bahan yang dibutuhkan oleh suatu pekerjaan. Analisis fungsi untuk proyek digunakan untuk mengidentifikasi fungsi-fungsi yang akan dikerjakan dan biaya : Analisis fungsi digunakan untuk mengidentifikasikan secara jelas pekerjaan yang dilakukan untuk kebutuhan proyek serta membantu memisahkan ruang lingkup untuk biaya utama dengan biaya yang tidak dibutuhkan untuk mendukung performansi. Tahap pertama dalam analsis fungsi adalah mengidentifikasi fungsi dasar dari suatu sistem proyek, fungsi dasar merupakan tujuan dari uraian studi rekayasa nilai. Dalam suatu proyek atau komponen didapat fungsi utama sedangkan bagian lain adalah fungsi tujuan penunjang atau fungsi sekunder. Tahap selanjutnya dari analisis fungsi adalah mengidentifikasi biaya dan harga yang berkaitan dengan setiap fungsi. Harga dapat diidentifkasi sebagai biaya terendah dari yang dibutuhkan untuk membentuk fungsi. Untuk membantu menetapkan informasi yang perlu dikumpulkan perlu dikaji lebih dulu fungsi dari bangunan. Salah satu metode yang digunakan untuk mengkaji fungsi dari suatu sistem adalah metode FAST. FAST (Function Analysis System Technique) adalah suatu metode terstruktur untuk menganalisis mengorganisir dan mencatat fungsi-fungsi dari suatu sistem. Dengan mengaplikasikan metode FAST ini, dapat dibuat suatu diagram yang menggambarkan fungsi-fungsi proyek secara terorganisir dan menetukan hubungan antar fungsi, serta membatasi lingkup permasalahan. Dalam menyebutkan fungsi,diidentifikasikan dengan kata kerja dan kata benda. Sebagai contoh tentang rancangan suatu fungsi pondasi (lihat Gmbar 3.3) Bagaimana Mengapa ? Fungsi yang terjadi setiap saat Garis Cakupan Garis Cakupan Cakupan masalah Gambar 3.3. Diagram FAST Diagram FAST disusun berdasarkan urutan tingkat, dari fungsi tingkat tinggi diletakkan sebelah kiri sedangkan fungsi yang rendah diletakkan disebelah kanan. Pembuatan ini biasanya dimulai dari fungsi dasar yang sudah ditentukan sebelumnya. Fungsi dasar ini diletakkan dalam ruang lingkup yang akan dibahas. Penyusunan fungsi-fungsi dilaksanakan dengan mengajukan dua pertanyaan, yaitu: Bagaimana (How) dan Mengapa (Why). Identifikasi fungsi dimulai dari fungsi dasar dengan melakukan pertanyaan “bagaimana” fungsi dasar dilaksanakan. Seterusnya dilakukan pertanyaan yang sama diletakkan disebelah kanan fungsi dasar. Seterusnya dilakukan pertanyaan yang sama terhadap fungsi baru tersebut sehingga didapat fungsi baru lainnya yang menjawab fungsi tadi. Pertanyaan ini dilakukan terus sampai didapat sejumlah fungsi yang bisa mencerminkan masalah. Kemudian dilakukan pertanyaan “mengapa” fungsi tersebut harus diadakan, akan dijawab oleh fungsi yang berada disebelah kiri fungsi yang bersangkutan. Fungsi ini harus sama dengan fungsi yang didapat pada proses pertama yang menggunakan “bagaimana”. Proses ini dilakukan sampai didapat fungsi dasar sebagai jawabannya. Hal ini untuk memeriksa ketepatan fungsi-fungsi pada jalur kritis. Sebagai contoh : pertanyaan diajukan terhadap fungsi utama, “bagaimana caranya menerima beban?”, maka pertanyaan ini akan dijawab oleh fungsi yang ada disebelah kanannya dengan satu kata kerja dan satu kata benda, yaitu menahan beban. Pertanyaan ini ditanyakan seterusnya oleh fungsi yang baru terbentuk dan berhenti jika merasa permasalahan telah cukup. Sekarang pertanyaan dimulai dari fungsi yang berada paling kanan dalam batas lingkup masalah dengan pertanyaan “mengapa”. “ Mengapa perlu untuk meneruskan beban?”. Pertanyaan ini akan dijawab dan menghasilkan jawaban yang sama dengan jawaban yang pertanyaannya “bagaimana”. Pertanyaan ini berarti jika sejumlah fungsi-fungsi sudah mencerminkan masalah. Hasil dari tahap informasi akan digunakan untuk tahap-tahap berikutnya. Tahap Kreatif (Creative Phase) Tahap ini mempunyai tujuan untuk memotivasi orang untuk berpikir dan membangkitkan segala alternatif untuk mem enuhi fungsi utama. Kreativitas seseorang atau tim sangat berperan dalam mendapatkan alternatif-alternatif yang dibutuhkan. Acuan kreativitas tidaklah kepada timbulnya karya besar, tetapi lebih mengarah kepada kemampuan memandang suatu masalah seperti biasanya, dan memandang secara lateral tidak langsung vertikal. Bilamana kedua pandangan tersebut dapat dipadukan kreativitas dapatlah diartikan sebagai kemampuan memandang suatu hal dari berbagai sudut sebagai hasil dari suatu pengembangan. Ide-ide yang muncul harus dicatat dahulu dan tidak boleh dipertimbangkan atau dievaluasi. Ide yang diajukan berupa : Evaluasi Perbaikan terhadap suatu ide yang sudah ada Kombinaasi dari beberapa ide Teknik-teknik yang dipakai pada tahap ini antara lain:Brainstorming matriks. Hasil dari tahap kreatif ini akan dibahas dan dievaluasi pada tahap penilaian. Tahap Penilaian (Judgement Phase) Tujuan dari tahap ini adalah untuk mengevaluasi altenatif hasil dari tahap sebelumnya. Evaluasi ini dilaksanakan untuk menentukan dari sejumlah pilihan yang terbaik untuk dipelajari lebih lanjut dan yang mempunyai potensi besar untuk penghematan. Penilaian ini bertujuan untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan dari masing-masing ide. Kekurangan dari ide yang satu dapat ditutupi oleh ide yang lain. Ide baru yang merupakan gabungan dari bebrapa ide, memerlukan informasi yang baru. Seringkali harus kembali ketahap sebelumnya untuk mencari informasi baru. Pada tahap ini jumlah ide akan berkurang seelah diadakan seleksi. Desain dengan biaya rendah akan mendapat prioritas utama, namun tidak semata-mata berdasarkan atas biaya saja. Faktor lainnya yang turut menentukan adalah teknologi, biaya, perawatan, waktu pelaksanaan. Pada tahap penilaian ada dua tahap untuk mengevaluasi hasil analisis ide kreatif, yaitu tahap pertama dengan teknik keuntungan-kerugian dan tingkat kelayakan serta tahap pertama dengan kedua adalah analisis matrik. Hasil analisis keuntungan-kerugian dan analisis tingkat kelayakan akan dibahas bersama-sama pada tahap kedua, yaitu dengan analisis matrisk. Hasil dari analisis matrik akan dipilih dua alternatif yang terbaik untuk dibahas dalam tahap pengembangan sebagai desain ususlan. Masing-masing tahap diuraikan secara rinci sebagai berikut: Analisis keuntungan-kerugian Analisis keuntungan-kerugian merupakan tahap penyaringan yang paling kasar diantara metode yang dipakai dalam tahap penilaian. Sistem penilian diberikan secara bersama-sama oleh tim rekayasa nilai. Penilaian tim harus didasarkan atas tingkat pengaruhnya pada biaya secara keseluruhan. Dalam kajian untung-rugi jumlah kriteria yang dipandang tepat untuk dinilai dan dapat dipakai untuk menganalisis setiap pekerjaan, yaitu biaya awal, daya dukung, biaya pemeliharaan, fabrikasi, waktu pelaksanaan, mudah/sulit pelaksanaan konstruksi. Dalam memberikan peniliain atas kriteria-kriteria yang ditinjau harus ditentukan dulu salah satu kriteria, kemudian harus menentukan kriteria lain secara relatif terhadap kriteria tadi. Kriteria utama yang dipandang sangat penting duberi nilai 3 (tiga) untuk kriteria biaya awal, sedangkan kriteria lainnya ditetapkan secara relatif. Nilai kriteria diberikan secara rinci sebagai berikut: Biaya awal = 3 Kekuatan penampang terhdap aliran = 2 Biaya pemeliharaan = 2 Waktu pelaksanaan = 1 Ketersediaan material = 1 Pabrikasi = 1 Total = 10 Kemudian dibandingkan semua kriteria terhadap komponen yang ditinjau dari segi keuntungan dan kerugian. Apabila kriteria berada dikolom keuntungan diberi positif (+) dari nilai kriteria tersebut dan sebaliknya jika dalam kerugian mendapat nilai negatif (-). Setelah ide kreatif diberi nilai, lalu dijumlahkan. Jumlah nilai komponen /ide kreatif tersebut (-10) dan (+10). Ide-ide kreatif yang mempunyai nilai total tertinggi dipilih minimal 6 (enam) alternatif untuk diseleksi pada tahap kedua atau pada analisis matriks. Dengan kriterianya seperti tersebut diatas, metode ini dapat juga digunakan untuk mengevaluasi pada pekerjaan atau struktur lainnya. Analisis matriks adalah seleksi tahap kedua terhadap hasil yang dicapai dari analisis keuntungan-kerugian dan analisis tingkat kelayakan. Kriteria-kriteria yang digunakan untuk analisis matriks akan diadakan konsultasi dengan para ahli tentang sebuah konstruksi serta standar yang umum dipakai untuk desain. Kriteria hasil konsultasi harus dikaji dan diberi nilai. Untuk uji dan oembobotan dipakai metode hirarki analitik. Masing-masing kriteria mempunyai bobot hasil dari proses hierarki nalitik, yang kemudian diberi nilai dengan skala penilaian sebagai berilkut : Baik sekali = 4 Baik = 3 Wajar = 2 Rendah = 1 Proses hierarki analitik adalah suatu model luwes yang memberikan kesempatan bagi perorangan atau kelompok untuk membangun gagasan-gagasan dan mendefinisikan persoalan-persoalan dengan cara membuat asumsi-asumsi dan memperoleh pemecahan yang diinginkan. Proses hierarki analitik ini untuk menganalisis memcahkan persoalan dengan hierarki analitik, ada tiga prinsip yaitu: Penyusunan struktur hierarki Ada dua macam hierarki, yaitu struktural dan fungsional. Pada hierarki-struktural, sistem yang kompleks disusun kedalam komponen-komponen dalam urutan menurun menurut sifat strukturnya, sedangkan hierarki fungsional mengiuraikan sitem yang kompleks menjadi elemen-elemen pokoknya menurut hubungan esensial. Menetapkan prioritas Langkah pertama dalam menetapkan prioritas elemen-elemen dalam penilaian yang berpasangan yaitu elemn-elemen dibandingkan berpasangan terhadap suatu kriteria yang ditentukan. Penilaian dilakukan dengan membrikan bobot numerik. Perbandingan berpasangan dibentuk menjadi matriks bujur sangakar sesuai dengan elemen-elemen dari tingkat hierarkinya. Untuk memulai proses perbandingan berpasangan, yaitu mulai pada puncak hoerarki untuk memilih kriteria atau sifat yang digunakan untuk melakukan perbandingan yang pertama, tingakt dibawahnya diambil dari elemen-elemen yang akan dibandingkan. Misalnya menentukan kriteria atau sifat dari matriks berpasangan (X) serta elemen-elemen A1,A2,A3. Lebih jelas tentang matriks perbandingan berpasangan dapat dilihat dalam tabel 3.3 Tabel 3.3. Matrik Perbandingan Berpasangan X A1 A2 A3 A1 1 4 1/9 A2 ¼ 1 1/7 A3 9 7 1 Bandingkan elemen A1 dalam kolom disebelah kiri dengan elemen-elemen A1,A2,A3 yang terdapat pada baris atas dengan sifat X disudut kiri atas. Kemudian elemen kolom A2 dibandingkan dengan elemen baris atas, begitu seterusnya sampai elemen terakhir. Untuk mengisi matriks banding berpasangan harus menggunakan bilangan yang menggambarkan alternatif pentingnya suatu elemen terhadap elemen lainnya yang berhubungan dengan sifat trsebut. Bilangan tersebut berkisar antara 1 sampai 9. Semua pertimbangan diterjemahkan secara numerik adalah merupakan perkiraan belaka, validitasnya dapat dievaluasi dengan suatu uji konsistensi. Tabel 3.4 Skala Banding Secara Berpasangan Tingkat Pentingnya Definisi Penjelasan 1 Kedua elemen sama penting Kedua elemen memberikan kontribusi yang sama terhadap tujuan 3 Elemen yang satu sedikit lebih penting dari elemen yang lain Pengalaman dan pertimbangan sedikit menyokong satu elemen atas elemen yang lainnya 5 Elemen yang satu esesnsial/sangat penting dari lemen yang lainnya Pengalaman dan perhitungan dengan kuat menyokong satu elemen atas elemen yang lainnya 7 Satu elemen jelas lebih penting dari elemen yang lainnya Satu elemen dengan kuat disokong dan dominasinya telah terlihat dalam praktik 9 Satu elemen jelas lebih penting dari elemen yang lainnya Bukti yang menyokong elemen yang satu atas yang lain memilki tingkat penegasan tertinggi yang mungkin menguatkan 2,4,6,8 Nilai tengah diantara dua pertimbangan yang berdekatan Kompromi diperlukan antara dua pertimbangan Catatan : Jika untuk aktivasi 1 mendapat satu angka bila dibandingkan dengan aktivitas j, maka j mempunyai nilai kebalikannya bila dibandingkan i. Menguji konsistensi data Validitas data dapat diketahui dengan uji konsistensi data, yaitu dengan nilai konsistensi (CR). Data dapat dikatakan konsistensi bila nilai CR lebih kecil atau sama dengan 0,10 dan apabila CR > 0,10 maka proses penilaian terhadap matriks perbandingan berpasangan harus diulangi. Bilangan / nilai dari masing-masing baris pad masing-masing baris pada matriks perbandingan berpasangan dikalikan secara komulatif, dan hasil perkalian dimasukkan akar dengan derajat sesuai dengan jumlah elemen pada garis matriks, hasilnya disebut matriks 1. Untuk mendapatkan matrik vektor prioritas (eigen vector) adalah elemen matriks 1 dibagi dengan jumlah total matriks 1. contoh hitungan matrik perbandingan berpasangan,matrik I dan vektor dapat dolihat pada gambar 2.4 Matrik Perbandingan Berpasangan X A1 A2 A3 A1 1 4 1/9 A2 ¼ 1 1/7 A3 9 7 1 Matrik I Vektor Prioritas jumlah : 5,071 Gambar 3.4 Matriks Perbandingan Berpasangan, Mtriks I, Vektor Prioritas Untuk mendapatkan nilai prioritas (eigen value), yaitu matriks perbandingan berpasangan dikalikan vektor prioritas sehingga didapatkan matriks II. Elemen pada matriks II dibagi dengan elemen matriks vektor prioritas didapat nilai prioritas. Nilai vektor maksimum adalah harga rata-rata dari matriks nilai prioritas (λ) X A1 A2 A3 A1 1 4 1/9 A2 ¼ 1 1/7 A3 9 7 1 Vektor Prioritas Matriks II Gambar 3.5 Perkalian Matriks Perbandingan dengan Matriks Vektor Prioritas Matriks II Vektor Prioritas Nilai Prioritas Jumlah = 9,93 Jadi penilaian matriks perbandingan berpasangan diulangi lagi. Random Index (RI) adalah index random yang menyatakan besarnya kondisi terhadap indeks konsistensi sehubungan dengan nilai matriks perbandingan (lihat tabel 3.5) CR = Consistency Ratio CI = Consistency Indeks λ = Nilai prioritas maksimum n = Jumlah faktor / elemen dalam matriks Tabel 3.5 Tabel Indeks Random (RI) n 1 2 3 4 5 6 7 RI 0,00 0,00 0,58 0,90 1,12 1,24 1,32 8 9 10 11 12 13 14 15 1,41 1,45 1,49 1,51 1,48 1,58 1,12 1,59 3.1.5.4 Tahap Pengembangan (Development Phase) Tujuan tahap ini adalah menyiapkan saran-saran dan rekomendasi tertulis untuk alternatif yang terpilih. Beberapa alternatif terbaik yang terpilih tadi dievaluasi kemungkinan pelaksanaan berdasarkan faktor ekonomis dan teknis. Hasil evaluasi disusun secara rinci sehingga menjadi laporan tertulis yang berisi rekomendasi-rekomendasi. Langkah-langkah yang perlu diambil adalah: Membandingkan desain yang terpilih Membandingkan biaya desain Mendiskusikan rekomendasi Mendiskusikan implikasi/keadaan dan kebutuhan dalam pelaksanaan desain yang direkomendasikan Menghitung biaya siklus hidup Tim studi rekayasa nilai harus memilih hanya satu alternatif yang dianggap terbaik untuk dilaksanakan, sedangkan yang lainnya bisa dipersiapkan untuk keperluan presentasi bila pilihan pertama tidak disetujui oleh pemilik. Tahap presentasi Tahap ini merupakan tahap untuk melaporkan / mempresetasikan secara lengkap hasil studi rekayasa nilai, merekomendasikan alternatif yang terpilih dengan segala keuntungannya. Tahap ini bertujuan untuk meyakinkan owner atau pengambil keputusan bahwa alternatif yang direkomendasikan merupakan pilihan yang terbaik dan menunguntungkan. Tahap ini merupakan tahap akhir dan sangat menentukan apakah studi rekayasa nilai ini berhasil atau tidak. 3.2 DRAINASI PERUMAHAN Pemukiman dan Perumahan Pemukiman adalah bagian dari leingkungan hidup diluar kawasan lindung, baik berupa kawasan perkotaan maupun pedesaan yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian dan tempat kegiatan yang mendukung perikehidupan dan penghidupan. Pemukiman mengandung arti tidak sekedar fisik saja tetapi juga menyangkut hal-hal kehidupan non fisik. Pemukiman mengandung pengertian sebagai suatu wilayah dimana penduduk (pemukiman) tinggal, berkiprah dalam berbagai kegiatan kerja dan usaha, berhubungan dengan sesama pemukiman sebagai suatu masyarakat serta memperoleh berbagai kebutuhan kehidupannya. Pola Pemukiman Pola pemukiman yang ada di Indonesia pada masa penjajahan ditunjukkan dengan adanya rumah-rumah untuk golongan penjajah dan ningrat yang dibuat teratur mengikuti pola perumahan di Eropa. Golongan angsawan menempati keraton atau istana yang berpusat di kabupaten dengan segala fasilitasnya. Sedang pada sekelilingnya terdapat rumah-rumah sederhana untuk golongan pribumi dan para abdi istana. Kemudian di daerah perkotaan sebagai pusat ekonomi umumnya didominasi oleh golongan timur asing (Cina dan Arab) dimana mereka berdagang sekaligus bertempat tinggal disana. Pola pemukiman seperti itu masih terlihat hampir disetiap kota besar di Indonesia pada saat ini. Pola pemukiman untuk golongan rakyat umumnya tidak teratur. Perumahan Perumahan adalah kelompok rumah yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian yang dilengkapi dengan sarana dan prasarana lingkungan. Perumahan hanya menyangkut keadaan fisik tempat tinggal , tidak mencakup keadaan non fisiknya. Sarana lingkungan adalah kelengkapan lingkungan yang berupa fasilitas pendidikan, kesehatan, pelayanan umum, peribadatan dan rekreasi. Prasarana lingkungan adalah jalan, saluran air minum, saluran air limbah, saluran air hujan, pembuangan sampah dan jaringan listrik. Proyek Perumahan Proyek perumahan atau real estate merupakan kegiatan untuk membangun perumahan dalam berbagai tipe yang cukup banyak. Perumahan yang dibangun harus menunjang perumahan, diluar rumah itu sendri sebagai sarana utama dan fasilitas lingkungan sebagai sarana pelengkap pada perumahan. Prasarana perumahan mencakup :jaringan jalan dan parkir, jaringan air minum, jaringan pembuangan air limbah rumah tangga dan air hujan, jaringan listrik, jaringan telepon dan pembuangan sampah. Pada bab ini telah dijelaskan baha prasarana perumahan yang akan dibahasa adalah prasarana drainase pada perumahan saja. 3.2.2. Drainase Drainase adalah prasarana yang berfungsi mengalirkan air permukaan ke badan air dan atau ke bangunan reapan batuan, dari sini diperoleh pengertian drainase perkotaan yaitu drainase diwilayah kota yang berfungsi mengendalikan kelebihan air permukaan sehingga tidak menganggu masyarakat dan dapat memberikan manfaat bagi kegiatan kehidupan manusia. Sarana drainase pada bangunan-bangunan, didaerah-daerah dan obyek-obyek lain yang sangat memerlukan sistem drainase yang baik, antara lain : Kota atau daeran pemukiman Jalan raya Jalan kereta api Gedung Lapangan terbang Laoangan olah raga, stadion dan kolam renang Daerah pertanian, perswahan, hutan dan lain-lain. Pada suatu daerah perumahan, sistem drainase yang ada merupakan bagian dari sistem drainase perkotaan. Semua kota-kota besar memiliki sistem drainase, aliran permukaan yang terkumpul dijalan dialirkan melalui lubang-lubang pemasukan (inlet) kedalam saluran riool ) kedalam saluran riool ) kedalam saluran riool ) kedalam saluran riool air hujan dibawah perkerasan jalan, untuk kemudian dibnuang kedalam sungai, danau dat aut air laut. Pembuangan sedapat mungkin dilakukan secara pemompaan. Pada suatu perumahan, jaringan drainase yang baik sangat dibutuhkan. Drainase perumahan berfungsi untuk mengalirkan air. Air yang dialirkan akibat dari air hujan dan air permukaan. Air hujan terbagi menjadi dua, yaitu: hujan yang turun didaerah perumahan dan hujan yang melalui dareah perumahan, sedangkan air permukaan terbagi menjadi dua,yaitu: air permukaan yang muncul didaerah perumahan dan air yang melalui daerah perumahan. Jenis-jenis drainase 3.2.3.1 Drainase berdasarkan bentuk saluran Berdasarkan bntuk saluran (geometris), umumnya drainase mempunyai berbagai macam bentuk penampang : persegi panjang, trapesium, segitiga, lingkaran, parabola, persegi panjang, segitiga dasar dibulatkan dan lain-lain. Drainase berdasarkan tipe material Berdasarkan tipe material drainase, maka dapat dikelompokkan menjadi dua bagian: Tanpa pelindung (saluran tanah) Menggunakan pelindung (saluran batu kali dan saluran beton) Suatu saluran drainase yang terbuat dari bahan tanah, akan memiliki daya angkut yang kecil, mengingat tidak didinginkan terjadinya erosi pada saluran drainase. Untuk memperbesar daya angkut, saluran perlu diberi lapisan pelindung berupa vegetasi dapat mencegah bahya gerusan. Lapisan pelindung vegetasi yang dapat digunakan untuk saluran tanah pada umunya adalah lapisan rumput. Dalam banyak hal, lapisan (gebalan) rumput merupakan lapisan yang paling praktis, karena biaya pemsangan dan pemeliharaannya lebih ekonomis daripada jenis lapisan pelindung lainnya. Syarat terpenting untuk lapisan rumput adalah: Rumput yang ditanam harus dari jens tambuhan yang rapat : gebalan atau lempengan rumput yang dipasang harus menempel rapat pda tanah, agar tidak ada air yang terperangkap antara tanah dan lempengan rumput, yang dapat menyebabkan tanah atau rumput terhanyut oleh air. Penampang melintang saluran tidak boleh mempunyai sudut-sudut yang tajam atau tumpul, sudut-sudut tersebut haurs dibulatkan. Ada dua kondisi, dimana lapisan rumput tidak dianjurkan, yaitu apabila kemiringan dasar saluransamping terlalu landai atau curam. Apabila kemiringan dasar saluran S < 0,005, maka aliran akan sangat lambat. Akibatnya adalah : akan cepat terjadi sedimentasi dan menimbulkan masalah pembersihan dan pembuangan bahan endapan dari saluran, air akan lebih lama tinggal dalam saluran sehingga rumput akan cepat mati. Kemiringan dasar saluran yang curam akan menimbulkan kecepatan aliran yang sangat erosif, yang akan menggerus lempengan rumput, dan akhirnya seluruh lapisan rumput akan terkelupas. Sedangkan untuk drainase yang emnggunakan lapisan pelindung, secara ekonomis memerlukan biaya yang lebih besar. Drainase dengan lapisan pelindung dapat mengatasi erosi atau pengendapan pad jangkauan kecepatan aliran tertentu. Kecepatan aliran harus cukup besar untuk mencegah pengendapan atau sedimentasi, tetapi tidak boleh terlalu besar untuk mencegah erosi atau penggerusan. Drainase dapat dibuat dari beberapa tipe material seperti tabel 3.6 berikut: Tabel 3.6 Tipe material drainase Tipe material Bentuk saluran Kemiringan lereng sisi keterangan Saluran tanah Trapesium Maksimum 50% Saluran harus ditutupi vegetasi untuk mencegah erosi Saluran batu kali Trapesiu empat persegi Maksimum 67% Untuk kemiringan lebih dari 67% sisi saluran harus dirancang sebagai struktur dinding Saluran bambu Lingkaran Tidak ada batasan Saluran beton Semua bentuk Tidak ada batasan Saluran baja Semua bentuk Tidak ada batasan Drainase berdasarkan fungsi Pada umumnya drainase berdasarkan fungsi dapat dibagi menjadi : Saluran Primer Saluran drainase primer adalah saluran utama yang menampung limpahan air dari saluran-saluran sekunder kemudian meneruskan ke tempat pembuangan air, seperti danau, laut dll. Saluran Sekunder Saluran drainase sekunder adalah saluran yang menghubungkan antara saluran primer dan saluran tersier. Saluran Tersier Saluran tersier adalah saluran yang menampung air kelebihan untuk diteruskan kesaluran sekunder. Standar Perencanaan Drainase Drainase dirancang agar mampu menampung limpasan air hujan dihitung berdasarkan kondisi kekuatan batas pembangunan tapak yang menyebabkan limpasan tersenut dimas datang maupun daerah drainase diluar tapak. Drainase tapak harus diarahkan ke panampungan permukaan atau bawah permukaan permanen yang memadai untuk menampung limpasan dari tapak untuk saat ini maupun perkiraan masa datang, demikian pula agar menghindari limpasan kedaerah aliran sungai diluar tapak kecuali apabila air tersebut dibutuhkan untuk irigasi. Daerah terbangun pada tapak yang dapat dirugikan oleh muka air tanah yang secara potensial sangat tinggi harus dikeringkan dengan baik oelh fasilitas drainase bawah tanah yang memadai untuk membuang sisa air tanah apabila memmungkinkan. Drainase air hujan hanya boleh disalurkan ke saluran pembuangan yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Tabel 3.7 Jenis Dimensi Rncangan Limpasan Drainease Air Hujan Jenis Rancangan Limpasan Ukuran Kelandaian Minimum Pipa untuk sistem pembuangan air hujan utama Diameter > 15 inci Ditetapkan sedemikian rupa untuk memungkinkan pembersihan diri saluran pada keadaan lambat dan memudahkan pemindahan endapan daerah drainasi dimasa mendatang Pipa saluran kedua Cekungan drainase dan selokan Saluran terbuka Sesuai dengan analisis Sesuai dengan analsis Sesuai dengan analisis Lereng sisi saluran dari tanah tidak boleh mempunyai kemiringan lebih dari 2:1 Idem 0,5% 67% (1,5:1) kemiringan lereng sisi saluran yang lebih curam dari 67% harus dirancang sebagai struktur dinding penahan Tabel 3.8 Kecepatan Aliran Berdasarkan Bahan Bahan Jangkauan kecepatan rata-rata (m/s) Beton 0,6-3,0 Aspal 0,6-1,5 Pasangan batu/blok beton 0,6-1,8 Kerikil/ tanah liat sangat padat 0,6-1,0 Pasir berbutiran kasar atau tanah berpasir yang berkerikil 0,3-0,6 Pasir atau tanah berpasir dengan kandungan tanah liat yang sangat banyak 0,2-0,3 Tanah berpasir dengan butiran halus atau lanau 0,1-0,2 Sistem Drainase Sistem drainase biasanya menggunakan salah satu dari empat metode yang ada, yaitu: sistem drainase permukaan sistem drainase bawah tanah tertutup sistem dainase bawah tanah tertutup dengan tmpat penampungan pada tapak sistem drainase bawah tanah tertutup untuk daerah yang diperkeras dan dranase terbuka untuk daerah yang tidah diperkeras. Tabel 3.9 Metode Sistem Drainase Metode Sistem Drainase Sistem Pembuangan keterangan Sistem drainase bawah tanah tertutup Limpasan dari daerah terbuka & daerah diperkeras → saluran pengumpul drainase permukaan →saluran drainase permukaan → sistem drainase kota Dampak erosi cukup besar. Pada kondisi tertentu permukaan saluran harus diperkeras untuk mencegah erosi didalam saluran harus diperkeras untuk mencegah erosi didalam salurannya Sistem drainase bawah tanah tertutup Limpasan dari daerah terbuka & daerah diperkeras → saluran drainase bawah tanah tertutup → pipa saluran → saluran drainase permukaan/sungai → sistem drainase kota Titik-titik keluarnya limpasan dari sistem rentan terhadap erosi dan sedimentasi Sistem drainase bawah tanah tertutup dengan tempat penampungan pada tapak Limpasan dari daerah terbuka & daerah diperkeras → saluran drainase bawah tanah tertutup → pipa saluran → tempat penampungan pada tapak → sistem drainase Dampak erosi dan sedimentasi berkurang Analisis Debit Saluran Perencanaan sistem drainase air hujan pada umunya mengikuti prinsip berikut: Pengaliran secepat mungkin ke saluran terdekat Saluran harus sependek mungkin Saluran harus bebas dari penggerusan dan pengendapan Saluran memanfaatkan atau mengikuti pola drainase alam yang ada. Uaraian langkah perencanaan sistem drainase : Mencari data curah hujan Data curah hujan diperoleh dari Badan Meteorologi dan Geofisika, dengan mencari data curah hujan dan minimal 2 stasiun hujan terdekat dari daerah perencanaan. Menentukan periode ulang rencana Perencanaan beban drainaase dengan periode ulang 1 tahun berarti kapasitas drainase yang ada secara statistik diijinkan untuk meluap sekali dalam 1 tahun. Karena keandalan/ resiko berkaitan dengan periode ulang maka besar nilai t makin kecil tingkat resiko yang akan terjadi. Misalnya keandalan 80% atau resiko 20% mempunyai periode ulang t = 1/r = 1/0,20 = 5 tahun. Menentukan curah hujan maksimum Curah hujan maksimum yang ditentukan dibuat dengan metode analisis frekuensi hujan berdasarkna periode ulang yang telah ditetapkan sebelumnya. Metode analisis frekuensi yang paling mudah dipakai adalah metode Gumbel, yaitu: …………………………..(1) dengan : X1 = curah hujan untuk periode ulanh X = curah hujan rata-rata dari data hujan kumulatif yang ada Sx = standar deviasi Sn = standar deviasi yang merupakan fungsi dari n Yt = variasi yang merupakan fungsi periode ulang Yn = nilai yang merupakan fungsi dari n Menentukan lamanya waktu hujan Lamanya waktu hujan dapat ditentukan bedasarkan hujan efektif sebesar 90% dari jumlah selama 24 jam, yang dapat diambil berdasarkna asumsi perencanaan sendiri, umumnya anrata 3-5 jam. Analisis pada IV akan menggunakan waktu hujan 4 jam Menghitung intensitas curah hujan Intensitas hujan dihitung berdasarkan rumus : ………………….(2) Membuat kurva intensitas hujan maksimum Intensitas hujan yang dapat diplot pada kurva basis yang sudah ada dan cari perpotongan dengan curah hujan 240 manit (4 jam). Tarik kurva baru yang mempunyai kelengkungan sama dengan kurva basis. Waktu konsentrasi Waktu konsentrasi adalah waktu yang diperlukan oleh satu titik hujan dari saat jatuh kedaerah aliran (inlet) sampai waktu pengaliran pada saluran sebelum mencapai saluran akhir. Tc = t1 + t2 ………………………………………………….(3) T1 = (2/3.3.28.Lo.nd√S)0,167 T2 = L / 60 V Dengan : Tc = waktu konsentrasi T1 = waktu inlet (menit) T2 = waktu aliran (menit) Lo = jarak dari titik terjauh ke saluran (meter) L = panjang saluran rencana (meter) nd = koefisien hambatan S = kemiringan daerah pengaliran V = kecepatan air rata-rata di saluran (meter/detik) Menentukan intensitas hujan maksimum Intensitas hujan maksimum diperoleh dengan memplot waktu konsentrasi pada kurva intensitas hujan nmaksimum. Tarik garis vertikal berdasarkan waktu konsentrasi dan dari titik perpotingan dengan kurva intensitas hujan maksimum tarik garis horizontal untuk mendapatkan nilai intensitas hujan maksimum. Menentukan luas daerah pengaliran Luas daerah pengaliran tergantung pada daerah diskitar saluran yang akan memanfaatkan saluran tersebut sebagai tempat pembuangan air. Jadi luas daerah pengaliran total untuk suatu jenis saluran sama dengan panjang saluran dikalikan dengan jarak terjauh saluran yang masih memanfaatkan saluran tersebut sebagai tempat pembuangan air. Menentukan koefisien aliran Koefisien aliran bergantung pada kondisi permukaan daerah dengan pengaliran sebelum mencapai saluran seperti tabel 3.4. Jika daerah pengaliran terdiri dari bermacam-macam tipe permukaan maka dihitung dengan rumus: ………………………………..(4) dengan : C1 = koefisien aliran untuk tipe permukaan 1 A1 = luas daerah pengaliran untuk tipe permukaan 1 Menentukan debit aliran (Rumus Rasional) Q = C . I. A …………………………………………(5) Dengan : Q = debit rencana C = koefisien pengaliran I = intensitas hujan maaksimum A = luas daerah pengaliran (daerah tangkapan) Tabel 3.10 Nilai n (Koefisien Kekerasan Manning) Dekripsi permukaan n Permukaan halus (beton, aspal, kerikil, atau tanag kering Tanah tandus (tanpa residu) Tanah olahan Ditutupi residu < 20% Ditutupi residu > 20% Berumput Padang rumput (prairi) Lapangan padang rumput Berumput jenis bermuda Daerah alami Hutan Sedikit semak belukar Banyak semak belukar 0,011 0,05 0,06 0,17 0,15 0,24 0,41 0,13 0,40 0,80 Tabel 3.11. Nilai C Untuk Berbagai Jenis Permukaan Permukaan Minimum Maksimum Permukaan atap logam Perkeras Beton Makadam bitumen, tipe terbuka dan tertutup Kerikil, butiran lepas sampai padat dan lekat Permukaan tanah Pasir, butiran seragam, well graded, dengan tanah liat/lanau Tanah kosong Sedikit tumbuhan Banyak tumbuhan Tanah liat, berpaasir sampai tanah liat murni Tanah kosong Sedikit tumbuhan Banyak tumbuhan Kerikil, mulai dari kerikil sampai kerikil berpasir, tanpa tanah liat Tanah kosong Sedikit tumbuhan Banyak tumbuhan Tanah liat, dari berpasir/lanau sampai tanah liat murni Tanah kosong Sedikit tumbuhan Banyak tumbuhan Daerah komersial Kota, daerah padat pemukiman Pemukiman pinggir kota Distrik pedesaan Taman,lapangan golf Tanah berlumut (tanah berpasir) Kemiringan 2% Kemiringan 2%-7% Kemiringan >7% Tanah berumput Kemiringan 2% (datar) Kemiringan 2%-7% Kemiringan >7% 0,90 0,90 0,70 0,25 0,15 0,10 0,05 0,20 0,10 0,05 0,25 0,15 0,10 0,30 0,20 0,15 0,50 0,35 0,10 0,10 0,05 0,10 0,15 0,13 0,18 0,25 1,00 1,00 0,90 0,70 0,50 0,40 0,30 0,60 0,45 0,35 0,65 0,50 0,40 0,75 0,60 0,50 0,65 0,55 0,25 0,35 0,20 0,15 0,20 0,17 0,22 0,35 Analisis Penampang Saluran Desain penampang saluran yang diperkeras merupakan proses coba-coba dengan langkah-langakah sebagai beruikut: Semua keterangan dikumpulkan, taksi n dan pilih S Hitung faktor penampang AR2/3 dengan persamaan :AR2/3 = Nq Persamaan-persamaan untuk A dan R yang diperoleh dari tabel 3.12 dimasukkan kedalam persamaan diatas, lalu hitung kedalamannya. Bila ukuran lain tidak diketahui misalnya b dan z dari suatu penampang trapesium maka taksirlah nilai-nilai yang belum diketahui ini lalu dicari kedalamannya berdasarkan persamaan diatas. Dengan nilai taksiran ini diperoleh beberapa kombinasi ukuran penampang, ukuran akhir ditetapkan berdasarkan efisiensi hidrolik dan segi praktisnya. Untuk saluran dengan pelapisan dipakai penamapng trapesium dan U.S Bureau of Reclamation telah mengembangkan kurva-kurva lebar dasar dan kedalaman air terhadap kapasitas saluran. Bila penampang hidrolik terbaik diperlukan langsung, masukkan dalam persamaan AR2/3 nilai-nilaik A dan R yang diperoleh dari tabel unsur-unsur geometris penampang salruan dan hirung kedalamannya. Penampang hidrolik terbaik dapat diubah supaya mudah dipakai dalam praktek. Periksa kecepatan minimum yang dizinkan bila air mengandung lanau. Tmbahkan jagaan seperlunya terhadap kedalamannya dari penampang saluran. Tabel 3.12. Penampung Hidrolik Terbalik Penampang Melintang Luas A Keliling Basah P Jari-jari hidrolik R Lebar Puncak T Kedalaman Hidrolik D Faktor Penampang Z Trapesium,setengah bagian segi enam Persegi oanjang, seyengah bagian bujur sangkar Segitiga, setengah bagian bujur sangkar Setengah lingkaran Parabola T=2√2y Lengkung Hidrolik √3y2 2y2 y2 π/2 y2 4/3 √2y2 1,3958 y2 2√y 4y 2√y πy 8/3√2y 2,9836 y ½ y ½ y ¼ √2y ½ y ½ y 0,4678 y 4/3 √3y 2y 2y 2y 2√2y 1,91753 y ¾ y y ½ y π/4 y 2/3 y 0,7279 y 3/2 y2,5 2y2,5 π2/2 y2,5 π/4 y2,5 8/9√3y2,5 1,19093y2,5 3.2.5 Prosentase Biaya Proyek Perumahan Dalam analisis biaya yang harus diperhatikan adalah bagian-bagian komponen yang mempunyai potensi untuk penghematan, yaitu bagian yang mempunyai harga terbesar dari seluruh biaya. Untuk mengetahui komponen yang mempunyai harga tertinggi sampai yang terendah dipakai Hukum Pareto. Menurut hukum distribudi Pareto, bahwa 20% dari bagian-bagian penting dari suatu komponen akan merupakan 80% dari biayanya. Dengan menyusun urutan-urutan komponen dari suatu sistem yang dimaksud dari biaya yang tertinggi sampai biaya terendah, kurva akan memperlihatkan bagaimana dari perencanaan yang membentuk komponen-komponen dengan biaya yang besar dan memungkinkan untuk analisis lebih lanjut. 80 total cost (%) 0 20 Number of Constituents (%) Gambar 3.6 Kurva Distribusi Hukum Pareto STUDI KASUS PENETAPAN METODE REKAYASA NILAI PADA DRAINASI PERUMAHAN MERAPI VIEW YOGYAKARTA 1. KONSEP PENERAPAN REKAYASA NILAI PADA DRAINASI PERUMAHAN Penerapan metode rakyasa nilai pada drainasi perumahan dilakukan dengan menggunakan tahap-tahap dalam rencana kerja (job plan). Pada studi kasus ini, analisa yang dilakukan hanya terbatas pada jaringan drainasi yang berada di perumahan Merapi View,Yogyakarata, dengan asumsi bahwa catchment area (daerah penangkapan) yang ada hanya meliputi aliran yang timbul di daerah perumahan tersebut. Sedangkan aliran yang berasal dari luar area diasumsikan tidak ada/berpengaruh. Untuk menrapkan metode rekayasa nilai ini, pertama-rama dianalisa semua inforamasi yang berhubungan dengan proyek perumahan tersebut dan sistem jaringan drainasinya. Kemudian dianalisa fungsi dari masing-masing komponen sistem drainasi tersebut, sehingga dapat diidentifikasi fungsinya. Pada tahap selanjutnya dicari ide dan alternatif pada tahap penilaian setelah itu dua ide dan alternatif yang terbaik dikembangkan lagi pada tahap pengembangan. Pad tahap akhir diajukan usaha mengenai dua laternatif dan ide terbaik pada pemilik proyek. Pada tahap-tahap rencana kerja terdapat keterkaitan satu dengan yang lainnya, misalnya bila pada tahap kreatif terjadi kekurangan data atau informasi, maka tim rekayasa nilai harus melengkapi kekurangan tersebut pada tahap onformasi terlebih dahulu. Berikut ini gambar diagram alir konsep penerapan metode rekayasa nilai pada drainasi perumahan : ya tidak ya tidak tidak ya tidak Gambar 4.1 Diagram Alir Konsep Penerapan Metode Rekayasa Nilai Pada Drainase Perumahan 2. TAHAP INFORMASI 2.1 Pengumpulan Data tujuan dari tahap ini adalah untuk mengumpulkan informasi sebanyak mungkin tentang prasarana drainasi di proyek perumahan Merapi View dan hal-hal lain yang berhubungan dengan proyek tersebut. Adapun yang menjadi permasalahan disini adalah apakah desain sistem jaringan drainasi perumahan Merapi View tersebut sudah merupakan alternatif deain yang terbaik. Sehingga diharapkan nantinya ditemukan alternatif desai sistem drainasi yang terbaik dari segi biaya, fungsi dan paramater-parameter desain lainnya. Data yang dibutuhkan proyek adalah data topografi (Tabel 2.1),curah hujan, peraturan-peraturan serta informasi lain yang dibutuhkan untuk desain proyek. Tabel 4.1 Data tentang Proyek (Desain Awal) Tahap Informasi Catatan-catatan 1. Proyek Lokasi proyek Fungsi Curah hujan Topofrafi Luas Area Deskripsi rancangan Jenis saluran Anggaran biaya Perumahan Merapi View Jaban-Ngebel Gede, Ngaglik, Sleman Yogyakarta Mengalirkan air kelebihan 200l/dt/ha elevasi diatas permukaan laur tertinggi = 205,15 m elevasi diatas permukaan laut terendah = 190,15 120.000 m2 (ha) Rancangan saluran drainase pada Perumahan Merapi View merupakan saluran drainase yang baru dan menyesuaikan dengan sekitarnya Primer (510 m), sekunder (1.260 m), tersier (4.524 m) Rp. 207.798.389,00 2.2 Struktur Fungsi Drainasi Perumahan fungsi drainasi perumahan adalah mengalirkan air kelebihan pada perumahan. Fungsi utama dari drainasi perumahan dapat diuraikan menjadi suatu fungsi operasional. Untuk mendapatkan fungsi dari komponen drainasi dengan mengumpulkan dua kata,yaitu satu kerja dan satu kata benda (Tabel 2.2) Tabel 2.2 Identifikasi Fungsi Identifikasi Fungsi 1 kata kerja + 1 kata benda Tahap Informasi (Drainase Perumahan) mengalirkan air kelebihan (Saluran primer) menerima beban menahan beban meneruskan beban membuang beban (Saluran sekunder) menerima beban menahan beban (Saluran tersier) menerima beban menahan beban mengalirkan beban ADAKAH SALAH SATU FUNGSI YANG DAPAT DIHILANGKAN ? Tidak, tidak ada fungsi yang dapat dihilangkan ADAKAH YANG DIKERJAKAN TANPA GUNA ? Tidak ada APA YANG HARUS DILAKUKAN (Drainase Perumahan) mengalirkan air kelebihan (Saluran primer) menerima beban menahan beban meneruskan beban membuang beban (Saluran sekunder) menerima beban menahan beban mengalirkan beban (Saluran Tersier) menerima beban menahan beban APA SEMUA SYARAT REALISTIK ? Ya, Semua syarat memang harus realistik APAKAH KEGUNAAN MENUNJANG NILAINYA? Ya APAKAH BIAYANYA PROFESIONAL TERHADAP KEGUNAANNYA ? Ya, seharusnya Keterangan : beban pada tabel diatas adalah limpasan air dan hujan yang masuk ke dalam saluran. Untuk mendapatkan fungsi elemen sitem drainasi perumahan dilakukan analisa fungsi yang struktur fungsinya disusun dari fungsi sistem drainasi perumahan tersebut. Untuk mendapatkan struktur fungsi dari sistem drainasi perumahan Merapi View digunakan metode FAST sebagai berikut: Bagaimana? Mengapa ? Fungsi yang Fungsi dan tujuan harus terjadi Garis cakupan Batasan permasalahan Gambar 2.2 Struktur Fungsi Sistem Drainase Perumahan Dari identifikasi fungsi didapatkan komponen-komponen yang mempunyai fungsi utama atau fungsi sekunder atau pendukung. Fungsi-fungsi yang tidak memberikan kualita/kegunaan atau tidak menghidupkan penampilan dapat dihilangkan, sehingga biaya-biaya yang tidak perlu bisa dikurangi. 3. TAHAP KREATIF Tahapan ini melakukan pendekatan secara kreatif dengan mengemukakan ide-ide sebanyak mungkin, yang diharapkan dengan makin banyaknya ide-ide semakin banyak pula kemungkinan suksesnya studi rekayasa nilai. Ide-ide kreatif bagi saluran drainasi usulan tersebut dapat dilihat pada Tabel 2.3 Tabel 2.3 Tahap-tahap Spekulasi Saluran Drainase Tahap spekulasi Item : saluran drainase Fungsi : mengalirkan kalebihan air Ini adalah tahap kreatif dari studi rekayasa nilai yang menghasilkan sebanyak mungkin ide-ide dalam penyelesaian fungsi, tetapi tidak mengevaluasi ide-ide selama fase ini No Ide-ide kreatif 1 2 3 4 5 6 7 8 Pipa beton tanpa tulangan Pasangan batu kali tanpa plesteran Beton cetak di tempat Pipa PVC Pipa tanah liat Saluran kayu Pipa besi Pipa beton tulangan Ide-ide kreatif yang tersebut diatas, kemudian dianalisa pada pahap penilaian/ analisis keuntungan-kerugian untuk mendapatkan alternatif-alternatif yang akan digunakan. Berikut ini gambar-gambar alternatif desai drainasi: 4. TAHAP PENILAIAN ANALISIS Pada tahap ini semua alternatif-alternatif yang dihasilkan pada tahap kreatif dianalisis. Lembar kerja dalam tahap ini adalah sebagai berikut: 2.4.1 Lembar Kerja Analisis Keuntungan-Kerugian lembar kerja ini digunakan untuk membandingkan alternatif-alternatif ide kreatif dari segi keuntungan dan kerugiannya terhadap beberapa kriteria. Penilaian tim didasarkan atas tingkat pengaruhnya terhadap biaya sistem secara keseluruhan. Dalam memberikan nilai pada kriteria yang ditinjau, tentukan nilai salah satu kriteria, kemudian tentukan kriteria yang lainnya secara relatif terhadap kriteria tersebut. Untuk kriteria biaya murah tim memberikan nilai maksimum 3, kemudian untuk kriteria lainnya, secara relatif tim memberikan nilai maksimum sebagai berikut: a. Biaya awal = 3 b. Kekuatan penampang = 2 c. Biaya pemeliharaan = 2 d. Waktu pelaksanaan = 1 e. Kemudahan pemeliharaan = 1 f. Estetika = 1 Total = 10 Nilai-nilai diatas merupakan nilai maksimum yang dapat diberikan pada masing-masing kriteria dan nilai yang paling minimal adalah 0 (rangking nilai 0-4). Tabel 2.4 Analisis Ide Kreatif dengan Teknik Keuntungan-Kerugian Untuk Saluran Drainase Perumahan Merapi View ANALISIS IDE-IDE KREATIF Sistem : saluran drainase Item : saluran primer,sekunder, dan tersier Fungsi : mengalirkan kelebihan air No Tahap kreatif Tahap analisis Nilai Ide kreatif keuntungan kerugian 1 Pipa beton tanpa tulangan Biaya awal murah (+3) Waktu pelaksanaan singkat (+1) Kuat menahan aliran (+2) Estetika bagus (+1) Biaya pemeliharaan mahal (-2) Pemeliharaan sulit (-1) +4 2 Pasangan batu kali tanpa plesteran Biaya awal murah (+3) Waktu pelaksanaan (+2) Kuat menahan aliran (+2) Biaya pemeliharaan mahal (-2) Pemeliharaan sulit (-1) Estetika kurang (-1) +3 3 Beton cetak di tempat Kuat menahan aliran (+2) Estetika bagus (+1) Biaya awal mahal (-3) Biaya pemeliharaan mahal (-2) Pemeliharaan sulit (-1) Waktu pelaksanaan lama (-1) -4 4 Pipa PVC Biaya awal murah (+3) Waktu pelaksanaan singkat (+1) Estetika (+1) Biaya pemeliharaan mahal (-2) Pemeliharaan sulit (-1) Lemah menahan aliran (-2) 0 5 Pipa tanah liat Biaya awal murah (+3) Waktu pelaksanaan singkat (+1) Estetika bagus (+1) Biaya pemeliharaan mahal (-2) Pemeliharaan sulit (-1) Lemah menahan aliran (-2) 0 6 Saluran kayu Biaya awal murah (+3) Pemeliharaan sulit (-2) Biaya pemeliharaan mahal (-2) Waktu pelaksanaan lama (-1) Lemah menahan aliran (-2) Estetika kurang (-1) -4 7 Pipa besi Kuat menahan aliran (+2) Estetika bagus (+1) Waktu pelaksanaan singkat (+1) Biaya awal mahal (-3) Biaya pemeliharaan mahal (-2) -2 8 Pipa beton tulangan Kuat menahan aliran (+2) Estetika bagus (+1) Waktu pelaksanaan singkat (+1) Biaya awal mahal (-3) Biaya pemeliharaan mahal (-2) Pemeliharaan sulit (-1) -2 Pada Tabel 2.4 tersebut ide-ide ini dievaluasi dengan memilih alternatif yang mempunyai keuntungan tertinggi. Dengan memilih alternatif yang paling menguntungkan dapat memudahkan untuk mengdakan pilihan alternatif yang dapat diajukan pada tahapan berikutnya. Pada tahapan ini yang terpilih sebagai alternatif adalah (diurutkan berdasarkan nilai tertinggi): Pipa beton tanpa tulangan (+4) Pasangan batu kali tanpa plesteran (+3) Pipa PVC (0) Pipa Tanah Liat (0) Kemudian alternatif-alternatif tersebut diatas,diseleksi lagi pada analiasis tingkat kelayakan. .4.2 Lembar Keja Analisis Tingkat Kelayakan Salah satu bentuk dari analsis ide-ide kreatif ini akan membahas penilaian kriteria dengan sangat subyektif, karena sulit untuk menda[patkan nilai yang sangat ideal, sebaliknya diperlukan suatu tim yang terdiri dariberbagai disiplin yang berpengalaman dibidangnya masing-masing. Analsia tingkat kelayakan untuk drainase dpat dilihat pada tabel berikut ini: Tabel 2.5. Analisi Kelayakan Analisis Kelayakan Item : saluran drainase Fungsi : mengalirkan kelebihan air Nilai masing-masing ide untuk faktor-faktor yang tercantum dalam tabel antara 1-10 A = Panggunanan teknologi E = Keuntungan biaya potensial B = Biaya pengembangan F = Sarana alat kerja C = Kemungkinan diterapkan D = Wkatu pelaksanaan Bahan saluran drainase A B C D E F total Pipa beton tanpa tulangan Pasangan batu kali tanpa plesteran Pipa PVC Pipa tanah liat 9 8 7 6 8 7 6 7 8 8 7 6 9 8 6 6 8 7 6 6 8 8 7 7 50 46 40 39 Dari analisa tingkat kelayakan dapat dibuat kesimpulan bahwa: Pipa beton tanpa tulangan memiliki nilai tertinggi yaitu 50 Pasangan batu kali tanpa plesteran memiliki nilai 46 Pipa PVC memiliki nilai 40 Pipa tanah liat memiliki nilai 39 Kemudian alternatif-alternatif tersebut, dianalisa lagi pada analisis matriks. 2.4.3 Lembar Kerja Analsis Matriks Seperti halnya pada analisa keuntungan-keuntungan,analisi matriks juga harus menentukan kriteria-kriteria, yang didapat dari data yang kemudian diolah untuk mengidentifikasi jaringan saluran drainasi perumahan Merapi View, yaitu tentang parameter-parameter dari kriteria desai saluran drainasi. Dari ringkasan analisis sebelumnya dan seleksi dari parameter-parameter yang ada, kriteria yang diasumsikan dalam tugas akhir ini terdapat pada lampiran, diperoleh dari suatu tim yang terdiri dari berbagai disiplin yang berpengalaman dibidangnya masing-masing. Dari parameter yang bedasarkan urutan pentingnya kriteria, diambil penilaian sebagai berikut: 1. Biaya awal (A) = 53 2. Kekuatan / kemampuan manahan aliran (B) = 47 3. Biaya pemeliharaan ( C ) = 33 4. Kemudahan pemeliharaan (D) = 32 5. Waktu pelaksanaan (E) = 23 6. Estetika (F) = 22 parameter-paramater ini diapaki sebagai kreiteria untuk analaisis matriks pada tahap penilaian, yang pembobotan dari masing-masing kriteria ditentukan dan diuji dengan metode hirarki analitik. Analsis Pembobotan Kriteria Parameter dan Uji Data Data yang telah ditetapkan berdasarkan urutan kepentingannya diuji validitas datanya dengan uji konsistensi serta menentukan bobot dari masing-masing parameter. Variabel parameter tersebut adalah sebagai berikut: A = biaya awal, B= kekuatan / kemampuan menahan aliran, C= biaya pemeliharaan, D= kemudahan pemeliharaan, E= waktu pelaksanaan, F= estetika. Parameter ini diuji dengan konsistensi dengan menyusun matriks perbandingan berpasangan seperti berikut: Menghitung Matriks I Matriks perbandingan berpasangan Matriks I Vektor prioritas A B C D E F A 1 2 2 3 4 5 2,493 0,346 B ½ 1 2 2 3 4 1,698 0,235 C ½ ½ 1 2 2 3 1,201 0,167 D 1/3 ½ ½ 1 2 2 0,831 0,115 E 1/4 1/3 ½ ½ 1 2 0,588 0,082 F 1/5 ¼ 1/3 ½ ½ 1 0,401 0,055 ∑ = 7,212 ∑ = 1,00 Menghitung Matriks II Matriks perbandingan berpasangan Matriks I Vektor prioritas A B C D E F A 1 2 2 3 4 5 0,346 2,098 B ½ 1 2 2 3 4 0,235 1,438 C ½ ½ 1 2 2 3 X 0,167 = 1,017 D 1/3 ½ ½ 1 2 2 0,115 0,704 E 1/4 1/3 ½ ½ 1 2 0,082 0,497 F 1/5 ¼ 1/3 ½ ½ 1 0,055 0,337 Matriks nilai prioritas Matriks II Vektor prioritas 2,098 0,346 6,064 1,433 0,235 6,098 1,017 : 0,167 = 6,090 0,704 0,155 6,122 0,497 0,082 6,061 0,337 0,055 6,127 ∑ = 36,562 λ = 36,562 : 6 = 6,094 CI = (6,094 – 6) / (6-1) = 0,0188 CR = 0,0188 / 1,24 = 0,015 < 0,1 (data konsisten) Berdasarkan hasil matriks vektor prioritas maka bobot masing-masing kriteria saluran drainasi dapat ditetapkan urusan sebagai berikut : Biaya awal = 34,6% Kekuatan / kemampuan menahan aliran = 23,5% Biaya pemeliharaan = 16,7% Kemudahan pemeliharaan = 11,5% Waktu pelaksanaan = 8,2% Estetika = 5,5% Kriteria dalam tahap ini diberi berdasarkan besarnya hasil proses hirarki analitik sedangkan skala penilaian terhadap kriteria tiap alternatif diberikan nilai 1-4, yang mempunyai arti : Nilai 1 = rendah Nilai 2 = wajar Nilai 3 = baik Nilai 4 = baik sekali Analisa matriks akan membahas tiga alternatif desain jaringan drainasi dari analisa untung ruhgi dengan kriteria seperti tersebut diatas. Penilaian dilakukan dengan memberi nilai 1-4 pada alternatif desai jaringan drainasi terhadap kriteria yang ditinjau angka tersebut digandakan dengan nilai dari kriteria yang ada (%) yang kemudian dijumlahkan, ini secara rinci dapat dilihat pada tabel berikut : Dua alternatif desain drainasi yang mempunyai nilai tertinggi adalah pipa beton tanpa tulangan dan pasangan batu kali tanpa plesteran, yaitu 326,1 dan 282,9. Ini akan dibahas lebih lanjut dalam tahap penegmbangan dan diusulkan sebagai desain akhir. 5. TAHAP PENGEMBANGAN Pada proses desain dilakukan uasaha untuk mentransformasikan kebutuhan sistem drainasi menjadi desain yang dapat memenuhi kebutuhan, yaitu untuk mengalirkan limpasan air kelebihan dengan debit yang ada ke tempat pembuanagn luar. Kebutuhan tersebut sebagai fungsi utama yang dapat diuraikan menjadi beberapa komponen fungsi yang lebih rendah. 5.1 Hitungan konstruksi Analisis teknis terhadap alternatif desain sistem drainasi perumahan Merapi View bertujuan untuk mengetahui segi teknis dari desain drainasi. Tahap-tahap dari analisis teknis adalah sebagai berikut : Analisis data curah hujan Analisis data topografi Menghitung intensitas hujan maksimum dan periode ulang Desain debit banjir rencana Desain saluran primer, skunder dan tersier Menghitung biaya konstruksi Secara umum spesifikasi untuk ketiga jenis saluran pada sistem drainase perumahan Merapi View sebagai berikut : Saluran Primer Panjang saluran : 510 m Dimensi saluran : 90×90 cm Material penampang : pasangan batu kali (plesteran 1:4) 2. Saluran Sekunder Panjang saluran : 1.260 m Dimensi saluran : 60 x 60 cm (saluran terbuka) : 40 x 50 cm (saluran tertutup) Material penampang : pasangan batu kali (plesteran 1:4) 3. Saluran Tersier Panjang saluran : 4.524 m Dimensi saluran : 35 x 45 cm (saluran tertutup) Material penampang : pasangan batu kali (plesteran 1:4) Contoh ini adalah gambar detai potongan pasangan batu kali plesteran (desain asli) : Biaya Awal Biaya awal untuk melaksanakan pembangunan dari kedua desain dapat dilihat pada Tabel 5.2 dibawah ini : Tabel 4.7 Biaya Pembangunan Saluran Drainase Perumahan Merapi View Model biaya awal hasil desain Tahap pengembangan Sistem : drainase perumahan Merapi View Fungsi : mengalirkan air kelebihan No. komponen Pipa beton tanpa tulangan Pasangan batu kali tanpa plesteran 1 Saluran primer Rp. . 75.408,50 Rp. 38.187.480,00 2 Saluran sekunder Rp. 28.666.466,71 Rp. 39.610.270,92 3 Saluran tersier Rp. 103.007.438,20 Rp. 123.467.299,60 Rp. 138.749.313,40 Rp. 201.265.050,90 Dari hasil analisis biaya diatas dapat dicarirasio fungsi utama dengan analsis fungsi hasil dari masing-masing alternatif desain drainase. Ratio dari fungsi sistem drainase tersebut dapat dicari dari membandingkan cost dan worth dari kedua alternatif desain drainase diatas. Hasil analsis biaya awal dari kedua alternatif desain drainase adalah sebagai berikut : Alternatif 1 : Rp. 138.749.313,40 Alternatif 2 : Rp. 201.265.050,90 Biaya untuk sistem drainase pada anggaran proyek perumahan Merapi View sebesar Rp. 207.798.389,00 dianggap sebagai coast. Maka ratio fungsi utama sistem drainase adalah sebagai berikut : Untuk alternatif 1 Untuk alternatif 2, Dalam rekayasa nilai, ratio antara 1 – 2, kecil kemungkinan terjadi pengehematan untuk studi analisis nilai. 5.3 Biaya Pemeliharaan dan Penggantian Biaya pemeliharaan adalah biaya yang digunakan untuk baiya opersional dan perawatan selama umur teknis. Untuk saluran drainase biaya pemeliharaan hanya meliputi biaya pembersihan saluran dari sampah dan lumpur akibat sedimentasi yang ada, tidak terdapat biaya operasional. Dengan mengasumsikan bahwa biaya pemeliharaan pad semua tipe penampang dan bentuk saluran adalah sama, serta dibutuhkan sekitar 5 pekerja untukmembersihkan saluran. Berdasarkan standart harga di Yogyakarta, upah pekerja sebesar Rp.2.500,00. Jika diasumsikan juga waktu pemeliharaan untuk saluran drainase per tahunnya adalah sebagai berikut : 5 x 12 x Rp. 2.500,00 = Rp 150.000/ tahun. Jika umur teknis saluran direncanakan 10 tahun, dengan inflasi diasumsikan sebesar 10% dapat dicari nilai pada waktu yang akan datang. 5.4 Biaya Siklus Hidup Biaya siklus hidup adalah biaya selama umur teknis dari proyek tersebut, yang meliputi biaya awal, dan biaya pemeliharaan serta biaya penggantian (padasaluran drainase tidak terdapat biaya penggantian karena nilai sisa 0%). Biaya dihitung dengan asumsi tingkat suku bunga 12% dan tingkat inflasi 10%, dan nilai sisa 0% untuk saluran drainase perumahan Merapi View. 6. TAHAP PRESENTASI Tahap ini merupakan tahap terakhir dari langkah kerja metode rekaya nilai. Tahap yang harus mempresentasikan hasil desain dalam bentuk nyata, yang meliputi : Memilih desain alternatif yang terbaik untuk diusulkan Membuat kesimpulan dan rekomendasi Membuat gambar-gambar atau sketsa dari desain yang dipilih Membuat biaya-biaya awal, pemeliharaan dan siklus hidup Menjelaskan tentang biaya penghematan Berdasarkan analisis yang telah dilakukan, maka : Diusulkan alternatif desain 1 (pipa beton tanpa tulangan) sebagai desain utama drainase perumahan Merapi View, sedangkan alternatif 2 (pasangan batu kali tanpa plesteran) sebagai cadangan. Biaya awal : Alternatif 1 : Rp. 138.759.313,40 Alternatif 2 : Rp. 201.265.050,90 Biaya pemeliharaan : Alternatif 1 : Rp. 896.730,60 Alternatif 2 : Rp. 896.730,60 Biaya penghematan Tabel 4.9 Tabel Biaya Biaya siklus hidup Pipa beton tanpa tulangan Pasangan batu kali tanpa plesteran Biaya awal Biaya O & M + nilai sisa Rp. 138.749.313,40 Rp. 896.730,00 Rp. 201.265.050,90 Rp. 869.730,00 Biaya total Rp. 139.646.044,00 Rp. 202.161.781,50 Penghematan total Rp. 69.049.075,60 Rp. 6.533.338,10 Penghematan tahunan Rp. 11.237.419,01 Rp. 1.063.270,68 Dari siklus hidup diatas dapat dilihat bahwa alternatif desain drainase 1 menghemat Rp.11.237.419,01 yang lebih besar jika dibandingkan dengan alternatif 2, dengan selisih penghematan sebesar Rp.10.174.148,33. Selisih penghematan siklus sebesar Rp. 62.515.737,50. Berikut gambar-gambar alternatif desain utama (pipa beton tanpa tulangan) dan desain cadangan (pasangan bat kali plesteran). PEMBAHASAN Dari tahapan-tahapan yang ditentukan pada proyek perumahan Merai View, membahas mengenai sistem penilaian pada analsis keuntungan dan kerugian, analsis kelayakan, analisis matriks dan biaya siklus hidup. Analisis Keuntungan dan Kerugian Sistem penilaian dnegan analsis keuntungan-kerugian sangat kurang tepat karena perbedaan nilai yang didapat oleh ide kreatif terhadap setiap kriteria sangat besar. Ide kreatif yang mempunyai kriteria biaya murah akan mendapat nilai (+3), sedangkan ide kreatif lain yang mempunyai biaya awal mahal mendapat nilai (-3). Dalam kasus ini jumlah nilai yang didapat ide kreatif antara –10 sampai +10. Hasil dari analsis keuntungan-kerugian dari masing-masing ide kreatif berdasarkan urutan rangking tertinggi didapat total nilai masing-masing adakah nilai 4 untuk pipa beton tanpa tulangan, nilai 3 untuk pasangan batu kali tanpa plesteran, nilai 0 untuk pipa PVC dan pipa tanah liat. Analisis Kelayakan Hasil analisis tingkat kelayakan bahwa 4 urutan tertinggi adalah pipa beton tanpa tulangan (nilai 50), pasangan batu kali tanpa plesteraan (nilai 40), dan pipa tanah liat (nilai 39). Nilai total tersebut adalah meruapkan hasil penilaian saluran drainase tersebut terhadap parameter yang ada. Pada analsis tingkat keyakan setiap kriteria dipengaruhi lebih dari satu faktor sehingga sistem penilaian saling mempengaruhi antara faktor yang satu dengan yang lainnya. Misalkan waktu pelaksanaan terhadap salah satu ide kreatif dipengaruhi oleh waktu perancangan kembali, waktu pemesanan kembali dan waktu pelaksanaan di lapangan. Penilaian ini meliputi parameter : penggunaan teknologi, biaya pengembangan, kemungkinan duterapkan, waktu pelaksanaan, keuntungan biaya potensial dan sarana alat kerja. Dari hasil analisis kelayakan dapat dibuat kesimpulan bahwa saluran drainase alternatif yang mempunyai rangking tertinggi adalah pipa beton tanpa tulangansebgai alternatif pertama pasangan batu kali tanpa plesteran sebagai alternatif kedua. Analisa Matriks Hasil dari analsis matriks menunjukkan bahwa pipa betaon tanpa tulangan mempunyai nilai total lebih tinggi jika dibandingkan pasangan batu kali tanpa plesteran. Nilai total adalah jumlah hasil penggandaan bobot dari parameter dengan skala penilaian terhdap parameter tersebut. Parameter tersebut terdirid ari biaya awal (A), kekuatan / kemampuan menahan alira (B), biaya pemeliharaan (C ), kemudahan pemeliharaan (D), waktu pelaksanaan (E) dan estetika (F). Parameter yang memiliki bobot paling tinggi adalah biaya awal (34,4%), kekuatan / kemampuan menahan aliran (23,5%), biaya pemeliharaan (16,7%), kemudahan pemilharaan (11,5%), waktu pelaksanaan (8,2%) dan estetika (5,5%). Nilai bobot diatas digunakan untuk analsis matriks dimana hasil penilaian matriks didapatkan dua desain alternatif yang mempunyai nilai tertinggi yaitu: pipa beton tanpa tulanagn bernilai 326,1 dan pasangan batu kali tanpa plesteran bernilai 282,9. Kedua alternatif tersebut diajukan dalam tahap pengembangan dan disusulkan sebagai desain akhir. Analisis Biaya Hasil analsis biaya awal dari kedua alternatif adalah sebagai berikut : Pipa beton tanpa tulangan Rp. 138.749.313,40 Pasangan batu kali tanpa plesteran Rp. 201.265.050,90 Didapatkan ratio = Pipa beton tanpa tulangan, ratio 1,48 < 2 Pasangan batu kali tanpa plesteran, ratio 1,03 < . Pada tahap desain jika ratio > 1 maka dapat dilakukan rekayasa nilai sehingga didapatkan penghematan. Jika pada tahap konstruksi ratio < 2, maka tidak perlu dilakukan rekayasa nilai. Biaya Siklus Hidup Pada tahap pengembangan hanya dua alternatif yang dikembangkan lebih lanjut dalam bentuk perhitungan saluran drainase dan perhitungan harga, yaitu saluran pipa beton tanpa tulangan dan pasangan batu kali tanpa plesteran. Biaya ini dihitung dnegan asunsi tingakt bunga 12%, tingkat inflasi 10% dan nilai sisa 0%. Biaya siklus hidup pada saluran drainase adalah terletak pada pemeliharaaan saluran drainase, yang meliputi pembersihan saluran dari sampahdan lumpur akibat sedimentasi yang ada, tidak terdapat biaya operasional. 1. Pipa beton tanpa tulangan sebagai desain utama untuk membutuhkan biaya pemeliharaan sebesar Rp. 150.00,00 dan biaya selama siklus hidup sebesar Rp. 2.629.500,00 (prenent worth). Dari segi biaya operasi dan pemeliharaan serta biaya awal dari saluran drainase terjadi penghematan biaya sebesar Rp. 69.049.075,60 selama sklus hidup (PW) dan penghematan tahunan sebesar Rp. 11.237.419,01. Sedangkan penghematan siklus hidup 10 tahun yang akan datang Fn = P ( 1+ i )n; F10 = Rp. 69.049.075,60 (1 + 0,12 )10 = Rp. 214.445.947,70. 2. Pasangan batu kali tanpa plesteran sebagai desain cadangan membutuhkan biaya pemeliharaan sebesar Rp 150.000,00 dan selama siklus hidup membutuhkan biaya Rp. 2.629.500,00 (Present Worth). Jika ditinjau secara keseluruhan baik itu biaya operasi dan pemeliharaan serta biaya awal dari saluran drainase, dapat menghemat biaya sebesar Rp. 6.533.338,10 selama siklus hidup (PW) dan menghemat Rp 1.063.270,68 setiap tahun. Penghematan siklus hidup 10 tahun yang akand atang Fn= P ( 1 + i )n ; F10 = Rp.6.533.338,10 (1+0,12)10 = Rp. 20.291.556,43. Jadi pipa beton tanpa tulangan lebih hemat daripada pasangan batu kali tanpa plesteran, sehingga pipa beton tanpa tulangan diajukan sebagai desain utama dan pasangan batu kali tanpa plesteran sebagai desain cadangan. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Dari uaraian dan pembahsan diatas, dalam penerapan analsia rekayasa nilai terhadap saluran drainase pada Perumahan Merapi View Yogyakarta didapat beberpa kesimpulan sebagai berikut : Dari analsis keuntungan dan kerugian, analsis kelayakan dan analisis matriks didapat kan rangking alternatif-alternatif desain d=aluran drainase adlah : pipa beton tanpa tulangan, pasangan batu kali tanpa plesteran, pipa PVC dan pipa tanah liat. Dari analisis biaya awal, siklus hidup dan penghematan yang diperolah didapatkan usulan desain utama adalah pipa beton tanpa tulangan dengan biaya awal sebesar Rp. 138.749.313,40, sedangkan buaya siklus hidup sebesar Rp. 139.646.044,00 dan penghematan sebesar Rp.69.049.075,60 Dari analisis biaya awal, siklus hidup dan penghematan sebagai usulan desain cadangan adalah pasangan batu kali tanpa plesteran dengan biaya awal sebesar Rp. 201.265.050,90 sedangkan biaya siklus hidup sebesar Rp. 202.161.781,50 dan penghematan sebesar Rp. 6.533.338,10. Sebagai desain utama adalah pipa beton tanpa tulangan, sedangkan sebagai desain cadangan adalah pasangan batu kali tanpa plesteran. Pada tahap desain jika ratio > 1 maka dapat dilakukan rekayasa nilai, jika tahap konstruksi ratio < 2 tidak perlu dilakukan rekayasa nilai. SARAN Dari studi rekayasa nilai ini dapat diberikan beberapa saran antara lain : Sebaiknya setiap proyek melakukan rekayasa nilai pada tahapan awal proyek (tahap perencanaan / desain), sehingga akan didapat penghematan biaya yang optimal. Hendaknya konsultan perencana mengerti tentang ilmu rekayasa nilai sehingga dari awal perencanaan sudah ditetapkan rekayasa nilai. Diperlukan suatu tim rekayasa nilai yang penuh kreatifitas sehingga akan bermunculan ide-ide yang kreatif dalam alternatif-alternatif yang bisa diterapkan pada suatu masalah. Sebaiknya didalam studi analisis nilai harus didapatkan ratio > 2, karena akan didapatkan penghematan.

Quantity Surveyor

BAB I

PENDAHULUAN

v Latar Belakang

Dalam pembangunan suatu proyek di perlukan suatu manajemenn proyek yang bertugas menyatikan dan mengoptimalkan sumberdaya yang di perlukan,sehingga suatu proyek dapat di selesaikan dengan tingkat kualitas (mutu) yang di tetapkan ,tepat waktu dan sesuai dengan biaya yang tersedia untuk mencapai tujuan di atas ,maka di perlukan suatu system control dalam manajemen proyek.Salah satu bagian dari control tersebut adalah control biaya yang berfungsi untuk mengontrol antara biaya yang sesungguhnya dengan biaya proyek.Untuk melaksanakan fungsi control biaya di perlukan suatu badan yang mempunyai kemampuan dalam menghitung jumlah bahan-bahan dan biaya yang di perlukan oleh suatu proyek.Badan ini dalam suatu proyek di sebut Quantity Surveyor.

Quantity surveyor adalah suatu tenaga ahli yang professional dalam bidang ekonomi bangunan yang secara khusus terlatih untuk mengendalikan biaya bangunan suatu proyek.Pengendalian biaya harus di lakukan sedini mungkin,sejak tahap permulaan rencana sampai selesainya suatu pembangunan suatu proyek ,sehingga keseluruhan biaya pembangunan dapat di sesuaikan dengan dana yang tersedia.

Quantity surveyor adalah suatu ilmu baru yang belum banyak di terapkan dalam suatu proyek,sehingga fungsi dan keberadan Quantity surveyor itu sendii masih menjadi badan konsultan yang jasanya di pakai oleh pihak pemilik pada proyek-proyek bertaraf internasional atau proyek-proyek swasta besar.

v Quantity surveyor di Indonesia

Quantity surveyor mulai masuk di Indonesia sekitar awal tahun 1970 dengan beberapa pakar asing dari Inggris dan Australia,dan mereka membuka usaha konsultan Quantity surveyor ini dengan mengambil tenaga kerja setempat untuk di jadikan asisten teknik dan melatih dalam bidang Quantity surveyor pada waktu itu ada dua atau tiga organisasi Quantity surveyor asing yang membuka usah di Jakarta di antaranya Widnell and Trollope Asia berganti nama menjadi PT Branusa,PT.Karra Antarbuana dan PT.Cakra trimurti mulia.

Sekitas 1990 konstruksi Quantity surveyor mulai berkembang di Jakarta ,tetapi masih terbatas hanya pada proyek-proyak Swasta.

Konsultan Quantity surveyor yang ada di Jakarta

1. PT.Branuasa

2. PT.Davis Langdon

3. PT.EC Harris Indonesia

4. PT.Internatinal Dasign Consultan

5. PT.Wilda Woolarinda Utama

6. PT.Partnership.

BAB II

ISI/BATANG TUBUH

v Aktifitas Qs Dalam Pelaksanaan Proyek Pada Umumnya Dapat Di Bagi Pada 3 Tahap:

1. Pra-Tender

· Membuat/membantu estimasinya Lingkup pekerjaan ini adalah tahap pertama untuk mengetahui beberapa perkiraan dana pembangunan proyek.Qunqtity Surveyor akan memilih metoda-metoda estimasi yang akan digunakan untuk pembuatan perkiraan biaya. Bilamana perlu mencari/mendapatkan penawaran-penawaran harga untuk komponen- komponen khusus.

· Membahas dan memberi saran atas feasibility yang telah dibuat.

· Advis masalah pendanaan/berhubungan dengan bank atau institusi keuangan non-bank.

· Menyarankan jenis tender / “Procurement” / jenis kontrak yang sesuai.

· Membuat rencana biaya dan berkonsultasi dengan arsitek dan para konsultan yang ada. Tahap ini

· Quantity Surveyor akan memecah estimasi (perkiraan) biaya yang telah dibuat ke dalam bentuk

· komponen-komponen kerja.

· Pengamanan biaya dan memberikan saran ekonomis terhadap perubahan-perubahan design.

2. Tender

· Membuat “Bill of Quantities”

· Dalam membuat “Bill of Quantities” ini quantity surveyor memerlukan spesifikasi dan persyaratan teknis pekerjaan dari arsitek dan konsultan lainnya.

· Menyiapkan formulir-formulir tender.

· Membantu membuat seleksi kontraktor dan sub kontraktor yang akan ikut tender.

· Menyiapkan surat-surat undangan tender untuk para kontraktor.

· Membuat/memberi rekomendasi evaluasi tender untuk masalah non-teknis.

Dalam tahap tender ini, pembuatan “Bill of Quantities” yang akan memakan waktu dan memerlukan keahlian Quantity surveyor yang cukup cakap, karena mencakup segi pengetahuan teknis dan kontrak-kontrak. “Bills of Quantitees” ini harus dibuat sejelas dan selengkap mungkin hingga semua komponenb bangunan sudah tercakup di dalamnya sehingga harga-harga penawaran yang dimasukkan berdasarkan “Bills of Quantities” bias dianggap sebagai biaya total pembangunan proyek

3. Post Tender

· Membuat rencana “Cash-Flow” pemilik.

· Membuat pembayaran (termi) prestasi pekerjaan fisik kontraktor.

· Menghitung dan menilai pekerjaan tambah/kurang.

· Memeriksa dan menyetujui perubahan pekerjaan dilapangan.

· Menilai pekerjaan yang dilaksanakan oleh sub kontraktor.

· Memeriksa dan menilai bahan bangunan di lapangan yang belum terpasang.

· Memeriksa dan membuat laporan atas “claim” yang diajukan kontraktor.

Pada tahap post-tender ini pihak Quantity surveyor kan ikut hadir dalam segala rapat lapangan yang mempunyai hubungan dengan biaya. Adakalanya Quqntity surveyor diperlukan kehadirannya di lapangan secara “Icnoqnito” khususnya dimana suatu pekerjaan perlu dinilai cepat misalnya pekerjaan pondasi dimana setelah pengecoran beton dilakukan kita tidak dapat melihat kedalaman/ketebalan pondasi itu atau kita tdapat lagi melihat tulanagan yang telah dipasang. Penjelasan aktivitas QS di atas tertuju pada perannya sebagai salah satu konsultan yang bertanggung jawab kepada Pemberi Tugas. Namun demikian QS dapat juga berperan di pihak kontraktor, yang mempunyai misi untuk mengurus pembayaran hasil kerja kontraktor dan menjaga kepentingan kontraktor secara umum

v Kedudukan Quantity Surveyor

a. Dalam tim konsultan proyek

Konsultan Quantity surveyor berdiri sendiri dalam tim konsultan proyek seperti juga dengan konsultan lainnya.Konsultan-konsultan tersebut bersetatus Independent namun masih dalam koordinasi dan bertanggung jawab atas tugasnya masing-masing kepada manajer proyek yang menjadi wakil pemilik (owner),hubungan konsultan Quantity surveyor dengan para konsultan lainnya secara organisasi adalah sejajar dan saling berkoordinasi Quantity surveyor suatu proyek adalah untuk mengendalikan biaya proyek.

b. Dalam tim manajemen proyek

1. Sebagai setaf ahli manajemen proyek.

Quantity surveyor di tunjuk langsung oleh owner dan di perbantukan pada manajer proyek sebagai ahli di bidang biaya dan kontrak

2. Konsultan Quantity surveyor sebagai staf ahli dalam manajemen konstruksi

Dalam kedudukan ini Quantity surveyor menjadi salah satu staf ahli khususnya di bidang biaya dan kontarak di antara keahlian lain yang ada dalam tim konsultan manajemen konstruksi Quantity surveyorbertanggung jawab langsung kepada manajer tim konsultan manajemen konstruksi.

c. Dalam kontraktor

Kedudukan Quantity surveyor dalam kontraktor akan bertujuan untuk mendapatkan pembayaran dari pemilik (owner) tepat pada waktunya atau secepat mungkin sesuai dengan pekerjaan yang telah di selesaikan untuk menghindari terjadinya masalah pada arus dana kontraktor.

Quantity suvayor di sini berfungsi sebagai berikut :

1. Menyiapkan Bill of quantities (BQ)

2. Mengumpulkan informasi biaya pekerjaan yang di perlukan.

3. Mempersiapkan daftar kebutuhan material sesuai dengan konterak.

4. Mempersiapkan arus dana yang di butuhkan kontraktor saat pelaksanaan proyek.

5. Memperkirkan biaya untuk disain alternative pada saat pelaksanaan pekerjaan.

6. Melakukan negosiasi dan mengelola sub kontraktor serta menyetujui hasil perhiyungan akhir sub kontraktor.

v Peranan Quantity surveyor dalam proyek

1. Mempersiapkan prelimari Budget estimate

Pada perhitungan prelimary budget estimatet berdasarkan gambar-gambar kerja dari arsitek.

2. Pembuatan Bill Of Quantities

Pada pembuatan Bill of quantities di sini di isikan besarnya kuantitas dan harga satuan pekerjaan yang nantinya akan di gunakan sebagai bahan pembanding harga penawaran yang di ajukan oleh kontraktor pada saat tender.

3. Pembuatan dokumen tender

Pada umumnya dokumen tender adalah suatu dokumen lengkap dengan semua informasi – infomasi yang diperlukan untuk melaksanakan pekerjaan di lapangan kecuali gambar-gambar kerja.Isi dokumen tender terdiri dari persyaratan control ,spesifikasi teknis Bill of quantities,pekerjaan persiapan dan mobilisasi seta harga satuan kerja.

4. Pemeriksaan dokumen tender

Quantity surveyor memeriksa dan membandingkan harga penawaran yang wajar dan mendekati perhitungan yang telah di buat setelah itu Quantity surveyor memberikan laporan hasil tender dan merekomendasikan kontraktor mana yang memenuhi persyaratan untuk melaksanakan pekerjaan proyek tersebut.

5. Membuat dokumen kontrak

Setelah pemilik (owner) menetapkan kontraktor maka Quantity surveyor menyiapkan dokumen kontrak yang berisi dokumen perjajian yang mengikat antara pemilik dan kontraktor atas proyek tersebut.

6. Penilaian pekerjaan kontraktor

Penilaian ini di lakukan untuk menyesuaikan besarnya jumlah biaya yang harus di bayar oleh pemilik kepada kontraktor sesuai dengan banyaknya pekerjaan yang telah di selesaikan.Dari penilaian ini di buatkan sertifikat pembayaran (Progrees certifikasi) untuk di bayarkan kepada kontraktor sesuai dengan pekerjaan yang di capai.

7. Pemeriksaan pekerjaan tambah / kurang

Pekerjaan ini terjadi apabila pemilik melakukan perubahan terhadap desain gambar sehingga bentuk aal berubah sesuai dengan keinginan pemilik ,dan untuk melakukan pekerjaan baru tersebut kontraktor berhak mengajukan pekerjaan tambahan/kurang tadi,setelah di setujui konsultan Arsitek,MK dan Quantity surveyor.

Harga penawaran di ajukan oleh kontraktor dan di periksa olah Quantity surveyor apa bila harga yang di tawarkan itu wajar dan jumlah kualitas material sesuai dengan perubahan pekerjaan yang terjadi.

8. Membuat perhitungan biaya akhir

Setelah proyek selesai ,Quantitysurvayor akan membuat perhitungan biaya akhir (Final account)berdasarkan biaya-biaya yang telah di keluarkan selama pelaksanaan proyek.

BAB III

KESIMPULAN

Dari uraian pada bab-bab sebelumnya membuktikan peranan Quantity surveyor dalam mengendalikan biaya proyek,ada beberapa tahap proses evaluasi pengendalian biaya proyek :

1. Perkiraan biaya awal (Budhet estimate),apakah masih sesuai terhadap nilai kontrak ?pada umumnya perkiraan biaya awal lebih besar dari nilai kontrak.

2. Nilai kontrak yang di tawarkan apakah memenuhi terhadap biaya akhir (final account),di sini besarnya pekerjaan tambahan sanggat berpengaruh sekali terhadap biaya akhir proyek.

3. Perkiraan biaya awal apakah masih sesuai dengan biaya akhir proyek ,tahap ini pengendalian biaya di pengaruhi oleh pekerjaan tambahan /kurang pada perhitungan biaya akhir (final account)

Peranan konsultan Quantity surveyor dalam tugasnya mengendalikan biaya proyek pada khususnya banyak di terapkan pada proyek-proyek swasta nasional dengan dana pinjaman bank nasional atau ada kaitanya kerjasama antara pemilik dengan pihak luar negeri,sehingga profesi Quantity surveyor yang berasal dari inggris ini masih sedikit sekali di terapkan di Indonesia sebagai badan yang ahli dalam mengendalikan biaya dalam keterlibatanya di proyek.

DAFTAR PUSTAKA

· Internet ;www.google.com (Quantity surveyor)

· Sri ,tugas akhi 1999 ITS “Penerapan Quantity surveyor dalam pembangunan gedung bertingkat”,Surabaya

· Huda miftahul 2008 “diktat professional skill”

Persatuan Insinyur Indonesia

BAB I
PENDAHULUAN

Persatuan Insinyur Indonesia merupakan wadah berhimpunnya para Insinyur Indonesia, untuk secara bersama meningkatkan kemanfaatannya bagi bangsa dan negara, serta penguasaan, pengembangan serta pemberdayaan iptek dan kompetensi, untuk nilai tambah kesejahteraan umat manusia pada umumnya, khususnya rakyat Indonesia.
Pada logo PII banyak makna yang terkandung di dalamnya yang tentunya makna tersebut merupakan makna terbentunya persatuan insinyur Indonesia yang mana makna – makna dari logo tersebut adalah sebagai berikut :
BENTUK
Sebagai titik tolak diambil bentuk-bentuk geometris, karena bentuk-bentuk ini merupakan bentuk-bentuk yang dihadapi oleh setiap sarjana teknik, dari jurusan apapun, kecuali itu bentuk geometris adalah sederhana, tetapi jelas dan tegas sesuai dengan kepribadian PII.
Segi empat adalah bentuk basis (oreon) dari segala bentuk. Setiap bentuk senantiasa dapat dikembalikan kepada segi empat. Maka tidak heran apabila lahir suatu aliran baru ( dalam seni pahat, seni rupa, arsitektur ) yang disebut kubisme yang mengembalikan segala bentuk kepada bentuk-bentuk asalnya yaitu bentuk kubus-kubus.
Selanjutnya segi empat dapat juga dipandang sebagai bidang rata prisma atau piramida. Semuanya itu merupakan benda-benda yang dihadapi setiap sarjana teknik. Lingkaran, kecuali bentuk yang diturunkan dari segi empat, dapat juga dipandang sebagai bola atau kerucut yang juga merupakan benda-benda yang dihadapi setiap sarjana teknik. Bulatan dengan segi empat ditengahnya selanjutnya mempunyai arti yang dalam sekali. Kata “bulat” mengandung arti sesuatu yang telah dipertimbangkan dengan masak, seperti dalam perkataan “kebulatan tekad” sedangkan kata “persegi” mengandung arti sesuatu yang sempurna. Jadi, sebuah segi empat yang dilingkari oleh sebuah lingkaran, telah cukup melambangkan seorang insinyur dalam cara kerja dan berpikirnya.
Dengan menerapkan ilmu ( persegi ) dan disertai dengan perhitungan yang eksak dan pertimbangan yang masak ( bulatan ), terciptalah karya-karya yang besar. Bulatan ditengah yang sangat mencolok dan merupakan pusat perhatian setiap pengamat, menunjukkan inti kehidupan ( teken des levens ), yaitu sumber segala daya hidup, sehingga ia melambangkan keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Maka kombinasi bentuk-bentuk yang sederhana di atas, dapat memancarkan arti yang besar sedangkan dengan kesederhanaan bentuk, masyarakat dengan mudah dapat mengenal lambang PII. Pengenalan adalah yang terpenting sedangkan pemahaman adalah soal yang kedua.
WARNA
Warna dasar diambil oranye, yaitu suatu warna yang diperoleh dari warna merah dan kuning, sehingga efeknya adalah lebih terang dari merah, tetapi lebih redup dari kuning. Di dalam ilmu warna, oranye terletak di daerah setengah terang, sedangkan putih terletak di daerah terang sekali, sehingga kombinasi oranye dengan putih pada lingkaran luar menghasilkan warna yang kontras tetapi tetapi tetap lembut. Untuk memberikan kontras kepada kedua kombinasi itu maka hitam yang terletak di daerah gelap adalah cocok sekali, sehingga secara keseluruhan, tercapailah kombinasi warna yang harmonis. Kecuali itu, warna kemerah-merahan yang dominan dengan mudah dapat dikenal dari jauh ( mencolok ). Dilihat dari arti warna-warna, maka putih berarti suci atau keluhuran budi atau semangat yang menyala-nyala atau juga dinamika. Kombinasi warna tersebut melambangkan dinamika PII dengan keluhuran budi dan penuh kepercayaan.
Jika ditinjau secara keseluruhan, maka kombinasi bentuk dan warna di atas mencapai keseimbangan yang harmonis ( balanced ), dan merupakan suatu komposisi bentuk dan warna yang seimbang, yang senantiasa dapat diletakkan di atas latar belakang dengan warna apapun tanpa mengurangi nilai dan artinya. Tafsiran kias dari hal ini ialah, bahwa PII berdiri teguh di atas kaki sendiri, berbakti untuk kemajuan Bangsa dan Negara melalui ilmu pengetahuan dan teknologi, tidak terpengaruh oleh sesuatu aliran politik kecuali politik negara yang berdasarkan Pancasila.
BAB II
ISI (BATANG TUBUH)

PROFIL PERSATUAN INSINYUR INDONESIA
I Nama
Persatuan Insinyur Indonesia – PII (The Institution of Engineers, Indonesia – IEI)
II Pendirian
Berdiri tanggal :
23 Mei 1952 di Bandung
Pendiri :
Ir. Djuanda Kartawidjaja
Dr. Rooseno Soeryohadikoesoemo
III Perangkat Organisasi
Dewan Penasehat
1. Dewan Insinyur
2. Pengurus Pusat
3. Majelis Kehormatan Insinyur
4. Dewan Pakar
5. Badan Pengkajian
6. BK dan atau BKT
7. Pengurus Wilayah
8. Pengurus Cabang
9. Badan Usaha dan Yayasan
10. Forum Anggota Muda (FAM-PII)
IV Mitra Organisasi
Perguruan Tinggi Teknik
1. Asosiasi Profesi
2. Industri/Perusahaan
V Keanggotaan Internasional
WFEO, World Federation of Engineering Organizations)
AFEO (ASEAN Federation of Engineering Organizations)
FEISEAP (Federation of Engineering Institute South East Asia and Pacific)
AEESEAP (Association of Engineering Education South East Asia and Pacific)
VI Ketua Umum PII, 1952 – 2009
1. Ir. Djuanda Kartawidjaja (1952-1954)
2. Ir. Kaslan Tohir (1954 – 1859)
3. Ir. Ukar Bratakusuma (1959 – 1961)
4. Ir. Suratman D. (1965 – 1969)
5. Dr. Ir. GM. Tampubolon (1969 – 1984)
6. Ir. Sumantri (1984 – 1989)
7. Ir. Aburizal Bakrie (1989 – 1994)
8. Ir. Arifin Panigoro (1994 – 1999)
9. Ir. Qoyum Tjandranegara (1999 – 2002)
10. Ir. Pandri Prabono, IPM (2002 – 2004)
11. Ir. Rauf Purnama (2004 – 2006)
12. Ir. Airlangga Hartarto, MMT., MBA (2006-2009)
VII Anggota PII
Anggota Biasa
a. Anggota terdaftar aktif : 7.000
b. Anggota lama : 3.500
Anggota yang tersertifikasi
1. Insinyur Profesional Pratama : 1084
2. Insinyur Profesional Madya : 619
3. Asean Engineer Register : 152
4. APEC Engineer Register : 80
VIII Agenda & Kegiatan PII
Kegiatan Tetap
1. Kongres Nasional
2. Rapat Anggota Cabang/Wilayah
3. Konvensi Nasional BK/BKT
4. Rapat Pimpinan Nasional
5. Temu Nasional
Kegiatan Rutin
1. Kursus Pembinaan Profesi
2. Diskusi berkala & pengkajian
3. Seminar/Workshop/Lokakarya, dll
4. Training Kompetensi & Profesi
5. Sertifikasi
6. Rapat Pengurus
Bakuan Kompetensi PII
(Competency Standards)
Keseimbangan menyeluruh antara :
1. Pengetahuan
2. Keahlian
3. Kebijaksanaan
4. Etika
Badan Kejuruan/ Badan Kejuruan Teknologi (BK/BKT) PII
1. Badan Kejuruan Sipil
2. Badan Kejuruan Elektro
3. Badan Kejuruan Kimia
4. Badan Kejuruan Mesin
5. Badan Kejuruan Fisika
6. Badan Kejuruan Industri
7. Badan Kejuruan Geodesi
8. Badan Kejuruan Lingkungan
9. Badan Kejuruan Teknologi Pertambangan
10. Badan Kejuruan Teknologi Pertanian
11. Badan Kejuruan Teknologi Kedirgantaraan
12. Badan Kejuruan Teknologi Kelautan
13. Badan Kejuruan Teknologi Perminyakan
Maksud dan Tujuan Didirikannya Persatuan Insinyur Indonesia (PII)
Adapun tujuan dari di bentuknya PII adalah sebagai berikut :
Menjadi organisasi profesi keinsinyuran secara nasional yang memiliki kesetaraan dan diakui internasional.
Memupuk profesionalisme korsa Insinyur Indonesia, meningkatkan jiwa serta semangat persatuan nasional dalam mendarma baktikan kompetensinya kepada kepentingan bangsa dan negara melalui peningkatan nilai tambah perwujudan cita-cita bangsa
Meningkatkan kepedulian dan tanggap profesional terhadap permasalahan, tantangan, serta peluang pembangunan daerah/nasional melalui optimasi pemberdayaan kompetensi professional secara integratif.
Mendorong profesionalisme dalam penguasaan, pengembangan, pemanfaatan ilmu pengetahuan dan inovasi teknologi untuk meningkatkan kemandirian dan kesejahteraan umat manusia pada umumnya dan khususnya rakyat Indonesia.

Fungsi dan Tugas Pokok
Fungsi PII adalah organisasi profesi yang merupakan wadah berhimpunnya para Insinyur Indonesia, untuk secara bersama meningkatkan kemanfaatannya bagi bangsa dan negara, serta penguasaan, pengembangan serta pemberdayaan iptek dan kompetensi, untuk nilai tambah kesejahteraan umat manusia pada umumnya, khususnya rakyat Indonesia dengan tugas pokok :
Meningkatkan peran dan tanggung jawab profesional profesi Insinyur Indonesia dalam pembangunan daerah, nasional, regional dan internasional.
Meningkatkan kompetensi professional Insinyur Indonesia berdaya saing internasional yang mampu menjawab tantangan dalam kancah lokal, nasional, regional dan internasional.
Menyelenggarakan kegiatan advokasi dan edukasi profesi keinsinyuran.
Membina dan mengembangkan kegiatan yang dapat mendorong terciptanya iklim untuk tumbuh dan berkembangnya profesi insinyur Indonesia.
Membangun wahana pengembangan dan Pembinaan Kompetensi Profesi Keinsinyuran Indonesia yang diakui dunia internasional dengan menyelenggarakan Program Pengembangan kompetensi Profesi Insinyur secara konsisten dan berkelanjutan.
Program Kerja
Persatuan Konsultan Indonesia (PII),mempunyai program kerja diantaranya program kerja tetap dan program kerja rutin
Program kerja tetap di antaranya sbb:
1. Kongres Nasional
2. Rapat Anggota Cabang/Wilayah
3. Konvensi Nasional BK/BKT
4. Rapat Pimpinan Nasional
5. Temu Nasional
Program kerja rutin diantaranya sbb
1. Kursus Pembinaan Profesi
2. Diskusi berkala & pengkajian
3. Seminar/Workshop/Lokakarya, dll
4. Training Kompetensi & Profesi
5. Sertifikasi
6. Rapat Pengurus
Kode Etik Insinyur Indonesia
Prinsip – Prinsip Dasar
1. Mengutamakan keluhuran budi.
2. Menggunakan pengetahuan dan kemampuannya untuk kepentingan kesejahteraan umat manusia.
3. Bekerja secara sungguh-sungguh untuk kepentingan masyarakat, sesuai dengan tugas dan tanggung jawabnya.
4. Meningkatkan kompetensi dan martabat berdasarkan keahlian profesional keinsinyuran.
Tuntutan Sikap
1. Insinyur Indonesia senantiasa mengutamakan keselamatan, kesehatan dan kesejahteraan Masyarakat.
2. Insinyur Indonesia senantiasa bekerja sesuai dengan kempetensinya.
3. Insinyur Indinesia hanya menyatakan pendapat yang dapat dipertanggung jawabkan.
4. Insinyur Indonesia senantiasa menghindari terjadinya pertentangan kepentingan dalam tanggung jawab tugasnya.
5. Insinyur Indonesia senantiasa membangun reputasi profesi berdasarkan kemampuan masing- masing.
6. Insinyur Indonesia senantiasa memegang teguh kehormatan, integritas dan martabat profesi.
7. Insinyur Indonesia senantiasa mengembangkan kemampuan profesionalnya.

BAB III
PENUTUP

Persatuan Insinyur Indonesia merupakan wadah berhimpunnya para Insinyur Indonesia, untuk secara bersama meningkatkan kemanfaatannya bagi bangsa dan negara, serta penguasaan, pengembangan serta pemberdayaan iptek dan kompetensi, untuk nilai tambah kesejahteraan umat manusia pada umumnya, khususnya rakyat Indonesia.
Dan dengan adanya wadah ini di harapkan banyak pemikiran pemikiran baru demi perkembangan dunia konstruksi di Indonesia dan dengan adanya organisasi tentunya bertujuan
Menjadi organisasi profesi keinsinyuran secara nasional yang memiliki kesetaraan dan diakui internasional.
Memupuk profesionalisme korsa Insinyur Indonesia, meningkatkan jiwa serta semangat persatuan nasional dalam mendarma baktikan kompetensinya kepada kepentingan bangsa dan negara melalui peningkatan nilai tambah perwujudan cita-cita bangsa
Meningkatkan kepedulian dan tanggap profesional terhadap permasalahan, tantangan, serta peluang pembangunan daerah/nasional melalui optimasi pemberdayaan kompetensi professional secara integratif.
Mendorong profesionalisme dalam penguasaan, pengembangan, pemanfaatan ilmu pengetahuan dan inovasi teknologi untuk meningkatkan kemandirian dan kesejahteraan umat manusia pada umumnya dan khususnya rakyat Indonesia.

DAFTAR ISI

WWW.GOOGLE.COM(ORGANISASI PFOFESI)
Huda miftahul.2008.Profesinal Skill.Surabaya

DAFTAR ISI
Daftar isi …………………………………………………………………………………… i
BAB I
Pendahuluan ………………………………………………………………………… 1-2
BAB II
Batang Tubuh (ISI) ……………………………………………………………….. 6-10
BAB III
Kesimpulan ………………………………………………………………………… 11
DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………………………….. 12

Rekayasa Nilai

Tugas Rek.Nilai

  • Trinela Fibrian Engga Setia (05 11 0008 )
  • Eko Bagus Sampurno (05 11 0004 )

STUDI KASUS PENETAPAN METODE REKAYASA NILAI

PADA PROYEK PEMBANGUNAN GEDUNG KAMPUS MUHAMMADIYAH MALANG

  1. KONSEP PENERAPAN REKAYASA NILAI PLAFON PROYEK PEMBANGUNAN KAMPUS MUHAMMADIYAH MALANG.

Penerapan metode rakyasa nilai pada Proyek pembangunan Gedung Kampus UMM dilakukan dengan menggunakan tahap-tahap dalam rencana kerja (job plan). Pada studi kasus ini, analisa yang dilakukan hanya terbatas pada plafon bangunan yang berada di Jln.Raya Tlogomas,No.246 Malang, dengan asumsi bahwa catchment area (daerah penangkapan) yang ada hanya meliputi Pada konstruksi Gedung tersebut..

Untuk menrapkan metode rekayasa nilai ini, pertama-tama dianalisa semua inforamasi yang berhubungan dengan proyek pembangunan gedung tersebut. Kemudian dianalisa fungsi dari masing-masing komponen sistem Gedung tersebut, sehingga dapat diidentifikasi fungsinya. Pada tahap selanjutnya dicari ide dan alternatif pada tahap penilaian setelah itu dua ide dan alternatif yang terbaik dikembangkan lagi pada tahap pengembangan. Pada tahap akhir diajukan usaha mengenai dua laternatif dan ide terbaik pada pemilik proyek.

Pada tahap-tahap rencana kerja terdapat keterkaitan satu dengan yang lainnya, misalnya bila pada tahap kreatif terjadi kekurangan data atau informasi, maka tim rekayasa nilai harus melengkapi kekurangan tersebut pada tahap onformasi terlebih dahulu.

2. TAHAP INFORMASI

Tahap informasi gunanya untuk pengumpulan data – data Proyek, pemilihan item dan menganalisa fungsi terhadap item – item pekerjaan terpilih.

2.1 Pengumpulan Data

Pengumpulan data berfungsi untuk mendapatkan basis informasi mengenai suatu system atauproyek.

    1. Informasi Untuk Proyek

  1. Informasi Proyek

  1. Nama Proyek : Proyek pembangunan gedung kampus III Unuversitas Muhammadiayah Malang ( UMM ).

  2. Lokasi : Jln.Raya Tlogomas,No.246 Malang.

  3. Pemilik Proyek : Universitas Muhammadiyah Malang.

  4. Tim Perencana : Komisi pembangunan Kampus Muhammadiyah Malang.

  1. Data Bangunan.

  1. Terdiri dari : 1 (satu) gedung

  2. Jumlah lantai : 6 (enam) lantai

  3. Tinggi gedung : 24 m

  4. Luas lokasi : 2280 m2

  1. Batas Proyek.

  1. Timur : Gedung kuliah bersama

  2. Barat : Stadion Olah raga

  1. Fungsi Gedung

  1. Sebagai ruang kuliah fakultas ekonomi dan kantor.

    1. Informasi Bangunan Plafon

  1. Rangka Plafon kamper 4/6 dan plafon gypsum

  2. Besi ф 6mm penggantung plafon

  3. baut 2-4’

  4. Besi penggantung.,Cat plafon

TAHAP INFORMASI ANALISA FUNGSI

Item pekerjaan : Plafon

Fungsi : Penutup langit-langit

No Komponen

Fungsi

jenis cost Worth
K.kerja K.benda
1. triplek menutup Langit-langit B 200,793,600.00 200,273,600.00
2. Rangka plafon menempelkan Gypsum S 263,541,600.00 0
3 baut menyatukan Metal furing S 10,756,600.00 0
4 Baut Gypsum Menempelkan gypsum S 14,342,400.00 0
5 Meni rangka plafon Menambah Keawetan S 23,275,324.80 0
6 Cat plafon Memperindah plafon S 72,608,400.00 0
7. Besi penggantung Mengantung plafon S 9,114,291.60 0
594,432,216.50 200,273,600.00

Berdasarkan analisa fungsi pekerjaan yang dapat di value engineering apabila cost atau worth > 1 Sedangkan sesuai pehitungan di atas di mana 594,432,216.50 : 200,273,600.00 =2,96

Itu artinya 2,96 >1 maka layak di lakukan VE.

  1. Tahap Kreatif

Dalam kasus ini kami akan melakukan beberapa tahap kreatif pada bagian plavon yang nantinya di maksudkan dapat meminimaliskan anggaran biaya pembangunan pada tahap bagian plafon,di sini kami memiliki beberapa usulan atau beberapa kreatif di antaranya sbb:

Desain Awal

-Besi penggantung,rangka kayu camper,penutup Gypsum,finising cat

Kreatif 1

-Besi penggantung,rangka kayu, enternit finising cat

Kretif 2

-Besi penggantung,rangka kayu,Gypsum 9mm,finising cat

Kretif 3

-Besi penggantung,rangka kayu,penutup GRC 4mm,finising Cat

Kretif 4

-Besi pengantung,metel furing ,penutup triplek 4mm,finising Cat

Kreatif 5

-Besi penggantung,krangka metal furing ,enternit ,finising cat

Kretif 6

-Besi penggantung,kerangka metal furing,penutup gypsum 9mm,finising cat

Kreatif 7

-Besi penggantung,kerangka metal furing,penutup GRC 4mm,finising cat

Kretif 8

-Besi pengantung,kerangka profil L ,penutup triplek 4mm ,finising cat

Kretif 9

-Besi penggantung,kerangka profil L,penutup enternit,finising cat

Kretif 10

-Besi penggantung,krangka profil L,penutup Gypsum 9mm,finising cat

Kreatif 11

-Besi penggantung,Kerangka profil L,penutup GRC 4mm,finising cat.
  1. Tahap Analisa

Untuk mempermudah dalam menganalisa di perlukan parameter yang di tetapkan sebagai berikut :

  1. Biaya → Sangat murah = 8

Murah = 6

Mahal = 4

Sangat mahal = 2

  1. Estetika

Sangat indah = 8

Indah = 6

Jelek = 4

Sangat jelek = 2

  1. Teknik pelaksanaan

Sangat mudah = 8

Mudah = 6

Sulit = 4

Sangat sulit = 2

  1. Keawetan

Sangat awet = 8

Cukup awet = 6

Tidak awet = 4

Sangat tdk awet = 2

  1. Perawatan

Sangat mudah = 8

Mudah = 6

Sulit = 4

Sangat sulit = 2

Tahap Analisa

Analiasa Keuntungan dan Kerugian

No

Alternatif

Keuntungan

Nilai

Kerugian

Nilai

Total

Rangking

1

A1

-Biaya murah

-Pelaksanaan mudah

-Perawatan mudah

-Estetika indah

7

6

6

6

Tidak awet

4

29

3

2

A2

-Keawetan cukup

-Pelaksanaan mudah

-Perawatan mudah

-Estetika indah

6

6

6

6

Mahal

5

29

4

3

A3

-Awet

-Pelaksanaan mudah

-Perawatan mudah

-Estetika indah

6

6

6

6

Mahal

3

27

4

A4

-Pelaksanaan mudah

-Perawatan mudah

-Estetika indah

-Sangat awet

6

6

6

8

mahal

4

29

2

5

A5

-Pelaksanaan mudah

-Estetika bagus

-Perawatan mudah

-Perawatan m

6

6

6

-mahal

-Tidak awet

4

4

26

6

A6

-Pelaksanaan mudah

-Estetika bagus

-Perawatan mudah

-Sangat awet

6

6

6

8

Mahal

4

30

1

7

A7

-Pelaksanaan mudah

-Estetika bagus

-perawatan mudah

-Sangat awet

6

6

6

8

Sangat mahal

2

28

8

A8

-Pelaksanaan mudah

-Estetika bagus

-Perawatan mudah

-Awet

6

6

6

6

Biaya sangat mahal

2

26

9

A9

-Pelaksanaan mudah

-Estetika bagus

-Perawatan mudah

6

6

6

-Biaya sangat mahal

-Tdk awet

2

4

24

10

A10

-Pelaksanaan mudah

-Estetika bagus

-Perawatan mudah

-Awet

6

6

6

6

Biaya sangat mahal

2

26

11

A11

-Pelaksanaan mudah

-Estetika bagus

-Perawatan mudah

-Awet

6

6

6

6

-Biaya sangat mahal

2

26

Dari analisa terdapat 3 alternatif :

  1. Alternatif 1 (B6) → Gypsum,dilapisi cat plafon,dengan rangka plafon metal furing

  2. Alternatif 2 (B4) → Plafon triplek,di lapisi cat plafon,dengan rangka plafon metal furing

  3. Alternatif 3 (B1) → Plafon interknit di lapisi cat plafon,dengan rangka plafonkayu kamper di lapisi meni,di gantung dengan besi penggantun

  1. Tahap Pengembangan (Development Phase)

Tujuan tahap ini adalah menyiapkan saran-saran dan rekomendasi tertulis untuk alternatif yang terpilih. Beberapa alternatif terbaik yang terpilih tadi dievaluasi kemungkinan pelaksanaan berdasarkan faktor ekonomis dan teknis. Hasil evaluasi disusun secara rinci sehingga menjadi laporan tertulis yang berisi rekomendasi-rekomendasi.

Langkah-langkah yang perlu diambil adalah:

  1. Membandingkan desain yang terpilih

  2. Membandingkan biaya desain

  3. Mendiskusikan rekomendasi

  4. Mendiskusikan implikasi/keadaan dan kebutuhan dalam pelaksanaan desain yang direkomendasikan

  5. Menghitung biaya siklus hidup

  • Analisa tahap pengembangan pada konstruksi plafon.

Dalam tahap ini memilih hanya satu alternatif yang dianggap terbaik untuk dilaksanakan, sedangkan yang lainnya bisa dipersiapkan untuk keperluan presentasi bila pilihan pertama tidak disetujui oleh pemilik.

Pada proses desain dilakukan usaha untuk mentransformasikan kebutuhan sistem plafon menjadi desain yang dapat memenuhi kebutuhan, yaitu sebagai akses dan pemberi keamanan kepada pengguna plafon, Kebutuhan tersebut sebagai fungsi utama yang dapat diuraikan sebagai berikut:

    1. Dasain

Desain awal Desain usulan

Besi Penggantung

Rangka kayu

Gypsum

Finising cat

Besi Penggantung

Rangka kayu

Plafon eternit

Finising cat

Dari hasil perubahan desing dan dilihat pula dari tahap rekomendasinya, maka dapat diperoleh hasil perhitungan biaya konstruksi desing awal dan desain alternatif pekerjaan tangga pada tabel berikut:

No

Uraian pekerjaan

Volume

Harga satuan

Jumlah harga

1

Alternatif 1

  1. Rangka plafon metal furing

  2. Plafon gypsum

  3. Cat plafon

11.952,00

11.952,00

11.952,00

Rp.28.000,00

Rp.18.150,00

Rp. 6.075,00

Rp.334.655.000,00

Rp.216.928.800,00

Rp. 72.608.400,00

Total

Rp.624.193.200,00

2

Alternatif 2

  1. Rangka Plafon metal furing

  2. Plafon triplek

  3. Cat plafon

11.952,00

11.952,00

11.952,00

Rp.28.000,00

Rp.16.800,00

Rp. 6.075,00

Rp.334.656.000,00

Rp.200.793.600,00

Rp. 72.608.400,00

Total

Rp.608.058.000,00

3

Alternatif 3

  1. Rangka plafon kayu kamper

  2. Plafon eternit

  3. Cat plafon

  4. Meni rangka plafon

  5. Paku 2”-4”

  6. Paku triplek

  7. Besi penggantung plafon

11.952,00

11.952,00

11.952,00

11.952,00

11.952,00

11.952,00

11.952,00

Rp.22.050,00

Rp.12.990,00

Rp. 6.075,00

Rp. 2.782,00

Rp. 900,00

Rp. 120,00

Rp. 762,57

Rp.263.541.600,00

Rp. 155.256.480,00

Rp. 72.608.400,00

Rp. 23.275.324,80

Rp. 10.756.800,00

Rp. 1.434.240,00

Rp. 9.114.291,60

Total

Rp.535.987.136,40

Hasil analsis biaya awal dari kretiga alternatif desain tangga adalah sebagai berikut :

  • Alternatif 1: Rp. 624.193.200,00

  • Alternatif 2 : Rp. 608.058.000,00

  • Alternatif 3 : Rp. 535.987.136,40

Biaya untuk Plafon pada anggaran proyek pembangunan Gedung Kampus Muhammadiyah Malang sebesar Rp. 594,432,216.50 dianggap sebagai coast. Maka ratio fungsi utama Pekerjaan plafon adalah sebagai berikut :

Untuk alternatif 1

Untuk alternatif 2

Untuk alternatif 3

Dalam rekayasa nilai, ratio antara 1 – 2, kecil kemungkinan terjadi pengehematan untuk studi analisis nil

    1. Plafon Gypsum

      Plafon Eternit

      100

      60

      80

      50

      90

      70

      90

      60

      85

      65

      85

      60

      60

      95

      65

      85

      75

      75

      60

      85

      85

      60

      Perbandingan pembiayaan

  1. Harga material

  2. Upah kerja

  3. Cara pekerjaan

  4. Sumber daya manusia

  5. Waktu pelaksanaan

  6. Waktu pekerjaan

  7. Kekuatan

  8. Keindahan

  9. Pengecatan

  10. Life time

  11. Biaya perawatan.

No

Yang Di bandingkan

Gypsum

Eternit

Alasan

Refrensi

1 Harga Material

100

60

- Brosur
2 Upah Kerja

80

50

Karna butuh keahlian khusus untuk memasang plafon berbahan Gypsum dan tidak semua orang bisa melakukan

Lapangan
3 Cara Pekerjaan

90

70

Membutuhkan ketelatenan,dan skill untuk mengerjkannya Lapangan
4 Sumberdaya manusia

90

60

Tidak semua orang bias melakukan ,karna butuh keahlian khusus Lapangan
5 Waktu Pelaksanaan

85

65

Lebih rumit ,butuh ketelatenan Lapangan
6 Waktu Pekerjaan

85

60

Pekerjaannya rumit Lapangan
7 Kekuatan

60

95

8 Keindahan

65

85

9 Pengecatan

75

75

Karna bahannya yang cendrung campuran yang banyak menyerap.
10 Life time

60

85

Bahannya yang mudah rusak apa lagi bila terkena air. Brosur
11 Biaya Perawatan

85

60

5. TAHAP PRESENTASI

Tahap ini merupakan tahap terakhir dari langkah kerja metode rekaya nilai. Tahap yang harus mempresentasikan hasil desain dalam bentuk nyata, yang meliputi :

  1. Memilih desain alternatif yang terbaik untuk diusulkan

  2. Membuat kesimpulan dan rekomendasi

  3. Membuat gambar-gambar atau sketsa dari desain yang dipilih

  4. Membuat biaya-biaya awal, pemeliharaan dan siklus hidup

  5. Menjelaskan tentang biaya penghematan

Berdasarkan analisis yang telah dilakukan, maka :

    • Diusulkan alternatif desain 1 (pipa beton tanpa tulangan) sebagai desain utama drainase perumahan Merapi View, sedangkan alternatif 2 (pasangan batu kali tanpa plesteran) sebagai cadangan.

    • Biaya awal :

      1. Alternatif 1 : Rp. 624.193.200,00

      2. Alternatif 2 : Rp. 608.058.000,00

      3. Alternatif 3 : Rp. 535.987.136,40

Dari hasil alternatif dapat dilihat bahwa alternatif desain plafon 3 menghemat Rp 58.445.080,10 di peroleh dari biaya awal di kurang biaya alternative (594,432,216.50 535.987.136,40).

  • Keuntungan Dan Kerugian
  • Bahan gypsum

  1. Untuk tahap pekerjaan Gypsum memerlukan SDM khusus

  2. untuk biaya setelah di surve di lapangan lebih mahal daripada eternit

  3. bahan gypsum lebih cepat rusak apabila terkena air,bahkan bahan dari gypsum akan langsung hancur bila terkena air

  4. Untuk waktu pekerjaan lebih cepat di banding menggunakan Eternit

  • Bahan Eternit

  1. Untuk pekerjaan tidak membutuhkan tenaga khusus,semua orang bisa melakukan.

  2. Biaya lebih murah di banding gypsum.

  3. Lebih kuat ,apa bila terkena air masihbisa mentoleransi tidak langsung hancur.

  4. Namun untuk pekerjaan lebih lambat di bandingkan pengerjaan gypsum.

  • Kesimpulan

Dari uaraian dan pembahsan diatas, dalam penerapan analsia rekayasa nilai terhadap Plafon pada Pembanguna gedung kampus UMM didapat beberpa kesimpulan sebagai berikut :

  1. Dari analsis keuntungan dan kerugian, analsis kelayakan dan analisis matriks didapat kan rangking alternatif-alternatif desain penutup atap dari Eternit,rangka kayu kamper,dan penggantungbesi.

  2. Dari analisis biaya awal, siklus hidup dan penghematan yang diperolah didapatkan usulan desain utama adalah Penutup gypsum,rangka kayu,penggantung besi dengan biaya awal sebesar Rp. 594,432,216.50 sedangkan buaya siklus hidup sebesar Rp. 535.987.136,40 dan penghematan sebesar Rp. 58.445.080,10

  3. Pada tahap desain jika ratio > 1 maka dapat dilakukan rekayasa nilai, jika tahap konstruksi ratio < 2 tidak perlu dilakukan rekayasa nilai.

DONK COUPLE CONTRACTOR

DONK COUPLE CONTRACTOR

VISI

  • Menjadi perusahaan jasa konstruksi nomor satu di Surabaya.

MISI

  • Memelihara keberhasilan komersial yang bertanggungjawab dalam perusahaan pemasaran global.

TUJUAN

  • Menjadi perusahaan jasa konstruksi paling menguntungkan di Indonesia pada tahun 2006 berdasarkan keunggulan dalam manajemen, teknologi, dan sumber daya manusia.

  • Membangun 15.000 unit RSS per tahun sejak tahun 2007 dengan model yang paling diminati, didukung teknologi terbaik, dilaksanakan oleh pekerja bangunan yang handal dan berkomitmen.

  • Mendorong secara terus-menerus batas-batas inovasi agar dapat membuat hidup orang lebih bergairah, lebih terpenuhi dan lebih mudah untuk mengelolanya serta kepuasan pelanggan total.

SASARAN :

  • Kami akan mencapai suatu hasil total yang secara konsisten akan menempatkan perusahaan kami diantara 125 organisasi puncak .

  • Kami akan secara terus-menerus meningkatkan persepsi pelanggan tentang nilai-nilai yang ditawarkan perusahaan kami.

  • Peningkatan tahunan. Selain itu, kami akan memantau kemajuan kami melalu pengumpulan opini karyawan, baik secara formal maupun non-formal, secara periodik.

RENCANA STRATEGI

  • Bertahan hidup dalam dunia kompetitif,

  • Membuat persepsi yang baik di benak konsumen, menjadi berbeda, mengenali kekuatan dan kelemahan pesaing, menjadi spesialisas, menguasai satu kata yang sederhana di kepala, kepemimpinan yang memberi arah dan memahami realitas pasar dengan menjadi yang pertama daripada menjadi yang lebih baik.

  • Menciptakan ruang pasar yang tidak ada lawannya

RENCANA OPERASIONAL :

  • Menentukan apa yang dikendalikan

  • Menetapkan standar

  • Mengukur kinerja

  • Membandingkan kinerja dengan standar

  • Menentukan alasan penyimpangan

  • Melakukan tindakan koreksi

visi dan misi

Visi :

  • Hari ini gagal pasti hari esok sukses

  • Buatlah pengalaman apapun sebagai suatu yang berharga

  • Jadilah diri sendiri

  • Kegagalan adalah awal dari kesuksesan

Misi :

  • Menjadi orang yang berguna bagi diri sendiri, keluarga besarku, dan masyarakat.

  • Menjadi penopang hidup bagi keluarga.

  • Menjadi pengusaha yang sukses

Industri jasa konstruksi

  • Trinela Fibrian E.S ( 05 11 0008 )/Kelas A

  • Eko Bagus Sampurno ( 05 11 0004 )/Kelas A

Makalah Industri Jasa Konstruksi

1. PENDAHULUAN

Dunia industri konstruksi mungkin adalah merupakan salah satu dunia yang paling dinamis dibandingkan dengan dunia industri lainnya, terutama dinegara yang sedang berkembang seperti di Indonesia.Kondisi pasar yang selalu berubah, periode konstruksi yang relatif sangat singkat, serta adanya fluktuasi harga material yang sangat sulit diprediksi membutuhkan suatu kemampuan manajerial yang handal serta pengetahuan yang baik . Peranan jasa konstruksi semakin meningkat tetapi belum optimal sebagaimana terlihat pada kenyataan bahwa pangsa jasa konstruksi asing di Indonesia masih cukup besar, juga proses pembangunan yang belum efektif dan efisien. Peran industri konstruksi dalam ekonomi juga dapat dilihat dari segi potensi lapangan kerja, kebutuhan material dan dampaknya, peraturan publik yang mendukung ekonomi, dan termasuk dampak perluasan industri konstruksi terhadap ekonomi, distribusi pendapatan bagi masyarakat lapisan bawah. Jalan, bendungan, pekerjaan irigasi, perumahan, sekolah, dan pekerjaan konstruksi lain adalah landasan fisik dimana usaha pengembangan dan peningkatan standar hidup dibentuk. Dimana pada sebagian besar negara berkembang, meningkatkan kapasitas dan kapabilitas konstruksi adalah penting, termasuk meningkatkan efisiensi biaya, waktu, dan kualitas pekerjaan konstruksi. Sebagai usaha yang menghasilkan produk berupa prasarana dan sarana fisik, industri konstruksi mempunyai peran yang sangat penting bagi pertumbuhan perekonomian nasional sehingga perlu diperhatikan berbagai permasalahan yang sering terjadi yang dapat mengakibatkan penurunan kinerja perusahaan jasa konstruksi. Tolak ukur kesuksesan perusahaan dapat dilihat dari kinerja perusahaan yang dihasilkannya. Semakin tinggi kinerja perusahaan tersebut maka akan semakin sukses juga perusahaannya.

2. Karakteristik Bisnis Jasa Konstruksi

Karakteristik jasa konstruksi adalah sangat spesifik sekali karena sifatnya sangat berbeda dengan jasa industri-industri yang lain. Sifat spesifik tersebut ditandai oleh faktor-faktor sebagai berikut :

1. Merupakan suatu bisnis dengan resiko yang sangat tinggi yang penuh dengan ketidak pastian dengan laba yang rendah.

2. Pasar sangat dikuasai oleh pembeli karena kepentingan pembeli sangat dilindungi dengan adanya : konsultan pengawas, bank garansi, asuransi, prosedtir kompetisi dan adanya sangsi-sangsi penalti terhadap kontraktor, dilain pihak kepentingan kontraktor hampir tidak dilindungi sama,sekali.

3. Harga jual atau nilai kontrak bersifat sangat konservatif Sedangkan biaya produksi mempunyai sifat yang sangat fluktuatif.

4. Standard mutu dan jadwal waktu pelaksanaan ditetapkan oleh pembeli.

5. Proses konstruksi yang selalu berubah akibat dari lokasi dan hasil karya perencanaan yang selalu berbeda karakteristiknya.

6. Reputasi dari kontraktor sangat mempengaruhi pengambilan keputusan dari pembeli.

3. INDUSTRI JASA KONSTRUKSI DI INDONESIA

Industri jasa konstruksi adalah industri yang mencakup semua pihak yang terkait dengan proses konstruksi termasuk tenaga profesi, pelaksana konstruksi dan juga para pemasok yang bersama-sama memenuhi kebutuhan pelaku dalam industri. Jasa konstruksi adalah jasa yang menghasilkan prasarana dan sarana fisik. Jasa tersebut meliputi kegiatan studi, penyusunan rencana teknis/rancang bangun, pelaksanaan dan pengawasan serta pemeliharaannya. Mengingat bahwa prasarana dan sarana fisik merupakan landasan pertumbuhan sektor-sektor dalam pembangunan nasional serta kenyataan bahwa jasa konstruksi berperan pula sebagai penyedia lapangan kerja, maka jasa konstruksi penting dalam pembangunan nasional.

Sebelum terjadi krisis moneter, sektor jasa konstruksi mengalami pertumbuhan yang cukup fantastik. Sehingga tak heran apabila sektor itu disebut sebagai motor penggerak sektor perekonomian yang utama.

4. KONDISI PERUSAHAAN JASA KONSTRUKSI DI INDONESIA

Saat ini kontraktor nasional masih sangat kesulitan untuk bersaing dengan kontraktor asing yang mampu memperoleh finansial dengan bunga rendah di negaranya. Sementara kontraktor Indonesia, fasilitas jaminan bank-nya saja masih sering ditolak oleh pemilik proyek di luar negeri. Pemberian fasilitas khusus bagi kontraktor yang berupaya mendapatkan tender diluar negeri sudah banyak dilakukan di negara-negara lain seperti Singapura, Malaysia, Cina dan Korea, dengan harapan usaha jasa konstruksinya dapat menghasilkan devisa bagi negara. Fasilitas tersebut disebabkan kontraktor di Korea atau Jepang digandeng investor swasta maupun pemerintah dari negaranya sendiri.

Selain itu ada beberapa kelemahan kontraktor nasional, antara lain dalam hal manajemen organisasi. Kelemahan lainnya adalah minimnya pengalaman terjun ke luar negeri, sehingga bisa dikatakan bahwa “lapangan” di mancanegara itu masih asing bagi kontraktor nasional. Namun kelemahan ini bisa diatasi dengan beberapa cara, misalnya dengan menjalin kerja sama kemitraan dengan perusahaan kontraktor asing, memperbaiki profesionalitas dan manajemen usaha, serta terus menerus mempelajari karakteristik bisnis konstruksi di berbagai negara.

Untuk lebih mencermati kondisi jasa konstruksi Indonesia dalam era globalisasi tersebut maka dilakukan proses analisis SWOT. Dimana era globalisasi akan membuka selebar-lebarnya kesempatan kepada kontraktor lain untuk berusaha di Indonesia, SWOT perusahaan jasa konstruksi Indonesia dapat dilihat pada Tabel 1

Tabel 1. SWOT Perusahaan/Industri Jasa Konstruksi Indonesia

STRENGTH (KEKUATAN)

WEAKNESS (KELEMAHAN)

OPPORTUNITY (KESEMPATAN)

THREAT (ANCAMAN)

· Jumlah tenaga kerja khususnya tingkat proyek banyak· Tingkat pendidikan perusahaan jasa konstruksi sampai level sarjana sudah banyak

· Banyak perusahaan yang sudah GO PUBLIC

· Manajemen yang tidak efisien· Keterbatasan dana

· Keterbatasan teknologi

· SDM yang belum memadai

· Tingginya bunga pinjaman

· Daya saing industri konstruksi nasional

· Kesempatan kerja untuk peningkatan taraf hidup masyarakat· Arena pengembangan usaha

· Menjalin kerja sama dengan negara lain

· Kompetensi tenaga ahli· Sistem riset dan pengembangan

· Sistem regulasi

· Kapasitas perusahaan jasa konstruksi

· Sertifikasi

· Dukungan sektor lain

5. INDIKATOR KINERJ A PERUSAHAAN JASA KONSTRUKSI

Tolak ukur kesuksesan perusahaan khususnya perusahaan jasa konstruksi dapat dilihat dari kinerja perusahaan yang dihasilkannya. Semakin tinggi kinerja perusahaan tersebut maka akan semakin sukses juga perusahaannya. Adapun indikator perusahaan tersebut dapat dikatakan sukses dilihat dari kemampuan perusahaan tersebut untuk mendapatkan laba, kemampuannya untuk terus tumbuh dan berkembang, kemampuannya untuk mendapatkan proyek yang berkelanjutan serta yang tidak kalah penting adalah kemampuan perusahaan tersebut untuk bersaing dengan perusahaan lain baik dari dalam maupun luar negeri.

6. MASALAH YANG DIHADAPI KONTRAKTOR NASIONAL

Masalah yang dialami oleh kontraktor nasional kita seperti halnya dengan yang terjadi disemua negara berkembang lainnya adalah 5 M’s yaitu : Management, Money, Man Power, Materials dan Machines.

1. Management

manajemen dari sebagian besar kontraktor nasional adalah masih menggunakan sistem “one man show”‘. Top management kurang melakukan pendelegasian wewenang ke level yang lebih bawah ditingkat lapangan, hal ini disebabkan oleh karena adanya rasa kurang percaya terhadap manajemen tingkat lapangan, yang pada umumnya dipegang oleh sarjana-sarjana yang masih sangat muda dan belum berpengalaman.

2. Money

Masalah finansial sering kali menjadi peyebao kegagalan suatu kontraktor didalam penyelesaian proyeknya. Ketidak lancaran cash flow di lapangan dapat menyebabkan sangat menurunnya produktifitas team lapangqan walaupun dipimpin oleh seorang project manager yang sangat berpengalaman sekali. Hal ini terjadi apabila advance payment dan / atau monthly payment digunakan untuk pendanaan kebutuhan yang lain atau proyek lainnya. Apabila kantor pusat tidak dapat menjamin kelancaran cash flow lapangan, maka dapat dipastikan ketepatan jadwal proyek tidak pernah akan tercapai dan bahkan kemungkinan proyek tidak akan pernah dapat diselesaikan. Masalah cash flow disamping karena Adanya mismanagement di intern kontraktor sendiri juga seringkali dipengaruhi oleh faktor ekstern seperti, kenaikan harga bahan bangunan yang sangat berbeda jauh dengan harga pada saat penawaran seperti halnya semen, multiplex, kayu, gasoline dan yang paling ditakuti adalah horor devaluasi. Dari hal ini tampak bahwa diantara para pelaku industri konstraksi, kontraktor adalah pihak yang mempunvai resiko kerugian yang paling tinggi, jadi tidak benar anggapan selama ini bahwa kontraktor adalah pihak yang paling menikmati booming industri konstruksi.

3. Manpower

Keefektifan dari suatu organisasi sangat tergantung kepada pendaya-gunaan tenaga kerja secara efisien. Suatu organisasi kontraktor yang besar membutuhkan suatu sistem perencanaan tenaga kerja yang dapat menjamin bahwa kebijakan didalam ketenagakerjaan adalah untuk menunjang tujuan utama utama organisasi,

Di dalam suatu organisasi yang baik, maka personnel management selalu mempunyai record mengenai seluruh staff yang telah direkruit, sejarah jenjang karier termasuk promosi, transfer training yang telah diterima, kwalifikasi dan sebagainya dengan tujuan untuk menyesuaikan antara human resources yang tersedia dengan kebutuhan organisasi proyek dan organisasi kontraktor secara keseluruhan. Dengan suatu perencanaan penempatan serta dukungan personnel yang berpengalaman, maka sumber daya manusia ini akan dapat ditransformasikan kepada suatu aktifitas fisik untuk kepentingan baik pemilik proyek maupun untuk perusahaan.

4. Materials

Pada beberapa dekade yang silam tepatnya sebelum terjadi perang dunia ke II, mayoritas pembangunan proyek-proyek bangunan sangat tergantung pada tukang-tukang ahli dimana kecepatan pembangunan masih seimbang dengan jumlah tenaga ahli yang tersedia. Namun setelah perang berakhir, maka kecepatan program pembangunan kembali dari prasarana yang hancur melebihi kapasitas tenaga ahli yang tersedia. Hal mana mungkin sama dengan yang dialami oleh para kontraktor nasional kita saat ini. Oleh karena itu maka timbul suatu pemikiran untuk mengembangkan tehnik-tehnik baru didalam pmbangunan proyek yaitu dengan menggunakan material yang dapat dipasang secara singkat dan kurang membutuhkan tenaga ahli, pada umumnya menggunakan peralatan secara intensive untuk mempercepat pemasangan material tersebut karena biasanya sulit untuk ditangani secara manual. Dari segi material tampaknya tehnologi konstruksi di Indonesia sudah dapat disejajarkan dengan negara-negara maju lainnya.

7. HARAPAN TERHADAP PERGURUAN TINGGI SEBAGAI PEMASOK SUMBER DAYA MANUSIA TINGKAT MENENGAH KEATAS.

Evaluasi ini sifatnya benar-benar subjective semata-mata benar-benar subjective semata-mata berdasarkan pengalaman kami semata sehingga mungkin tidak bisa dibuat generalisasi. Dari segi kwalitas tampak bahwa pada umumnya fresh graduate S1 lebih siap untuk bekerja dibidang perencanaan dibandingkan dibidang pengawasan (CM) dan dibidang pelaksanaan. Hal ini mungkin diakibatkan oleh karena sebagian besar para dosen mempunyai pengalaman yang luas di bidang perencanaan. Para tenaga SI yang direkrut umumnya sangat kurang menguasai masalah-masalah yang berhubungan dengan pelaksanaan suatu proyek yaitu antara lain :

1. Schedulling: works, manning and materials

2. Construction methods

3. Fleet analysis

4. Productivity analysis

5. Contract administration

6. Quality assurance

7. Etc.

8. KESIMPULAN

Dari hasil diatas dapat disimpulkan bahwa kinerja perusahaan jasa konstruksi di Indonesia terdiri dari:

- Kinerja profitability yang mempunyai indikator likuiditas, profitabilitas dan pertuumbuhan.

- Kinerja growth yang mempunyai indikator profit, peningkatan teknologi informasi dan peningkatan kompetensi SDM.

- Kinerja sustainability yang mempunyai indikator produkvitas, kepuasan klien dan efisiensi biaya.

- Kinerja competitiveness yang mempunyai indikator penerapan teknologi, biaya dan kompetensi SDM.

- Industri konstruksi pada saat ini dan dimasa 5 tahun mendatang masih akan terus mengalami pertumbuhan dan menjadikan Indonesia suatu pasar yang menarik kontraktor (dan konsultan) dari luar negeri.

- Masalah utama yang dihadapi oleh para kotraktor nasional didalam era pasar bebas terutama adalah factor : sumber daya manusia dan finansial.

- Untuk mengatasi masalah sumber daya manusia maka diperlukan suatu komitmen bersama antara pemerintah, asosiasi profesi, para pelaku dunia jasa konstruksi dan Perguruan Tinggi guna meningkatkan sumber dava manusia mulai dari tingkat tukang hingga tingkat manager melalui lembaga pendidikan dan latihan hingga ke Daerah-Daerah Tingkat II.

- Diperlukannya suatu sertifikasi dan akreditasi bagi tenaga lapangan mulai dari tukang ahli hingga manajer proyek serta perlunya dibentuk suatu asosiasi tukang ahli yang telah mempunyai sertifikat (apabila mungkin juga asosiasi project manager) untuk mensuplai kebutuhan para kontraktor.

- Untuk mengatasi masalah finansial, maka diperlukan suatu keberpihakan pemerintah terhadap kontraktor nasional didalam kompetisinya dengan kontraktor asing yaitu memberikan subsidi suku bunga pinjaman selain itu diharapkan kontraktor nasional dapat memanfaatkan : pasar modal, modal ventura ataupun dengan melakukan aliansi strategis.

- Peranan Pemerintah tetap sangat besar pengaruhnya terhadap daya saing kontraktor nasional yaitu dengan melalui perangkat peraturan-peraturan dan perundang-undangan yang secara implisit memberikan perlindungan terhadap kepentingan kontraktor nasional.

- Peranan Perguruan Tinggi akan sangat besar bila dapat menghasilkan sarjana-sarjana tehnik yang siap pakai untuk kepentingan pelaksanaan suatu proyek. yaitu dengan mengubah kurikulum yang tadinya cenderung kearah perencanaan menjadi lebih seimbang kearah pelaksanaan.

Nie blog gue loh

Bagus g c…

coba doankz

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.