SOP Memasang Dinding Batu Bata

Trinela Fibrian Engga Setia 05 11 0008

Eko Bagus Sampurno 05 11 0004

SOP MEMASANG DINDING BATU BATA DENGAN PERKUATAN ANGKUR“

I. INFORMASI LATAR BELAKANG

1. Pendahuluan

Pasangan batu bata adalah kumpulan batu bata yang disusun dan disatukan

dengan menggunakan adukan mortar sebagai bahan perekat, sehingga

membentuk konstruksi pada bagian bangunan tertentu. Salah satu komponen

bangunan yang biasa dibuat dari pasangan batu bata adalah dinding. Pada

bangunan sederhana (rumah tinggal dan bangunan sederhana satu lantai

lainnya), dinding berfungsi sebagai komponen struktur untuk menyangga

beban-beban bangunan yang ada di atasnya dan sekaligus berfungsi sebagai

partisi (pembatas/penyekat antar ruangan). Pada bangunan gedung ber-

tingkat, umumnya struktur utama berupa struktur rangka/portal yang dibuat

dari material beton bertulang atau baja, sedangkan tembok hanya berfungsi

sebagai penyekat/partisi.

Pasangan dinding batu bata, menurut ketebalannya, dapat dibedakan

menjadi: pasangan setengah batu, pasangan satu batu, dan pasangan satu

setengah batu. Dalam perkembangannya, pasangan satu batu dan satu

setengah batu tidak lagi digunakan, karena beberapa alasan mendasar, di

antaranya:

a. Pada bangunan modern, dinding lebih difungsikan sebagai

partisi/penyekat dan bukan struktur utama yang menahan beban

b. Pekerjaan rumit, butuh waktu lebih lama, dan biaya konstruksi mahal.

c. Pasangan batu bata bersifat getas, dan pasangan satu batu maupun satu

setengah batu sangat berat, sehingga akan membahayakan jika terjadi

gempa bumi.

d. Bangunan tahan gempa harus bersifat ringan dan daktail, sehingga

perkuatan beton bertulang menjadi kunci utama dan bukan pada ketebalan

dindingnya.

Atas dasar alasan-alasan di atas, pembahasan dalam modul ini hanya

ditekankan pada pasangan setengah batu dengan perkuatan rangka beton

bertulang untuk bangunan tahan gempa.

2. Dinding bangunan sederhana tahan gempa

Unsur-unsur pembentuk pasangan dinding/tembok terdiri dari:

a. bahan pengisi pasangan, yang dapat berupa bata merah, batako ataupun

bataton.

b. bahan perekat pasangan (mortar 1 : 4), yang merupakan campuran antara

air, pasir, semen, dan bahan tambah, jika diperlukan.

Bata yang ideal mempunyai ukuran 6 x 12 x 24 cm, tetapi bata yang sekarang

diproduksi mempunyai ukuran yang lebih kecil. Untuk mengetahui kekuatan

bata dapat dilakukan pengujian secara sederhana, yaitu dengan cara sebagai

berikut: Sebuah bata diletakkan di atas dua bata yang lain (setiap bata

penumpu menahan ± ¼ panjang bata yang diuji), sehingga ± ½ panjang bata

yang diuji menjadi bebas (tidak tertumpu), kemudian dipijak dengan satu

telapak kaki orang dewasa. Apabila bata pecah, maka kualitasnya tidak baik.

Selain itu, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi, yaitu:

a. Mempunyai bentuk yang persegi, lurus, dan seragam.

b. Dibakar pada suhu yang tepat, sehingga secara visual terlihat berwarna

merah tua.

c. Tidak retak dan tidak cacat (tidak sompel).

d. Tahan bila direndam.

Pada daerah rawan gempa, agar diperoleh hasil pasangan dinding yang

memenuhi kualifikasi teknis dan estetis, perlu diperhatikan syarat

ikatan/susunan batu bata berikut:

a. Hubungan batu bata dibuat sesederhana mungkin agar mudah

dilaksanakan.

b. Menghindari penggunaan batu bata yang ukurannya kurang dari setengah

batu bata utuh.

c. Tidak boleh ada siar tegak yang segaris lurus untuk dua lapisan berturut-

turut atau lebih (idealnya terdapat selisih setengah bata untuk antar lapis).

d. Siar tegak dan datar harus benar-benar lurus.

e. Seluruh siar terisi penuh adukan.

f. Tebal siar minimum 8 mm, maksimum 15 mm, dengan ketebalan siar yang

ideal berkisar 10 mm.

g. Adukan siar yang digunakan dibuat dengan komposisi perbandingan

volume 1 semen : 4 pasir, yang diaduk dengan ½ air (jika pasir dalam

kondisi jenuh kering muka)

h. Setiap luasan maksimum 9 m

2

harus diperkuat/dibingkai dalam struktur

rangka (balok dan kolom).

Gambar 1. Konsep perkuatan dinding dengan rangka beton bertulang

i. Dinding bata dan kolom disatukan dengan angkur berdiameter minimum

10 mm dengan panjang penyaluran/tertanam di setiap bagian minimal 40

cm.

j. Hasil akhir permukaan dinding rata dan tegak.

Angkur yang telah dibentuk, siap untuk digunakan dalam tahap pemasangan

dinding batu bata. Pemasangan angkur sebagai perkuatan hubungan dinding

tembok dengan kolom dapat dilakukan dengan cara berikut:

a. Tembok dipasang terlebih dahulu, sehingga angkur dapat diletakkan

secara langsung di atas setiap 6 (enam) lapis pasangan batu bata, dan

menembus rangkaian tulangan kolom yang belum dicor. Apabila pasangan

dinding batu bata telah mencapai ketinggian yang diinginkan, selanjutnya

sisi muka dan belakang kolom ditutup dengan bekisting dan dilakukan

pengecoran.

b. Rangkaian tulangan kolom disiapkan dan dipasang dalam bekisting sesuai

dengan gambar kerja. Selanjutnya sisi-sisi bekisting yang akan dipasang

angkur, diukur dan dilubangi/dibor, kemudian dilakukan pengecoran.

Setelah 14 hari, bekisting dibuka, dan dilanjutkan dengan pemasangan

dinding batu bata.

c. Pada proyek berskala besar ataupun pada kasus perbaikan bangunan

yang telah ada (existing structures), yang dilaksanakan dengan peralatan

yang memadai, pemasangan angkur dapat juga dilakukan pada kolom

yang telah selesai proses pembetonannya. Kolom beton bertulang

dilubangi/dibor (pengeboran harus dilakukan dengan cermat dan dihindari

kerusakan pada tulangan terpasang), kemudian dilanjutkan dengan

pemasangan dinding batu bata. Cara ini sangat jarang dilaksanakan,

karena selain memerlukan peralatan yang memadai, juga harus dilakukan

dengan teliti, agar selama pengeboran tidak mengenai baja tulangan, dan

tidak merusak/mengurangi kekuatan lekatan antara baja tulangan dengan

beton di sekelilingnya.

3. Tata cara pelaksanaan pekerjaan

Untuk memperoleh hasil pekerjaan yang optimal dan memenuhi standar

teknis, pada dinding batu bata yang sedang dikerjakan (konstruksi baru), perlu

dipersiapkan alat dan bahan sebgai berikut:

a. Alat:

1) Waterpass

2) Benang

3) Unting-unting

4) Siku rangka

5) Meteran

6) Profil

7) Sendok spesi

8) Pensil

9) Pemotong bata

10)Palu

11)Bak spesi

12)Ember/sekop

13)Cangkul

b. Bahan:

1) Batu bata (memenuhi syarat seperti dijelaskan sebelumnya).

2) Angkur terbuat dari baja tulangan diameter 10 mm sampai 12 mm

(kondisi baik, tidak berkarat, tidak berminyak, bukan besi bekas).

3) Semen (PC kemasan 50 kg atau PPC kemasan 40 kg, tidak mengeras,

kering, warna seragam).

4) Pasir (berasal dari sungai/darat, tidak mengandung lumpur dan bahan

organik).

5) Air (layak minum, tidak berasa, tidak berwarna, tidak berbau).

c. Langkah kerja:

1) Persiapan pekerjaan

a) Mempelajari gambar kerja.

b) Mengenakan pakaian serta perlengkapan kerja lainnya.

c) Membuat adukan dengan komposisi 1 semen : 4 pasir, yang diaduk

dengan ½ air (jika pasir dalam kondisi jenuh kering muka),

kemudian meletakkannya dalam kotak spesi.

d) Mempersiapkan alat dan batu bata yang diperlukan, sebaiknya bata

direndam terlebih dahulu, agar tidak terlalu kering dan tidak

menyerap air spesi sehingga diperoleh kekuatan lekat yang baik.

e) Menentukan dan mengatur tata letak pekerjaan dengan tujuan:

(i) Menghindari kecelakaan kerja

(ii) Tersedianya ruang gerak yang cukup leluasa saat bekerja

(iii)Meningkatkan produktivitas

(iv)Menghindari tercecernya material yang bisa mengakibatkan

pemborosan

(v) Menambah semangat kerja

2. Pelaksanaan pemasangan batu bata

Agar diperoleh hasil pasangan bata yang baik, dalam memasang satu buah

batu bata diusahakan cukup hanya sekali mengambil dan meletakkan

adukan/spesi. Cara meletakkan batu bata didorong mendatar seperti pesawat

terbang mendarat, sehingga ujung batu bata akan mendorong adukan dan

akhirnya mengisi siar tegak. Cara ini memerlukan sendok yang cukup

panjang, dan sebaiknya digunakan sendok spesi segitiga. Langkah kerja

pemasangan batu bata, sebagai pasangan dinding untuk rumah dan

bangunan tahan gempa, adalah sebagai berikut:

a. Mempersiapkan alat dan bahan secukupnya di tempat yang aman dan

mudah dijangkau.

b. Menentukan ukuran pekerjaan dan memasang profil (terbuat dari kaso 5/7

cm) di luar kedua ujung pasangan sejauh 50 cm, dan tegakkan profil

dengan menggunakan unting-unting

c. Mengukur ketinggian lapis pertama pasangan dinding dengan pedoman

elevasi sloof dan lantai di bawahnya dengan selang plastik berisi air atau

water pass.

d. Menentukan ketebalan setiap lapis

pasangan bata dengan

memperhitungkan tebal bata dan siar.

e. Memberikan tanda untuk setiap ketinggian lapisan pasangan bata, dari

lapis ke-1 sampai ke-20, pada kedua profil yang telah dipasang.

f. Merentangkan benang dan mengikat pada tanda elevasi di kedua profil

g. Memasang lapisan batu bata dengan mengontrol kelurusan ke arah

horisontal dan ketegakan ke arah vertikal pada setiap lapisannya.

h. Memindahkan benang ke tanda elevasi lapis kedua, setelah lapis pertama

selesai, dan melakukan pemasangan selanjutnya.

i. Memasang angkur dengan panjang penyaluran/tertanam minimal 40 cm,

setiap 6 lapis batu bata pada bidang dinding.

j. Mengulangi langkah-langkah pemasangan di atas sampai pekerjaan

selesai.

k. Membersihkan ruang kerja dari adukan yang tercecer, cucilah alat dan

kembalikan ke tempat semula.

3. Perawatan pasangan batu bata

Untuk mecapai hasil yang optimal, selama proses pengerasan bahan adukan

diperlukan kelembaban yang memadai. Oleh sebab itu, perlu dilakukan

perawatan dengan menyiram dinding secara berkala selama minimal 7

sampai 14 hari.

4. Tata cara pemasangan bataton (Hollow Concrete Block)

Selain batu bata, material lain yang dapat digunakan sebagai alternatif untuk

komponen dinding adalah bataton (bata terbuat dari beton). Untuk

memperoleh kualitas bangunan yang baik, harus digunakan bataton yang

memenuhi standar, tidak mudah retak dan pecah. Di samping itu, juga perlu

diperhatikan cara pemasangan bataton yang diperkuat dengan penulangan

arah vertikal dan horisontal sebagai berikut:

a. Memasang lapisan mortar setebal 1 cm di atas permukaan sloof.

b. Melubangi dasar blok beton (bataton) dan menempatkannya dalam posisi

terbalik (lubang bataton menghadap ke bawah) di atas sloof, dengan

melewati besi tulangan kolom dan besi tulangan dinding di sebelahnya.

Rongga-rongga dari blok tersebut diisi dengabeton dan kemudian

dipadatkan.

c. Pada bagian sudut bataton, setiap 2 (dua) lapis bataton dipasang angkur

berdiameter 8 mm.

d. Pemasangan blok-blok bataton dilanjutkan sampai ke kolom dari ujung

dinding yang lain. Proses pemasangan dilanjutkan dengan cara yang

sama dengan proses pada butir c di atas.

e. Untuk lapisan kedua dari blok-blok pembentuk dinding, pertama-tama

diberi lapisan mortar setebal 1 cm di atas Iapisan pertama, kemudian

memasukkan lagi sebuah blok sudut melewati besi tulangan vertikal, tetapi

sekarang posisinya diputar 90o

f. Untuk setiap lapisan ke-4 (empat), dipasang 1 besi tulangan berdiameter 8

mm, dari satu ujung dinding ke ujung dinding yang lain, dan mengkaitkan

tulangan horisontal tersebut ke tulangan vertikal pada kolom-kolom

dengan cara penyambungan sesuai gambar. Agar praktis, sebaiknya

angkur berdiameter 8 mm tersebut disambung di tengah dinding, dan

saling berimpitan sepanjang 350 mm.

g. Setelah lapisan kesembilan, harus dilakukan penyambungan bagian paling

atas dari tulangan vertikal dengan bagian paling bawahnya. Untuk itu,

harus dibuat sebuah perancah yang ketinggiannya diatur mengikuti

kemajuan pekerjaan pemasangan dinding.

h. Pada puncak dinding harus dipasang balok atas (ring balk) dengan 4 besi

tulangan berdiameter 8 mm. Tulangan vertikal dari dinding dan kolom-

kolom harus dibuat saling berhubungan serta bersambungan dengan

tulangan horizontal dari balok atas. Beton yang dituang ke dalam balok

atas harus diratakan dan dihaluskan.

Gambar 7. Pemasangan bagian atas dinding bataton

i. Sebelum adukan beton dituang ke dalam balok atas, angkur-angkur yang

akan dipakai untuk memasang/ mengikat rangka atap kayu terlebih dahulu

ditempatkan, sesuai posisi yang direncanakan dalam gambar kerja.

5. Kesehatan dan keselamatan kerja

Hal-hal yang perlu diperhatikan untuk menjamin kesehatan dan keselamatan

kerja antara lain:

  1. Memakai pakaian kerja dengan lengkap dan benar

b. Membersihkan tempat kerja dari kotoran yang mengganggu.

c. Menempatkan alat-alat dan bahan-bahan di tempat yang mudah dijangkau

dan aman untuk mendapatkan ruang kerja yang ideal.

d. Menggunakan alat sesuai dengan fungsinya.

e. Tinggi pasangan dinding yang dikerjakan maksimum 1 meter agar tidak

roboh.

f. Menggunakan perancah/steger yang cukup kokoh untuk pemasangan

dinding yang lebih tinggi.

g. Tidak memegang spesi dan terlalu sering mencuci tangan saat bekerja

memasang bata, karena dapat mengakibatkan iritasi pada kulit telapak

tangan.

  1. h. Bekerja dengan teliti, hati-hati dan penuh konsentrasi

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: